Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Filter Selfie vs Realita: Dampak Teknologi pada Kesehatan Mental Remaja Perempuan

Mahsun Nidhom • Sabtu, 19 April 2025 | 20:00 WIB
Bukan salah filter, tapi jangan sampai lupa cara sayang sama diri sendiri.
Bukan salah filter, tapi jangan sampai lupa cara sayang sama diri sendiri.

Trenggaleknjenggelek - Di era selfie dan filter TikTok yang bisa menyulap wajah dalam hitungan detik, standar kecantikan pun ikut berubah.

Kulit mulus tanpa pori, hidung mancung, dagu lancip, bahkan mata berbinar bak boneka, semua bisa didapat hanya dengan satu swipe.

Tapi, apa jadinya kalau wajah hasil filter mulai terasa lebih nyata dibanding wajah sendiri? Inilah dilema yang dialami banyak remaja perempuan hari ini, antara citra diri dan citra digital.

Baca Juga: Walid Nak Dewi Boleh, Sebuah Pelecehan Verbal dalam Tabir Ketaatan?

Ketika Filter Jadi Standar

Bukan rahasia lagi, aplikasi seperti Instagram dan TikTok punya filter yang memperhalus wajah dan menyamakan bentuk fitur wajah ke satu standar kecantikan global.

Dari Sabang sampai Merauke, hasilnya kurang lebih sama. V-shape, glass skin, dan mata besar seperti anime.

Sayangnya, filter yang awalnya dianggap sebagai "mainan lucu-lucuan" ini makin lama justru membentuk ekspektasi baru termasuk terhadap diri sendiri.

Menurut survei dari Mental Health Foundation, sekitar 1 dari 3 remaja perempuan merasa kurang puas terhadap wajah mereka setelah menggunakan filter secara rutin.

Di Indonesia sendiri, banyak remaja mulai mencoba prosedur kecantikan seperti filler, botox, atau treatment instan lainnya.

Karena merasa tidak puas dengan penampilan mereka di dunia nyata terutama setelah terbiasa melihat wajah sempurna versi filter.

Baca Juga: Abon Ikan Channa, Inovasi Olahan Pangan Bernilai Tinggi

Gangguan Citra Tubuh Digital

Fenomena ini telah memunculkan istilah baru dalam dunia psikologi: Snapchat Dysmorphia, kondisi di mana seseorang ingin mengubah wajahnya secara permanen agar menyerupai versi berfilter dari dirinya sendiri.

Perasaan "aku lebih cantik di layar" membuat banyak perempuan muda merasa cemas, tidak percaya diri, bahkan menghindari interaksi sosial di dunia nyata.

Ini bukan hanya masalah narsisme atau gaya hidup digital, tapi sudah masuk ke ranah kesehatan mental.

Sejumlah remaja mulai mengalami gejala depresi ringan hingga berat, anxiety (kecemasan), dan penurunan harga diri hanya karena tak merasa sebagus versi onlinenya.

Teknologi Harusnya Empowering, Bukan Menekan

Filter dan teknologi visual seharusnya jadi alat ekspresi, bukan alat opresi. Mengedit foto bukanlah kejahatan, tapi ketika filter jadi satu-satunya cara seseorang merasa layak tampil, maka ada masalah yang harus disadari.

Yang dibutuhkan bukan penghapusan filter, tapi edukasi digital dan penguatan citra diri. Sekolah dan keluarga harus mulai membicarakan soal literasi visual bahwa gambar di media sosial tak selalu mencerminkan realita.

Bahwa pori-pori itu normal. Bahwa senyum tak simetris itu wajar. Bahwa kecantikan bukan tentang algoritma, tapi kenyamanan dalam kulit sendiri.

Baca Juga: Damkar Indonesia: Pasukan Serba Bisa dengan Tugas yang Tak Pernah Padam

Dunia Maya Boleh Cantik, Dunia Nyata Harus Aman

Banyak remaja perempuan saat ini hidup di antara dua dunia, dunia filter yang serba ideal, dan dunia nyata yang kadang kejam.

Maka penting bagi kita sebagai orang tua, teman, atau bahkan content creator untuk tidak hanya memuji kecantikan digital, tapi juga mengapresiasi keberanian tampil apa adanya.

Sebab pada akhirnya, wajah tanpa filter bukanlah wajah yang kurang tapi wajah yang penuh makna. (sun)

Editor : Mahsun Nidhom
#kecantikan #selfie #filter