Trenggaleknjenggelek - Bayangin sejenak, HP kamu punya suara. Punya emosi. Bisa curhat. Bisa marah. Kira-kira, apa yang dia bilang setelah bertahun-tahun hidup bareng kamu?
Spoilernya dia mungkin udah nulis surat resign lengkap dengan ucapan “terima kasih atas tidak ada apapun.”
Selamat Tinggal, Majikan Toxic
Pernah mikir nggak, HP kamu itu kerja rodi. Mulai dari bangun tidur sampe tidur lagi bahkan waktu kamu tidur pun dia masih siaga. Scroll TikTok 4 jam?
Check. Balas chat kerjaan tengah malam? Check. Buka kamera, edit video, order makanan, transfer uang, baca gosip, share meme, semua itu beban kerja dia.
Kalau HP kamu bisa ngetik surat resign, mungkin isinya begini:
Kepada Yth. Pemilik saya, mohon maaf saya sudah tidak bisa melanjutkan hubungan kerja ini. Saya burnout. Mental saya tergerus notifikasi. Saya lelah melihat 17 browser tab yang tidak pernah ditutup. Saya minta waktu untuk healing. Wassalam.
Baca Juga: Insiden 360 Pendulum di Jatim Park, Saat Wahana Hiburan Jadi Ancaman
Malam Minggu, Dia yang Sendirian di Kasur
Sementara kamu mimpi indah, HP kamu lembur. Dia nge-backup data, update sistem, bahkan disuruh nyalain alarm buat bangunin kamu besoknya.
Pernah sekali aja kamu bilang makasih? Nggak. Yang ada malah disemprot: “KENAPA ALARM-NYA NGGAK NYALA?”
Padahal ya, dia yang kamu marahi itu juga yang selama ini jadi teman curhat digital kamu. Yang ngerti siapa mantan yang masih kamu intip story-nya. Yang tahu kebiasaan kamu buka chatting mantan lalu pura-pura nggak sengaja.
Kita treat HP seolah dia dewa penyelamat semua kebosanan. Kesepian? Scroll Instagram. Bingung? Buka YouTube. Overthinking? Bikin Notes panjang yang nggak pernah dibaca lagi.
Tapi HP bukan Tuhan. Dia butuh waktu istirahat. Butuh ruang bernapas. Kalau kamu merasa burnout karena kerjaan nonstop, coba bayangin jadi HP kamu. Setidaknya kamu bisa mandi. Dia? Hidupnya cuma colok dan hidup lagi.
Baca Juga: Tiga Rumah di Trenggalek Diterjang Longsor, Kerugian Capai Belasan Juta Rupiah
Waktunya Buka Mata
Mulai disadari, Kalau kamu butuh waktu buat digital detox, HP kamu lebih-lebih. Kurangi beban hidup dia.
Jangan jadikan dia tempat pelarian terus-terusan. Nggak salah sih, main HP buat hiburan, tapi kalau hidupmu sudah dijadwalkan pakai screen time.
Siapa yang sebenarnya punya kendali?
HP kamu nggak pernah nuntut. Tapi itu bukan berarti kamu bebas menyiksa. Kadang dia cuma butuh satu hari libur.
Atau minimal, disayang-sayang dikit. Siapa tahu, nanti pas dia ngambek, baterai drop, sinyal ilang, atau layar retak, itu sebenarnya dia lagi “cuti sakit” yang udah lama ditunda.
Karena kalau HP bisa ngomong, dia mungkin udah bilang dari dulu “Aku sayang kamu, tapi kamu selalu nyakitin aku tiap hari.” (sun)
Editor : Mahsun Nidhom