Trenggaleknjenggelek - Di era yang serba cepat, bahkan pikiran manusia pun mulai kewalahan. Data RSUD dr. Soedomo mencatat 7.089 kunjungan ke poli jiwa selama 2024 naik dari 7.007 di tahun sebelumnya.
Sekilas cuma naik tipis, tapi seperti tekanan batin, yang terlihat kecil seringkali menyimpan luka yang dalam.
Menarik dan juga menyedihkan, pengunjung poli jiwa bukan lagi dominasi orang dewasa yang nunggak cicilan.
Baca Juga: Trenggalek Jadi Tuan Rumah Sepak Bola Pra Porprov 2025, Zona 5 Disebut Grup Neraka
Anak-anak dan remaja pun mulai ikut antre. Bukan karena mereka salah jurusan atau kena ghosting, tapi karena dunia ini makin lama makin sulit dipahami.
Sebagian besar pasien datang bukan karena gangguan berat macam skizofrenia. Justru yang sering muncul adalah gangguan cemas, depresi, dan psikosomatis, gejala fisik yang sebenarnya dipicu stres.
Iya, stres sekarang bukan cuma bikin rambut rontok, tapi juga bikin lambung protes dan mata sulit merem.
Baca Juga: Bank Indonesia Sindir AS: Kalau Siap, QRIS Bisa Jalan Bareng
Untuk orang dewasa, sumber masalah bisa dari segala arah. Mulai dari keuangan, pekerjaan, sampai pertanyaan klise dari keluarga tiap lebaran, “Kapan nikah?”
Sementara remaja? Lebih kompleks lagi. Mereka harus bertahan di antara notifikasi TikTok, tuntutan akademik, algoritma media sosial, dan standar hidup yang tak manusiawi. Semua itu sebelum jam 9 pagi.
Belum selesai di situ, kecanduan gadget, alkohol, pil dobel L, dan ekspektasi diri yang kelewat tinggi. Maka tak heran kalau beberapa remaja memilih pelarian.
Baca Juga: Film Animasi JUMBO Raih 6 Juta Penonton!
Sayangnya, bukan ke taman atau perpustakaan, tapi ke arah yang lebih gelap. Lansia pun tak luput. Meski jarang pusing bayar listrik atau cicilan, mereka sering dihantui kesepian, rasa tidak berguna, atau overthinking tentang masa depan cucunya yang masih rebahan.
Fenomena ini memperlihatkan satu hal, gangguan jiwa kini lintas usia, lintas profesi, dan lintas algoritma.
Bukan lagi hal tabu, tapi kenyataan yang mendesak. Rumah sakit boleh jadi benteng utama, tapi benteng paling awal tetap rumah kita sendiri. Dengan percakapan hangat, ruang aman, dan telinga yang mau mendengar tanpa ngegas.
Karena terkadang, yang dibutuhkan seseorang bukan obat penenang, tapi sekadar diyakinkan bahwa kamu tidak sendirian. (sun)