Trenggaleknjenggelek – Belakangan ini media sosial diramaikan oleh video pedagang bakso yang merebus mi instan bersamaan dengan bungkus plastiknya. Sehingga tidak menutup kemungkinan hal ini juga terjadi di Trenggalek.
Padahal praktik tersebut dinilai sangat membahayakan kesehatan, karena plastik diketahui mengandung zat berbahaya seperti ftalat yang bersifat karsinogenik atau pemicu kanker.
Pakar kesehatan memperingatkan bahwa merebus mi dengan bungkus plastik dapat menyebabkan zat kimia seperti ftalat dan tinta kemasan larut ke dalam air panas. Semakin tinggi suhu, semakin cepat zat berbahaya dari plastik larut.
Ftalat sendiri merupakan senyawa kimia yang sering digunakan dalam pembuatan plastik agar lentur. Ketika masuk ke dalam tubuh, ftalat dapat mengganggu sistem hormon endokrin, memicu gangguan tiroid, dan meningkatkan risiko kanker dalam jangka panjang.
Ftalat Mengintai dari Berbagai Produk Sehari-hari
Ftalat bukan hanya ditemukan dalam plastik makanan, tetapi juga terdapat di berbagai produk rumah tangga dan kosmetik. Beberapa produk yang diketahui mengandung ftalat antara lain:
Kosmetik (parfum, cat kuku, hair spray, sampo, sabun, pelembap)
Cat pelapis kayu
Deterjen pakaian
Insektisida
Bahan bangunan dan pipa plastik
Produk olahan daging dan susu
Makanan cepat saji dan kemasan plastik
Orang dengan kondisi tertentu seperti penderita penyakit ginjal, hemofilia, atau mereka yang sering menjalani transfusi dan cuci darah juga lebih rentan terhadap paparan ftalat. Pekerja pabrik plastik, tukang bangunan, dan karyawan percetakan juga termasuk kelompok yang berisiko tinggi.
Pentingnya Edukasi Pedagang dan Konsumen
Kebiasaan merebus mi instan langsung dengan bungkusnya kemungkinan masih terjadi di berbagai tempat. Faktor kemudahan dan kurangnya edukasi dianggap sebagai penyebab utama. Oleh karena itu, dibutuhkan edukasi yang tepat sasaran, terutama kepada pelaku usaha makanan, mengenai cara pengolahan makanan yang aman dan tidak membahayakan konsumen.
Tips Menghindari Paparan Ftalat
Meski tubuh manusia memiliki sistem detoksifikasi alami, upaya pencegahan tetap diperlukan. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:
Cermati label kemasan. Hindari produk dengan kode “DEHP” atau “DiBP”.
Pilih produk dengan keterangan “bebas ftalat”.
Batasi konsumsi makanan cepat saji.
Perhatikan kemasan makanan dan jangan panaskan makanan dalam plastik.
Masyarakat diimbau untuk lebih peduli terhadap bahan-bahan kimia yang masuk ke tubuh melalui makanan dan produk harian. Jika memiliki faktor risiko atau mengalami gejala tertentu, sebaiknya konsultasikan langsung dengan tenaga medis melalui layanan kesehatan terpercaya.(jaz)