Trenggaleknjenggelek - Di era digital yang serba cepat ini, masyarakat dimanjakan dengan berbagai bentuk hiburan instan.
Konten berdurasi kurang dari satu menit seperti TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts menjadi sajian utama yang terus menggoda jari untuk scroll tanpa henti.
Namun, di balik layar yang penuh warna dan suara lucu, tersembunyi konsekuensi serius terhadap kesehatan mental, khususnya kemampuan fokus.
Fenomena brain fog kini ramai dibicarakan. Meski bukan istilah medis resmi, brain fog menggambarkan kondisi di mana seseorang merasa pikirannya berkabut, sulit berkonsentrasi, dan cepat lupa.
Dan tanpa disadari, konten singkat yang jadi teman setia saat istirahat justru bisa menjadi salah satu pemicunya.
Setiap kali kita menonton video yang lucu atau mengejutkan, otak melepaskan dopamin – senyawa kimia yang menciptakan rasa senang.
Ketika lonjakan dopamin ini terjadi berulang kali dalam waktu singkat, otak terbiasa mendapatkan kepuasan secara instan.
Inilah yang membuat kita merasa tak sabar menghadapi aktivitas yang menuntut konsentrasi lebih panjang, seperti membaca buku atau menyimak presentasi.
Studi dari Microsoft pada tahun 2015 bahkan menyebutkan bahwa rentang perhatian manusia telah menurun menjadi hanya 8 detik—lebih singkat dari seekor ikan mas.
Meskipun studi ini menimbulkan perdebatan, gejala-gejala penurunan fokus nyata dirasakan banyak orang, terutama generasi muda yang tumbuh di tengah paparan konten digital tanpa henti.
Ketika otak terbiasa dilatih hanya untuk fokus dalam durasi pendek, kemampuan untuk berpikir mendalam pun ikut tergerus.
Akibatnya, pelajar kesulitan menyerap pelajaran, mahasiswa kesulitan menyelesaikan tugas panjang, dan karyawan tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tanpa terdistraksi notifikasi.
Fenomena task switching pun terjadi, yakni berpindah-pindah dari satu tugas ke tugas lain tanpa menyelesaikan satu pun secara optimal.
Lebih jauh lagi, kebiasaan scroll tanpa henti bisa berubah menjadi doomscrolling—mengonsumsi konten secara pasif untuk mengalihkan diri dari stres atau kecemasan.
Ini justru memperparah kondisi mental karena membuat otak terus-menerus dalam mode siaga tinggi (hyperstimulation).
Akibatnya, kualitas tidur menurun, kecemasan meningkat, bahkan bisa memicu gejala depresi ringan.
Namun, semua ini bukan tanpa solusi. Mengatasi penurunan fokus akibat konten digital butuh kesadaran dan langkah kecil yang konsisten.
Terapkan digital detox, misalnya dengan menjadwalkan waktu khusus untuk membuka media sosial, mematikan notifikasi yang tidak penting, dan membatasi waktu screen time setiap hari.
Di saat yang sama, latih kembali otak kita untuk bisa bertahan dalam aktivitas yang membutuhkan fokus jangka panjang—seperti membaca buku, meditasi, menulis jurnal, atau sekadar berbicara tatap muka tanpa gangguan gawai.
Karena pada akhirnya, teknologi harus menjadi alat bantu, bukan penguasa pikiran.
Kita tidak bisa sepenuhnya menghindari dunia digital, tapi kita bisa mengatur ulang bagaimana kita berinteraksi dengannya.
Agar otak kita tidak terus-menerus dibanjiri rangsangan cepat, tetapi juga diberi ruang untuk bernapas, merenung, dan mengingat. (kho)
Editor : Akhmad Nur Khoiri