Trenggaleknjenggelek – Infeksi cacing hati atau fascioliasis menjadi salah satu ancaman serius bagi kesehatan hewan ternak, terutama sapi dan kambing. Karena itu masyarakat harus lebih cermat melakukan pemilihan ketika memilih hewan kurban.
Meski sering kali tidak langsung mematikan, penyakit ini dapat menyebabkan penurunan produktivitas yang signifikan dan membahayakan kesejahteraan hewan jika tidak ditangani. Gejala fascioliasis bervariasi tergantung tingkat keparahan infeksi.
Secara umum, hewan yang terinfeksi akan tampak kurus, lesu, kehilangan nafsu makan, dan memiliki bulu yang kering serta mudah rontok. Salah satu tanda yang khas pada kasus yang berat adalah pembengkakan pada rahang bawah, atau yang dikenal dengan istilah bottle jaw.
Hewan yang mengalami bottle jaw biasanya sudah menunjukkan penurunan kondisi tubuh yang cukup parah akibat gangguan fungsi hati dan penumpukan cairan.
Berikut ciri-ciri umum fascioliasis pada hewan yang masih hidup:
Kurus dan lesu, tampak tidak bersemangat.
Penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan.
Bulu kering, kusam, dan rontok.
Selaput lendir pucat, terutama di mata dan mulut, yang mengindikasikan anemia.
Bottle jaw, pembengkakan lunak berisi cairan di bawah rahang.
Perut membesar dan terasa nyeri saat disentuh.
Diare, terutama pada infeksi berat.
Nafas cepat, sebagai tanda gangguan Sistemik.
Penumpukan cairan dalam perut (asites) pada kasus yang sangat parah.
Selain itu, fascioliasis juga menyebabkan anemia karena rusaknya jaringan hati dan kehilangan darah, serta berdampak pada penurunan produksi susu pada hewan ternak produktif.
Meski demikian, tidak semua hewan menunjukkan gejala lengkap. Beberapa kasus berlangsung subklinis dan hanya terdeteksi melalui pemeriksaan laboratorium atau setelah dilakukan pemotongan ternak.
Penting untuk dicatat, semakin cepat infeksi terdeteksi, semakin besar peluang pemulihan. Oleh karena itu, peternak disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter hewan jika melihat gejala-gejala tersebut pada hewan peliharaannya.
Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga sanitasi kandang, menghindari penggembalaan di lahan basah yang berpotensi menjadi habitat siput (inang perantara cacing), serta melakukan pengobatan anti parasit secara berkala.(jaz)
Editor : Zaki Jazai