Trenggaleknjenggelek - Tren diet ekstrem yang menjanjikan penurunan berat badan dalam waktu singkat semakin marak di media sosial.
Namun, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa diet yang terlalu ketat dan tidak seimbang dapat membahayakan tubuh dan menimbulkan masalah kesehatan serius.
Menurut dr. Intan Wulandari, Sp.GK, dokter spesialis gizi klinik, diet ekstrem seperti hanya mengonsumsi satu jenis makanan, puasa berlebihan, atau menghilangkan karbohidrat secara total bisa menyebabkan kekurangan nutrisi, gangguan metabolisme, dan bahkan kerusakan organ.
"Tubuh kita membutuhkan asupan gizi seimbang setiap hari. Ketika seseorang membatasi makanan secara drastis, tubuh tidak mendapatkan vitamin, mineral, dan energi yang cukup untuk berfungsi normal," ujar dr. Intan.
Beberapa risiko kesehatan dari diet ekstrem antara lain:
- Kelelahan dan lemas akibat kurangnya kalori.
- Gangguan pencernaan, seperti sembelit atau diare.
- Rambut rontok dan kulit kering karena kekurangan protein dan lemak sehat.
- Gangguan menstruasi pada wanita.
- Efek yo-yo, di mana berat badan kembali naik bahkan lebih tinggi setelah diet dihentikan.
Selain itu, diet ekstrem juga dapat berdampak pada kesehatan mental, seperti stres berlebihan, gangguan makan (eating disorder), hingga depresi.
Dr. Intan menyarankan agar masyarakat lebih bijak dalam memilih metode penurunan berat badan. "Diet yang sehat adalah diet yang berkelanjutan. Fokus pada perubahan gaya hidup, bukan sekadar hasil instan," tambahnya.
Penting untuk berkonsultasi dengan ahli gizi atau tenaga medis sebelum memulai program diet, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi medis tertentu.
Diet sehat bukan berarti menyiksa tubuh. Menurunkan berat badan dengan cara yang aman dan bertahap justru lebih efektif untuk jangka panjang dan menjaga kesehatan secara keseluruhan.(gun)
Editor : Gunawan Rdr Tulungagung