Trenggaleknjenggelek – Perubahan cuaca yang tidak menentu akhir-akhir ini memicu peningkatan kasus gangguan kesehatan ringan di masyarakat, seperti batuk, pilek, dan meriang. Tak sedikit warga yang mengeluhkan daya tahan tubuh menurun akibat suhu yang cepat berubah-ubah, terutama saat pagi dan malam hari.
Namun alih-alih langsung mengkonsumsi obat kimia, banyak warga Trenggalek kini mulai kembali melirik pengobatan tradisional berbasis rempah sebagai langkah awal penanganan gejala.
Salah satu ramuan yang kembali naik daun adalah minuman hangat dari jahe, serai, cengkeh, kayu manis, dan madu. Resep ini sudah lama dikenal masyarakat pedesaan Trenggalek sebagai penangkal alami berbagai gangguan pernapasan.
Ramuan rempah ini tidak hanya dipercaya mampu meredakan batuk dan pilek, tetapi juga efektif memperkuat sistem kekebalan tubuh.
“Kalau badan mulai meriang, saya langsung buat ramuan ini. Biasanya dua kali minum sudah jauh lebih enak,” ujar Siti Romlah, warga Kecamatan Tugu.
Bahan-bahan yang dibutuhkan juga sangat mudah ditemukan di pasar tradisional Trenggalek. Untuk membuatnya, cukup siapkan satu ruas jahe, satu batang serai, tiga butir cengkeh, satu ruas kayu manis, satu sendok teh madu, dan 300 ml air. Semua bahan direbus bersama selama 10 menit, lalu disaring dan diminum dalam keadaan hangat setelah dicampur madu.
Menurut para praktisi pengobatan tradisional di Trenggalek, jahe bersifat anti-inflamasi yang mampu meredakan peradangan di tenggorokan, serai dan kayu manis membantu melancarkan sirkulasi darah dan memberi efek menenangkan, sementara cengkeh berfungsi sebagai antiseptik alami.
Madu melengkapi manfaatnya sekaligus memberikan rasa manis alami.
Tak hanya kalangan tua, generasi muda di Trenggalek juga mulai mengadopsi gaya hidup sehat dengan memasukkan ramuan rempah ini dalam rutinitas harian. Di media sosial lokal, berbagai variasi racikan rempah mulai dibagikan sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal.
Selain manfaat medis, aroma khas rempah yang direbus juga memberi efek psikologis yang menenangkan. Saat musim hujan, banyak rumah di Trenggalek yang dipenuhi aroma sedap dari dapur, menciptakan kehangatan tersendiri dalam keluarga.
Dengan kemudahan pembuatan dan ketersediaan bahan, ramuan ini menjadi pilihan cerdas yang tidak hanya ekonomis tetapi juga berkelanjutan. Tradisi menanam rempah sendiri di pekarangan rumah pun masih terjaga kuat di pedesaan Trenggalek, memperkuat semangat kembali ke alam.
Di tengah gempuran produk farmasi modern, kearifan lokal ini kembali mendapat tempat di hati masyarakat. Ketika batuk dan pilek menyerang, warga Trenggalek kini punya pilihan alami yang telah terbukti oleh waktu.(jaz)