Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Screen Time Berlebih Picu Gangguan Mental Anak, Waspada pada Penggunaan Durasi dan Dampaknya

Zaki Jazai • Selasa, 29 Juli 2025 | 19:17 WIB

Pengawasan orang tua penting untuk memastikan anak tidak terpapar konten negatif saat menggunakan gadget.
Pengawasan orang tua penting untuk memastikan anak tidak terpapar konten negatif saat menggunakan gadget.

Trenggaleknjenggelek – Paparan layar gadget yang berlebihan pada anak dan remaja terbukti berdampak serius terhadap kesehatan fisik dan mental. Temuan ini diungkapkan oleh Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Nanik Indahwati, melalui hasil penelitian terhadap 355 siswa SMP berusia 12–15 tahun di Kota Surabaya.

Dalam riset tersebut, anak-anak tercatat menghabiskan rata-rata 5,9 jam per hari atau 41,3 jam per minggu di depan layar, baik untuk bermain gawai maupun menatap monitor. Penggunaan paling dominan terjadi pada malam hari (70,7%), disusul sore (21,1%) dan siang hari (7,3%), sementara pagi hari tergolong paling minim (0,8%) karena bertepatan dengan jam sekolah.

“Sebanyak 91,5 persen penggunaan gawai digunakan untuk media sosial dan bermain gim, hanya 8,5 persen yang dimanfaatkan untuk kepentingan belajar,” jelas Prof. Nanik dalam rilis Humas Unesa, Senin (28/7/2025).

Baca Juga: Alergi Datang Tanpa Permisi, Warga Trenggalek Diimbau Waspada dan Kenali Pemicunya

Durasi paparan layar yang tinggi, lanjut Nanik, berkorelasi kuat dengan memburuknya kondisi kesehatan mental anak. Gejala yang muncul tidak hanya berupa gangguan kecemasan dan depresi, tetapi juga memengaruhi relasi sosial, aktivitas harian, hingga kesejahteraan psikis secara menyeluruh.

Anak-anak dengan screen time berlebih juga menunjukkan gejala seperti impulsivitas, kesulitan konsentrasi, serta gangguan pola makan dan tidur.

“Mereka cenderung lupa waktu makan, pola tidur berantakan, dan jarang melakukan aktivitas fisik,” imbuhnya.

Menurut Nanik, dampak lain yang cukup mengkhawatirkan adalah terganggunya fungsi otak, termasuk pada bagian yang berperan dalam daya pikir dan kontrol emosi. Paparan cahaya biru dari layar terbukti menghambat produksi melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur, sehingga kualitas istirahat anak menurun drastis.

Baca Juga: Hepatitis Kerap Tanpa Gejala, Ini Alasan Tes Rutin Tidak Boleh Diabaikan

Minimnya aktivitas fisik juga berdampak pada penurunan pelepasan endorfin—hormon yang membantu meningkatkan mood dan mengurangi stres. Di sisi lain, rendahnya interaksi sosial langsung menjadikan anak kurang terasah dalam hal empati, komunikasi, dan regulasi emosi.

Melihat berbagai risiko tersebut, Prof. Nanik menekankan pentingnya peran orang tua dan sekolah dalam mengawasi dan mendampingi anak. Ia juga mendorong adanya pembatasan waktu layar sesuai rekomendasi usia.

Baca Juga: Hepatitis Bisa Menyebabkan Kanker Hati, Waspadai Sejak Sekarang

“WHO merekomendasikan maksimal 1 jam screen time untuk anak usia 2–4 tahun dan tidak lebih dari 2 jam per hari untuk usia 5–17 tahun,” ujarnya.

Upaya pendampingan ini perlu disertai dengan penyediaan alternatif kegiatan yang sehat, seperti olahraga bersama, aktivitas luar ruang, hingga bermain secara langsung dengan teman sebaya. Lingkungan sekolah dan keluarga juga diharapkan aktif mengedukasi serta memberi contoh penggunaan teknologi digital yang sehat dan bijak.(jaz)

Editor : Zaki Jazai
#layar gadget #kesehatan fisik dan mental #unesa