Trenggaleknjenggelek -Kita sering merasa makin sibuk berarti makin produktif. Lagi ngetik email, tiba-tiba buka chat, bales notifikasi, scroll media sosial sebentar, lalu balik ke pekerjaan dan tiba-tiba lupa kita mau nulis apa.
Ini adalah multitasking dan faktanya, otak kita tidak pernah dirancang untuk mengerjakan dua tugas kognitif berat secara bersamaan.
Menurut American Psychological Association, multitasking membuat otak harus melakukan task switching berpindah fokus secara cepat.
Sama seperti mobil manual yang harus pindah gigi, otak memerlukan energi ekstra untuk kembali ke ritme awal. Akibatnya, kita merasa sibuk tapi hasil nyaris tak ada.
Efek Multitasking Terhadap Memori Kerja
Penelitian Stanford University (2009) menemukan bahwa orang yang sering multitasking memiliki kapasitas memori kerja yang lebih rendah dibanding yang fokus pada satu tugas.
Memori kerja (working memory) adalah ruang sementara di otak yang menyimpan informasi yang sedang kita proses.
Saat terlalu sering berpindah fokus, ruang ini jadi cepat penuh dan sulit menyimpan informasi baru.
Akibatnya:
- Lebih sulit mengingat detail penting.
- Waktu menyelesaikan tugas lebih lama.
- Risiko membuat kesalahan meningkat.
Dampak Jangka Panjang pada Otak
Kebiasaan multitasking yang terus-menerus bisa menurunkan kualitas perhatian, membuat otak lebih mudah terdistraksi, dan bahkan mengubah struktur jaringan saraf.
Penelitian University of Sussex (2014) menunjukkan, orang yang sering multitasking memiliki kepadatan materi abu-abu (gray matter density) lebih rendah di area otak yang mengatur kontrol kognitif.
Dengan kata lain, otak kita benar-benar “terlatih” menjadi mudah terdistraksi — dan ini efek permanen jika tidak diubah.
Produktivitas sejati bukan soal berapa banyak hal yang kita kerjakan sekaligus, melainkan seberapa dalam kita fokus pada satu hal.
Jika ingin hasil kerja lebih cepat, minim kesalahan, dan otak tetap sehat, hentikan multitasking untuk tugas-tugas kognitif berat. Fokus adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan mental dan intelektual kita. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom