Trenggaleknjenggelek - Penyakit zoonotik adalah penyakit yang melompat dari hewan ke manusia.
Contoh paling terkenal? Covid-19, yang diduga berasal dari pasar hewan. Namun, bukan hanya itu. Virus seperti Ebola, flu burung, rabies, hingga nipah termasuk dalam kategori ini.
Negara-negara maju kini menyoroti serius isu ini karena perubahan iklim dan perluasan permukiman manusia yang makin mendekati habitat satwa liar. Akibatnya, peluang virus berpindah dari hewan ke manusia jadi makin tinggi.
Menurut laporan Financial Times, tren zoonotik terus meningkat dalam dua dekade terakhir.
Bahkan, WHO menyebut 75% penyakit infeksi baru berasal dari hewan. Jika tidak ditangani, kita bisa menghadapi pandemi berikutnya yang jauh lebih mematikan dari Covid-19.
Bayangkan: virus yang sebelumnya hanya menyerang kelelawar atau primata, bisa tiba-tiba bermutasi hingga menular antarmanusia. Tanpa persiapan, dunia bisa lumpuh lagi.
Lucunya, meski Indonesia adalah negara tropis dengan biodiversitas terbesar kedua di dunia, isu zoonotik jarang masuk headline. Padahal:
- Flu burung sempat menghantui di awal 2000-an.
- Rabies masih ada di beberapa wilayah timur.
- Interaksi manusia–satwa liar (seperti kelelawar atau monyet) makin sering terjadi akibat deforestasi.
- Sayangnya, alih-alih jadi isu serius, diskusi ini kalah oleh topik politik dan gosip selebriti di media arus utama.
Negara maju sudah mengalokasikan anggaran riset untuk:
- Sistem deteksi dini virus dari hewan ke manusia.
- Monitoring pasar hewan dan rantai makanan.
- Pembangunan laboratorium biosekuriti untuk mencegah kebocoran penyakit.
Indonesia? Masih minim. Bahkan koordinasi antar lembaga sering tumpang tindih.
Penyakit zoonotik bukan sekadar isu kesehatan, tapi ancaman nasional. Jika diabaikan, pandemi berikutnya bisa lahir dari hutan tropis kita sendiri. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom