Trenggaleknjenggelek - Kasus udang Indonesia yang terdeteksi Sesium-137 bikin banyak orang bertanya-tanya kalau radiasi berbahaya, kenapa justru dipakai di rumah sakit untuk menyembuhkan kanker?
Pertanyaan ini wajar banget, karena memang terdengar kontradiktif. Nyatanya, jawabannya ada pada cara radiasi dikendalikan.
Apa yang Terjadi Saat Radiasi Mengenai Tubuh?
Radiasi jenis tertentu, seperti radiasi ionisasi (contohnya dari Sesium-137), punya kemampuan memengaruhi struktur sel. Ketika sel terkena radiasi, ada tiga kemungkinan:
- Sel langsung mati – tidak bisa lagi berfungsi.
- Sel rusak tapi bisa pulih – tubuh memperbaiki kerusakan tersebut.
- Sel rusak lalu berubah jadi kanker – ini yang berbahaya kalau paparan tidak terkendali.
Inilah mengapa paparan radiasi dalam dosis tinggi, terus-menerus, bisa meningkatkan risiko kanker.
Radiasi Sebagai Alat Penyembuh
Ironisnya, justru sifat “mematikan sel” inilah yang dimanfaatkan di dunia medis. Dalam radioterapi kanker, pancaran radiasi difokuskan ke sel kanker sehingga sel abnormal mati atau berhenti berkembang.
Bedanya dengan paparan liar adalah:
- Tepat sasaran: hanya sel kanker yang kena.
- Dosis terkendali: cukup untuk merusak sel kanker, tapi tidak merusak sel sehat di sekitarnya.
Dengan cara ini, radiasi berubah dari “ancaman” menjadi “obat”.
Radiasi di Sekitar Kita
Tanpa disadari, sebenarnya kita hidup berdampingan dengan zat radioaktif. Beberapa contoh:
- Tubuh manusia mengandung isotop alami yang bersifat radioaktif.
- Alat detektor asap di rumah menggunakan amerisium, zat radioaktif.
- Industri migas memakai radiasi untuk mengukur kedalaman pengeboran.
Artinya, keberadaan radiasi itu normal. Yang membedakan hanyalah jumlah dosis dan cara penggunaannya.
Kapan Radiasi Jadi Berbahaya?
Secara umum, radiasi baru dianggap berbahaya bila:
- Dosis yang masuk jauh melebihi batas aman.
- Paparannya berlangsung terus-menerus.
- Radiasi berasal dari sumber yang tidak terkontrol.
Dalam kasus udang dengan kadar 68 becquerel/kg Sesium-137, risikonya masih kecil, kecuali jika dikonsumsi dalam jumlah luar biasa (misalnya puluhan kilo setiap hari).
Radiasi memang bisa menjadi “pisau bermata dua”. Ia bisa merusak tubuh dan memicu kanker, tapi dalam kondisi terkendali justru bisa menjadi penyelamat nyawa lewat radioterapi.
Maka, kuncinya ada pada dosis dan kendali. Sama seperti api, sedikit untuk memasak, aman. Tapi kalau liar, bisa membakar rumah. (sun)