Trenggaleknjenggelek - Radiasi, termasuk yang dilepas oleh Sesium-137, tidak punya warna, bau, atau rasa.
Artinya, indera manusia tidak bisa langsung mendeteksinya. Inilah sebabnya banyak orang menyebut radiasi seperti “hantu” – ada, tapi tak kasatmata.
Alat Deteksi Radiasi: Geiger Counter
Metode paling akurat untuk mengetahui paparan radiasi adalah memakai alat ukur, contohnya Geiger counter. Alat ini bisa mendeteksi jumlah partikel radioaktif di udara atau pada suatu objek, lalu menampilkannya dalam satuan becquerel atau sievert.
Masalahnya, alat ini tergolong mahal dan biasanya hanya dimiliki laboratorium, industri, atau lembaga penelitian.
Plat Foto yang Menghitam
Sebelum ada alat modern, para ilmuwan pertama kali menemukan radiasi lewat kejadian “tak sengaja”.
Henri Becquerel pada 1896 menaruh mineral tertentu di dekat plat foto. Anehnya, plat itu menghitam tanpa terkena cahaya matahari.
Dari situlah dunia tahu bahwa radiasi bisa meninggalkan “jejak” pada benda-benda sensitif.
Bisa Nggak Terdeteksi dengan Cara Sederhana? Secara langsung, hampir mustahil bagi manusia biasa mendeteksi radiasi tanpa alat. Namun, ada beberapa indikasi tidak langsung:
- Kerusakan elektronik atau film foto yang tiba-tiba terjadi.
- Gejala kesehatan akut seperti mual, muntah, atau kulit terbakar, biasanya akibat paparan dosis sangat tinggi.
Untuk paparan rendah, tandanya tidak terasa langsung, sehingga butuh alat ukur.
Karena sifatnya diam-diam, radiasi bisa jadi ancaman jangka panjang. Misalnya, kontaminasi Sesium-137 pada udang mungkin tidak langsung memunculkan gejala.
Tapi jika dikonsumsi terus-menerus bisa meningkatkan risiko kanker. Inilah sebabnya deteksi radiasi tak bisa hanya mengandalkan insting manusia.
Radiasi memang “tak terlihat”, tapi bukan berarti tak bisa dilacak. Teknologi seperti Geiger counter adalah kunci utama.
Sementara itu, tanpa alat, manusia hanya bisa tahu dari efek samping atau kerusakan yang ditimbulkan. Maka, deteksi dini lewat alat ukur tetap satu-satunya cara yang andal. (sun)