Semakin Tua, Jatah Tidur Akan Semakin Sedikit, Simak Fakta -Faktanya untuk Referensi
Eka Putri Wahyuni• Sabtu, 20 September 2025 | 03:55 WIB
tak banyak yang menyadari bahwa beberapa rutinitas di pagi hari justru bisa berdampak buruk pada kesehatan jantung.
TRENGGALEK – Pernah memperhatikan orang tua atau kakek nenek yang tampak tidur lebih sedikit dibanding anak muda? Ternyata, hal itu bukan sekadar kebiasaan, melainkan proses alami tubuh seiring bertambahnya usia.
Sejumlah riset medis dan data dari National Sleep Foundation menunjukkan bahwa kebutuhan dan pola tidur manusia memang berubah ketika menua, baik dari segi durasi maupun kualitasnya.
Saat kita berusia 18-25 tahun, tubuh idealnya membutuhkan sekitar 7-9 jam tidur setiap malam agar metabolisme, hormon, dan fungsi otak tetap optimal.
Memasuki usia 26-64 tahun, kebutuhan itu mulai turun menjadi sekitar 7-8 jam. Ketika memasuki usia lanjut sekitar 65 tahun ke atas, kebanyakan orang cukup tidur sekitar 7 jam saja untuk menjaga kesehatan.
Penurunan kebutuhan tidur ini terjadi karena proses regenerasi sel dan metabolisme tubuh melambat, sehingga energi yang dikeluarkan sepanjang hari juga tidak sebanyak saat masih muda.
Perubahan tersebut tidak hanya menyangkut durasi tidur, tetapi juga pola dan kualitasnya.
Lansia umumnya lebih sulit mencapai fase tidur dalam atau slow-wave sleep dan tidur REM, yaitu tahap tidur yang penting untuk pemulihan tubuh dan konsolidasi memori.
Akibatnya, mereka cenderung tidur lebih dangkal, mudah terbangun di malam hari, sering tidur siang sebentar, dan bangun lebih pagi dibandingkan saat muda.
Fenomena ini sering membuat tidur para orang tua terlihat singkat meskipun secara kebutuhan tubuh mereka sebenarnya sudah tercukupi.
Faktor biologis lain yang berperan besar adalah menurunnya produksi hormon melatonin, yaitu hormon penting yang mengatur ritme sirkadian atau jam biologis tubuh, termasuk siklus tidur dan bangun.
Penurunan hormon ini membuat tubuh menjadi lebih sensitif terhadap cahaya, suara, dan gangguan lingkungan sehingga tidur nyenyak sulit dipertahankan.
Ritme sirkadian yang bergeser juga menyebabkan lansia merasa mengantuk lebih awal pada malam hari dan terbangun lebih pagi, kadang jauh sebelum alarm berbunyi.
Kesehatan fisik dan konsumsi obat-obatan turut memengaruhi. Penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, atau nyeri sendi sering menimbulkan rasa tidak nyaman yang mengganggu tidur.
Beberapa jenis obat, misalnya diuretik atau obat tekanan darah, dapat menyebabkan sering terbangun untuk ke kamar mandi di malam hari.
Semua faktor ini saling berkaitan sehingga membuat tidur pada usia lanjut semakin pendek dan terfragmentasi.
Meski kebutuhan tidur menurun, kualitas tidur tetap penting untuk menjaga kebugaran fisik dan mental.
Tidur yang tidak nyenyak dapat berdampak serius, mulai dari gangguan konsentrasi dan penurunan daya ingat, peningkatan risiko jatuh pada lansia, hingga melemahkan sistem kekebalan tubuh.
Oleh karena itu, menjaga kebiasaan tidur yang sehat menjadi sangat krusial.
Untuk membantu tidur lebih nyenyak di usia lanjut, ada beberapa langkah sederhana bisa dilakukan.
1. Tetapkan jadwal tidur dan bangun yang konsisten agar tubuh memiliki ritme tetap setiap hari.
2. Hindari konsumsi kafein, alkohol, dan nikotin di sore hingga malam karena dapat mengganggu kualitas tidur.
3. Luangkan waktu untuk berjemur di pagi hari agar tubuh mendapatkan paparan cahaya alami, yang membantu mengatur produksi melatonin dan menyeimbangkan jam biologis.
4. Ciptakan kamar tidur yang tenang, gelap, dan bersuhu sejuk agar suasana tidur lebih nyaman.
Berkurangnya jatah tidur adalah proses alami yang terjadi pada semua orang seiring pertambahan usia.
Meskipun jam tidur lansia biasanya lebih singkat dibandingkan masa muda, yang terpenting adalah memastikan kualitasnya tetap baik.
Tidur 7-8 jam yang benar-benar nyenyak akan jauh lebih bermanfaat daripada tidur panjang namun sering terbangun.
Jadi, fokuslah pada kualitas, bukan hanya kuantitas, agar kesehatan tubuh dan pikiran tetap terjaga hingga usia lanjut. (*)