TRENGGALEK – Stroke merupakan penyakit yang mengancam jiwa. Setiap menit, sebanyak 1,9 juta sel otak dapat mati ketika terjadi serangan stroke.
Penyakit stoke menjadi penyebab utama disabilitas dan penyebab kematian nomor dua di dunia.
Di Indonesia, stroke juga menempati posisi serius dengan kontribusi sebesar 11,2 persen dari total kecacatan dan 18,5 persen dari total kematian.
Ketua Tim Pengabdian Poltekkes Malang Kampus Trenggalek, Mimik Christiani SST MKes menjelaskan, berdasarkan hasil survei kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi stroke di Indonesia mencapai 8,3 per 1.000 penduduk.
Stroke juga tergolong sebagai salah satu penyakit katastropik dengan beban pembiayaan tinggi.
“Berdasarkan data itu, pada 2023, biaya penanganannya mencapai Rp 5,2 triliun, menempati urutan ketiga setelah penyakit jantung dan kanker,” jelasnya, Selasa (23/9/20250.
Setelah menjalani perawatan di rumah sakit, pasien stroke umumnya membutuhkan rehabilitasi jangka panjang guna mengembalikan fungsi motorik dan sensorik.
Perawatan di rumah menjadi langkah penting karena dapat menciptakan suasana yang lebih nyaman, mengurangi stres, serta memungkinkan pasien mendapatkan dukungan penuh dari keluarga.
“Kondisi serupa juga terjadi pada masyarakat sini (Trenggalek, Red). Data yang kami dapat dari dinas kesehatan (dinkesdalduk KB, Red) mencatat, jumlah penderita stroke pada 2019 mencapai 3.771 jiwa, dengan Desa Karangsoko sebagai wilayah dengan kasus tertinggi di area kerja Puskesmas Trenggalek,” katanya.
Untuk merespons hal tersebut, sebagai bentuk program tridarma perguruan tinggi, tim dosen Poltekkes Malang Kampus Trenggalek bersama mahasiswa melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) berupa pemberdayaan keluarga sebagai caregiver bagi penyintas stroke.
Ini seperti yang dilaksanakan dosen Mimik Christiani bersama tim yang dipusatkan di Balai Desa Karangsoko, Kecamatan Trenggalek, Selasa (23/9/2025).
Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan melibatkan keluarga pasien, kader Posbindu, Posyandu Lansia, serta tenaga kesehatan desa.
Kegiatan dilaksanakan melalui beberapa tahapan antara lain sosialisasi dan edukasi peran keluarga dalam perawatan pasien, pelatihan keterampilan caregiver, pendampingan psikososial, serta pembentukan komunitas keluarga penyintas stroke.
Program juga melibatkan kader kesehatan agar keberlanjutan kegiatan dapat terjaga di tingkat desa.
“Dengan kolaborasi antara tenaga kesehatan, kader, pemerintah desa, dan keluarga, kita dapat membangun sistem dukungan yang berkelanjutan. Harapannya, penderita stroke tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga bisa menjalani kehidupan yang lebih berkualitas,” imbuh Mimik Christiani.
Program tersebut dinilai membawa dampak positif. Keluarga penderita stroke kini lebih terampil dalam memberikan perawatan sehari-hari, termasuk pengelolaan obat dan latihan fisik sederhana.
Pendampingan psikososial juga membantu menurunkan tingkat stres yang kerap dialami caregiver.
Selain itu, keberadaan komunitas keluarga penyintas stroke mendorong terciptanya dukungan sosial yang lebih kuat di masyarakat.
Dengan demikian, Desa Karangsoko diharapkan dapat menjadi contoh penerapan pemberdayaan keluarga dalam memperkuat layanan kesehatan berbasis masyarakat.
“Upaya yang kami laksanakan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup penyintas stroke serta memperkuat ketahanan keluarga dalam menghadapi penyakit katastropik,” jelasnya. (mal/c1/jaz)
Editor : Didin Cahya Firmansyah