TRENGGALEK - Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena kurang tidur semakin sering terjadi di berbagai kalangan.
Salah satu penyebab utamanya adalah meningkatnya durasi penggunaan gadget dan perangkat digital.
Mulai dari keperluan pekerjaan, sekolah daring, hiburan, hingga interaksi sosial di media digital, semuanya membuat masyarakat menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar.
Hal ini berdampak langsung pada pola tidur yang terganggu dan menurunnya kualitas kesehatan.
Waktu Layar yang Terus Bertambah
Data dari berbagai survei global menunjukkan bahwa rata-rata orang dewasa kini menghabiskan lebih dari 6–8 jam per hari di depan layar, baik itu komputer, ponsel, maupun televisi.
Bahkan, pada kalangan remaja, angkanya bisa lebih tinggi karena adanya kebiasaan bermain gim online dan mengakses media sosial hingga larut malam.
Di Indonesia, tren ini juga terlihat jelas.
Peningkatan akses internet yang semakin luas, ditambah dengan maraknya konten digital, membuat masyarakat semakin sulit melepaskan diri dari layar.
Akibatnya, jam tidur menjadi terpotong, terutama di malam hari ketika seharusnya tubuh beristirahat.
Kurang Tidur Bukan Sekadar Lelah
Tidur yang ideal bagi orang dewasa adalah 7–9 jam setiap malam, sementara remaja membutuhkan 8–10 jam.
Sayangnya, banyak orang kini hanya tidur 4–6 jam karena terlalu lama menatap layar gadget.
Kurang tidur dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai dampak serius, di antaranya:
- Menurunnya daya tahan tubuh sehingga lebih mudah sakit.
- Gangguan konsentrasi dan memori, yang berpengaruh pada kinerja dan prestasi belajar.
- Perubahan suasana hati seperti mudah marah, cemas, atau bahkan depresi.
- Risiko penyakit kronis, seperti hipertensi, diabetes, obesitas, dan penyakit jantung.
Efek Psikologis dari Paparan Layar
Paparan cahaya biru (blue light) dari layar ponsel atau komputer dapat menekan produksi hormon melatonin, yaitu hormon yang berfungsi mengatur siklus tidur.
Akibatnya, seseorang menjadi lebih sulit untuk tidur meskipun tubuh sudah lelah.
Selain itu, kebiasaan scrolling media sosial sebelum tidur sering membuat otak tetap aktif.
Informasi yang terus masuk justru membuat pikiran sibuk, sehingga kualitas tidur semakin buruk.
Bagi sebagian orang, fenomena ini disebut sebagai “doomscrolling”, yakni kebiasaan terus-menerus membaca informasi di internet hingga larut malam tanpa sadar waktu.
Fenomena di Kalangan Anak Muda
Generasi muda termasuk kelompok yang paling rentan mengalami kurang tidur karena gadget.
Banyak remaja dan mahasiswa yang terbiasa tidur larut karena asyik menonton serial, bermain gim, atau sekadar bersosialisasi lewat aplikasi pesan instan.
Padahal, kualitas tidur yang buruk di usia muda bisa memengaruhi kesehatan jangka panjang dan menurunkan produktivitas belajar.
Cara Mengurangi Waktu Layar dan Menjaga Kualitas Tidur
Untuk mencegah dampak negatif dari kebiasaan ini, ada beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan:
1. Batasi penggunaan gadget sebelum tidur minimal 1–2 jam.
2. Gunakan fitur night mode atau blue light filter agar cahaya layar lebih ramah bagi mata.
3. Disiplin terhadap jadwal tidur dengan tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari.
4. Alihkan kebiasaan menatap layar dengan aktivitas rileks, seperti membaca buku cetak, menulis jurnal, atau meditasi ringan.
5. Ciptakan lingkungan tidur yang nyaman, misalnya mematikan lampu, menjauhkan ponsel, dan menjaga suhu ruangan tetap sejuk.
6. Kurangi konsumsi kafein pada malam hari yang dapat mengganggu rasa kantuk alami. (*)