TRENGGALEK – Tidak sedikit orang tua di Trenggalek yang menghadapi tantangan ketika anak sulit makan atau hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu saja.
Kondisi ini dikenal dengan istilah picky eater. Meskipun tampak sepele, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi kecukupan gizi anak apabila tidak segera ditangani dengan cara yang tepat.
Kebiasaan memilih makanan biasanya muncul pada usia dini, saat anak mulai mengenal beragam rasa.
Namun, jika berlangsung dalam jangka waktu lama, hal ini dapat mengakibatkan kekurangan zat gizi penting seperti protein, zat besi, serta vitamin yang berperan penting dalam proses tumbuh kembang anak.
Apa Itu Picky Eater?
Istilah picky eater digunakan untuk menggambarkan seseorang, khususnya anak-anak, yang sangat selektif terhadap makanan.
Anak dengan kebiasaan ini umumnya menolak untuk mencoba makanan baru dan hanya mengonsumsi makanan yang sudah dikenalnya.
Kondisi tersebut dapat dipicu oleh berbagai faktor seperti rasa, tekstur, warna, maupun pengalaman makan yang tidak menyenangkan di masa lalu.
Mengapa Anak Bisa Menjadi Picky Eater?
Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan anak menjadi picky eater, mulai dari aspek psikologis hingga pola asuh di lingkungan keluarga.
• Faktor pengalaman makan. Anak yang pernah dipaksa mengonsumsi makanan yang tidak disukai cenderung menolak makanan serupa di kemudian hari.
• Rasa ingin tahu yang tinggi. Pada masa pertumbuhan, anak sering kali tertarik pada bentuk dan warna makanan.
Apabila tampilannya kurang menarik, mereka bisa langsung menolak tanpa mencobanya.
• Kebiasaan makan keluarga. Anak cenderung meniru perilaku makan orang tuanya.
Jika orang tua juga suka memilih-milih makanan, anak berpotensi mengembangkan kebiasaan yang sama.
Ciri-Ciri Anak yang Termasuk Picky Eater
Beberapa tanda umum yang menunjukkan anak termasuk picky eater antara lain:
• Hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu, misalnya nasi putih saja tanpa lauk.
• Menolak makanan baru meskipun belum pernah mencobanya.
• Memisahkan lauk dan sayur di piring.
• Membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan makanan.
Apabila kebiasaan ini terjadi secara terus-menerus, orang tua perlu mulai memperhatikan pola makan anak agar tidak berdampak buruk terhadap kesehatannya.
Tips Mengatasi Anak Picky Eater
• Sajikan makanan dengan tampilan menarik.
Gunakan bentuk lucu atau warna yang cerah agar anak tertarik mencobanya.
Contohnya, potongan wortel berbentuk bintang atau nasi yang dibentuk menyerupai karakter favorit anak.
• Ajak anak ikut menyiapkan makanan.
Ketika anak dilibatkan dalam proses memasak, mereka biasanya lebih bersemangat untuk mencicipi hasil masakannya sendiri.
• Hindari memaksa makan.
Pemaksaan justru dapat menimbulkan trauma terhadap makanan tertentu.
Sebaiknya, tawarkan alternatif sehat dengan cara yang lembut dan sabar.
• Beri contoh positif.
Anak meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya. Apabila orang tua terlihat menikmati sayur dan buah, anak akan lebih mudah meniru kebiasaan tersebut.
• Atur jadwal makan secara teratur.
Pemberian jadwal makan yang konsisten membantu anak mengenali rasa lapar dan kenyang secara alami, serta menjaga pola makan yang lebih baik.
Apabila anak menunjukkan tanda-tanda penurunan berat badan, mudah lelah, atau terlihat kurang bertenaga, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter anak atau ahli gizi.
Pemeriksaan medis dapat membantu menemukan penyebab pasti sekaligus memberikan solusi agar kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi.
Kebiasaan picky eater dapat diatasi dengan pendekatan yang penuh kesabaran serta konsistensi dalam mendidik anak mengenal berbagai rasa dan tekstur makanan.
Bagi para orang tua di Trenggalek, tidak perlu merasa khawatir berlebihan.
Dengan memberikan contoh yang baik serta menciptakan suasana makan yang menyenangkan, anak akan perlahan terbiasa menikmati makanan bergizi tanpa paksaan.
Editor : Didin Cahya Firmansyah