Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Viral, Rahim Ibu di Garut Copot Usai Ditangani Dukun Beranak, dr Gia Pratama Ungkap Kronologinya

Eka Putri Wahyuni • Selasa, 11 November 2025 | 17:00 WIB

 

Seorang ibu di Garut alami rahim copot usai melahirkan dengan dukun beranak. dr Gia Pratama ungkap kronologi lengkap hingga penanganan darurat di rumah sakit.
Seorang ibu di Garut alami rahim copot usai melahirkan dengan dukun beranak. dr Gia Pratama ungkap kronologi lengkap hingga penanganan darurat di rumah sakit.

GARUT– Kasus medis ekstrem terjadi di Garut, Jawa Barat, dan kini tengah menjadi sorotan publik setelah kisahnya diceritakan oleh dr Gia Pratama dalam podcast bersama komika Raditya Dika. 

Seorang wanita di Garut dilaporkan mengalami pendarahan hebat setelah melahirkan dengan bantuan dukun beranak, di mana rahimnya terlepas atau “copot” keluar dari tubuh.

Peristiwa mengerikan di Garut itu diungkap oleh dr Gia dalam tayangan di kanal YouTube Raditya Dika pada Kamis (6/11/2025). 

Dia menuturkan bahwa kasus tersebut terjadi saat dirinya sedang bertugas di IGD RSUD dr. Selamat, Garut.

“Aku lagi jaga IGD jam dua pagi, tiba-tiba ada keluarga pasien datang membawa kantong kresek hitam dan minta konsultasi,” ujar dr Gia, dikutip Senin (10/11/2025).

Awalnya, dr Gia mengira isi kantong tersebut hanya sampel medis biasa.

 Namun saat dibuka, ia terkejut karena yang dibawa ternyata rahim milik pasien yang baru saja melahirkan.

“Masya Allah, ini mah rahim. Ini yang punyanya mana? Di mobil, dok. Ya sudah, segera bawa ke sini,” ucapnya menceritakan kembali kejadian itu.

Mendengar cerita itu, Raditya Dika pun terkejut dan memastikan apakah benar organ tersebut terlepas dari tubuh pasien.

“Rahimnya copot dari badannya?” tanya Raditya.

“Ada di kantong kresek,” jawab dr Gia.

Baca Juga: Pengambilan HP Siswa SMPN 1 Trenggalek Oleh Camat Pule sebagai Bentuk Pelayanan Publik dan Permintaan Warga

Kronologi Kejadian: Rahim Copot Setelah Ditarik Paksa

Menurut dr Gia, peristiwa itu bermula ketika proses persalinan dilakukan bukan di fasilitas kesehatan, melainkan oleh seorang dukun beranak yang dikenal masyarakat setempat dengan nama Pak Raji.

Ia menjelaskan bahwa setelah bayi lahir, seharusnya plasenta keluar secara alami dalam waktu sekitar 15 menit.

 Namun sang dukun beranak diduga tidak sabar menunggu, lalu menarik tali pusar secara paksa.

“Plasenta itu nempel di rahim. Harusnya sabar, nanti lepas sendiri. Tapi si Pak Raji ini malah menarik tali pusar, akhirnya rahimnya ikut ketarik turun, nongol di vagina, lalu ditarik lagi, dan copot semuanya,” terang dr Gia.

Tindakan berbahaya itu membuat rahim pasien benar-benar terlepas dari tubuhnya, menyebabkan pendarahan hebat dan membuat korban dalam kondisi kritis.

Penanganan Darurat di Rumah Sakit

Usai kejadian, pasien langsung dibawa ke IGD RSUD dr. Selamat Garut dalam keadaan lemas dan kehilangan banyak darah.

 Tim medis segera melakukan tindakan penyelamatan darurat, termasuk pemasangan infus dan transfusi darah.

Menurut dr Gia, kondisi pasien saat itu sangat mengkhawatirkan. 

Tim medis bahkan sempat mempertimbangkan tindakan pengangkatan rahim permanen (histerektomi) jika kerusakan organ terlalu parah. Namun berkat penanganan cepat, kondisi pasien berhasil distabilkan.

“Alhamdulillah pasiennya bisa selamat, walaupun kondisinya sempat sangat parah,” jelas dr Gia.

Kisah ini menjadi peringatan keras tentang pentingnya melahirkan di fasilitas kesehatan resmi dengan tenaga medis profesional. 

Dukun beranak tradisional sering kali tidak memiliki pengetahuan medis memadai, sehingga tindakan yang dilakukan bisa menimbulkan risiko besar bagi keselamatan ibu dan bayi.

Pesan Penting dr Gia: Pilih Tenaga Medis yang Tepat

dr Gia berharap masyarakat tidak lagi mempercayakan proses persalinan kepada tenaga nonmedis, sekalipun dianggap “berpengalaman”.

Menurutnya, persalinan adalah proses medis yang bisa berujung fatal bila terjadi komplikasi seperti perdarahan, infeksi, atau keluarnya organ dalam tubuh.

“Persalinan itu bukan hal sepele. Kalau salah tindakan sedikit saja, nyawa ibu dan bayinya bisa terancam,” pesannya.

Kini, pasien yang rahimnya sempat terlepas tersebut berangsur pulih, namun tetap menjalani pemantauan intensif untuk memastikan fungsi tubuhnya kembali normal.

Kasus ini menjadi contoh nyata betapa pentingnya edukasi kesehatan ibu dan anak di masyarakat, agar kejadian serupa tidak terulang. (*)

 

SUKA TEMBANG: Qonita Lillahi Hanifa. (YAYAN UNTUK JPRM)
SUKA TEMBANG: Qonita Lillahi Hanifa. (YAYAN UNTUK JPRM)
APRESIASI: PPPK Petra memberikan apresiasi berupa potongan uang sekolah dan uang pengembangan selama para siswa menempuh pendidikan di sekolah-sekolah PPPK Petra.(IST/RADAR SURABAYA)
APRESIASI: PPPK Petra memberikan apresiasi berupa potongan uang sekolah dan uang pengembangan selama para siswa menempuh pendidikan di sekolah-sekolah PPPK Petra.(IST/RADAR SURABAYA)
KEBANGGAN: Dukungan orang tua menjadi energi bagi para siswa untuk terus meraih pencapaian terbaik di ajang nasional dan internasional.(IST/RADAR SURABAYA)
KEBANGGAN: Dukungan orang tua menjadi energi bagi para siswa untuk terus meraih pencapaian terbaik di ajang nasional dan internasional.(IST/RADAR SURABAYA)
Photo
Photo
Editor : Didin Cahya Firmansyah
#copot #garut #rahim ibu #viral