TRENGGALEK – Motif utama orangtua saat anak mengalami kejang tentulah melindungi dan memberi pertolongan secepat mungkin.
Namun, kenyataannya, banyak anak yang mengalami kejang justru mendapatkan tindakan yang keliru karena panik.
Dokter spesialis anak mengingatkan agar semua orangtua memahami terlebih dulu apa yang tidak boleh dilakukan, terutama ketika melihat anak kejang.
Keyword utama “anak mengalami kejang” harus kita pahami bersama sebagai kondisi serius yang memerlukan penanganan tepat.
Kenali kondisi anak mengalami kejang dan reaksi orangtua
Saat seorang anak mengalami kejang, biasanya orangtua merespons dengan cepat, namun respons tersebut kadang tidak tepat.
Beberapa kebiasaan yang dilandasi kecemasan justru bisa membahayakan si kecil.
Menurut paparan dari para dokter, memasukkan sendok atau jari ke dalam mulut anak untuk mencegah lidah tergigit adalah salah satu contoh kesalahan fatal yang masih sering terjadi.
Bahkan tindakan memijat atau menepuk tubuh anak yang kejang pun bisa memperburuk kondisi dan bukan bagian dari pertolongan pertama yang disarankan.
Jadi, saat anak mengalami kejang, orangtua harus tetap tenang, pahami motivasi membantu dengan tepat, dan hindari tindakan yang memperbesar risiko cedera.
Mengapa anak mengalami kejang bisa jadi risiko besar?
Keluhan kejang pada anak bisa muncul dalam berbagai bentuk, dari tubuh yang tiba-tiba kaku, menggeliat, hingga kehilangan kesadaran.
Dalam artikel edukasi disebutkan bahwa kejang yang berlangsung lebih dari beberapa menit dapat menimbulkan kerusakan sel otak yang tidak bisa diperbaiki.
Misalnya, jika kejang berlangsung terus-menerus dan tidak mendapat respons medis, maka risiko komplikasi tumbuh kembang anak meningkat.
Itulah sebabnya memahami langkah tepat saat anak mengalami kejang sangat penting.
Kesalahan umum dan tindakan yang musti dihindari
Beberapa kesalahan umum yang banyak dilakukan orangtua ketika anak mengalami kejang:
1. Memasukkan benda keras (seperti sendok) ke mulut anak untuk mencegah lidah tergigit.
Padahal, ini bisa menyebabkan luka rongga mulut, patah gigi, tersedak, atau sumbatan jalur napas.
2. Memasukkan jari tangan sendiri ke dalam mulut anak. Hal itu juga berisiko melukai tangan orangtua atau bahkan tertelan.
3. Menahan gerakan tubuh anak atau mencoba menghentikan kejang dengan paksa. Ini dapat menyebabkan patah tulang atau cedera.
4. Tidak mencatat durasi kejang atau menunda mencari pertolongan medis bila kejang tidak berhenti dalam waktu tertentu.
Langkah tepat saat anak mengalami kejang
Sebaliknya, berikut adalah langkah pertolongan yang direkomendasikan:
1. Tetap tenang dan amati kondisi anak. Panik justru bisa menghambat tindakan yang benar.
2. Letakkan anak pada permukaan yang aman dan datar, jauhkan dari benda tajam atau keras.
3. Baringkan anak dalam posisi miring agar muntahan atau air liur tidak menyebabkan tersedak.
4. Longgarkan pakaian di leher dan kepala, jangan menahan tubuh atau memasukkan apapun ke mulut anak.
5. Catat waktu mulai kejang. Bila kejang berlangsung lebih dari 3-5 menit atau disertai perubahan warna kulit (membiru) atau kesulitan bernapas, segera bawa ke IGD.
6. Setelah kejang berhenti, tetap awasi anak dan konsultasikan dengan dokter untuk pemeriksaan lanjutan atau petunjuk selanjutnya.
Mengapa edukasi orangtua penting?
Dengan semakin banyaknya kasus anak yang mengalami kejang, baik karena demam tinggi, kondisi neurologis, atau faktor lainnya, oleh karena itu edukasi orang tua menjadi sangat krusial.
Artikel dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut bahwa sebagian besar kejang demam memang tidak berbahaya untuk otak, tetapi bila tidak ditangani dengan tepat bisa memunculkan dampak jangka panjang.
Menyiapkan orangtua dengan pengetahuan yang benar tentang pertolongan pertama dan kesalahan yang harus dihindari dapat menyelamatkan kehidupan anak dan mencegah komplikasi serius.
Saat seorang anak mengalami kejang, bukan hanya tindakan cepat yang penting, tetapi tindakan yang tepat.
Sebaliknya, tetap tenang, amankan lingkungan, layangkan bantuan medis bila perlu, dan jangan ragu untuk membawa anak ke dokter. Dengan begitu, kita bukan hanya bereaksi, tetapi melindungi dengan pengetahuan.
Editor : Didin Cahya Firmansyah