TRENGGALEK – Konten edukasi bertema mitos kesehatan yang dibawakan dokter sekaligus influencer, Tirta Mandira Hudhi atau Dokter Tirta, menghadirkan sesi tanya jawab santai langsung dari garasi rumahnya di Yogyakarta.
Dalam format tersebut, ia menjawab berbagai pertanyaan warganet dan membongkar anggapan populer seputar tubuh manusia yang kerap beredar di media sosial.
Video bertajuk “Menjawab Mitos & Fakta Kesehatan di Garasi!” itu memuat sederet topik, mulai produksi air liur, stabilitas asam lambung, hingga bahaya makanan terlalu panas.
Penjelasan tersebut menjadi penting karena mitos kesehatan yang keliru kerap beredar tanpa dasar ilmiah, sehingga membingungkan masyarakat.
Hubungan Air Liur, Hormon, dan Asam Lambung
Pertanyaan pertama datang soal apakah produksi air liur berlebih menandakan peningkatan asam lambung.
Dokter Tirta menjelaskan bahwa hal itu bisa benar, bisa tidak, karena respons tubuh dipengaruhi metabolisme, hormon, dan aktivitas sistem saraf.
Menurutnya, hormon ghrelin yang meningkat saat lapar dapat merangsang produksi air liur.
Di sisi lain, ludah dan asam lambung memang saling berkaitan karena keduanya merupakan bagian dari sistem pencernaan.
Namun kondisi seperti perubahan cuaca ekstrem hingga retensi cairan tubuh juga dapat memengaruhi produksi air liur.
Karena itu, menyimpulkan produksi ludah sebagai tanda asam lambung meningkat tidak selalu tepat.
Baca Juga: 9 Manfaat Minum Teh Tanpa Gula untuk Kesehatan Tubuh, Lebih Sehat dan Rendah Kalori
Air pH Tinggi untuk Menetralkan Lambung, Mitos atau Fakta?
Topik mitos kesehatan berikutnya menyangkut air putih dengan pH tinggi.
Banyak anggapan bahwa air “alkali” mampu menetralkan asam lambung.
Dokter Tirta menegaskan bahwa tubuh telah memiliki sistem stabilisasi alami yang menyeimbangkan apa pun yang masuk ke kerongkongan.
Meski ada air mineral dengan kandungan tertentu yang bersifat lebih basa, ia menyebut penelitian ilmiahnya masih perlu dikaji lebih lanjut.
“Pada dasarnya semua cairan yang masuk akan distabilkan oleh asam lambung,” ujarnya.
Fungsi utama asam lambung sendiri adalah membunuh bakteri dan virus yang ikut masuk bersama makanan atau minuman.
Namun ia mengingatkan bahwa konsumsi minuman yang terlalu asam, seperti kopi atau jeruk dapat memicu produksi asam lambung berlebih, terutama pada penderita GERD.
Lidah Mati Rasa Setelah Makanan Panas
Pertanyaan lain menyentuh fenomena lidah mati rasa setelah makan atau minum terlalu panas.
Dokter Tirta menjelaskan bahwa kondisi tersebut bukan benar-benar hilang rasa, melainkan kerusakan mukosa dan peradangan pada saraf-saraf sensorik lidah.
Saat mukosa melepuh, sistem peradangan akan aktif dan menurunkan sensitivitas indra pengecap.
Hal yang sama juga terjadi saat mengonsumsi minuman terlalu dingin yang memicu brain freeze.
Karena itu, ia menyarankan konsumsi makanan dan minuman dalam suhu hangat untuk menjaga kesehatan mukosa mulut.
Hidung Tersumbat saat Tidur, Kenapa Pindah-Pindah?
Kasus sehari-hari seperti hidung tersumbat juga dibahas.
Menurut Dokter Tirta, perpindahan sumbatan hidung saat tidur disebabkan oleh posisi lendir di sinus yang berubah mengikuti arah gravitasi.
Ketika lendir mengental akibat infeksi atau alergi, mukosa hidung ikut membengkak sehingga menutup saluran napas.
Ia menekankan pentingnya memeriksakan diri ke dokter THT untuk memperoleh obat yang tepat, termasuk untuk mengencerkan lendir dan meredakan pembengkakan.
Mendorong ingus keluar terlalu kuat justru bisa menyebabkan mimisan akibat pecahnya pembuluh darah kecil di hidung.
Penderita Hernia, Boleh Olahraga atau Tidak?
Pada bagian akhir, muncul pertanyaan tentang apakah penderita hernia boleh berlari atau angkat beban.
Menurutnya, keputusan tersebut hanya dapat diberikan oleh dokter bedah, tergantung tingkat keparahan dan proses pemulihan pasien.
Olahraga tertentu meningkatkan tekanan intraabdomen, seperti saat melakukan deadlift atau sprint, sehingga berisiko memperparah hernia.
Dokter biasanya menyarankan aktivitas ringan terlebih dahulu sebelum kembali ke intensitas tinggi.
Melalui penjelasan lugas dan berbasis medis tersebut, Dokter Tirta kembali menegaskan pentingnya memisahkan mitos kesehatan dari fakta ilmiah.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak sembarangan mengambil kesimpulan dari informasi viral di media sosial, terutama yang menyangkut kondisi tubuh dan pengobatan. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah