Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Konsumsi Gula Berlebih, Dinkesdalduk KB Trenggalek Sebut Sama Bahayanya dengan Merokok

Zaki Jazai • Selasa, 13 Januari 2026 | 08:05 WIB
Penerimaan bea cukai tembakau menurun karena warga pilih rokok murah.
Penerimaan bea cukai tembakau menurun karena warga pilih rokok murah.

TRENGGALEK – Konsumsi minuman manis bergula berlebihan dinilai membawa ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di Kabupaten Trenggalek.

Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PKKB) Trenggalek menyebut kebiasaan tersebut berpotensi memicu berbagai penyakit kronis, salah satunya diabetes melitus.

Kepala Dinkes PKKB Trenggalek, dr Sunarto, menjelaskan bahwa risiko kesehatan akibat konsumsi gula berlebih dapat disejajarkan dengan bahaya rokok apabila dilakukan secara terus-menerus tanpa pengendalian.

“Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang dipengaruhi kombinasi faktor genetik dan gaya hidup, seperti kurang aktivitas fisik, pola makan tinggi gula dan lemak, obesitas, serta stres,” ujar dr Sunarto, Jumat (9/1/2026).

Untuk menekan kasus diabetes melitus, Dinkes Trenggalek melakukan berbagai upaya pencegahan.

Upaya tersebut mulai dari edukasi melalui penyuluhan, skrining gula darah sejak dini, pemeriksaan pada anak sekolah, hingga kelompok usia produktif melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Baca Juga: 9 Manfaat Minum Teh Tanpa Gula untuk Kesehatan Tubuh, Lebih Sehat dan Rendah Kalori

Selain itu, penderita diabetes memperoleh layanan rutin setiap bulan berupa konseling kesehatan, pemeriksaan kadar gula darah, serta rujukan medis apabila diperlukan. Tak hanya konsumsi gula.

Dinkes PKKB Trenggalek per 22 Desember 2025 mencatat jumlah penderita diabetes melitus tercatat mencapai 10.714 orang.

Seluruh kasus tersebut berasal dari kelompok usia 15 tahun ke atas dan penderita didominasi oleh perempuan.

“Proporsi penderita perempuan lebih tinggi, yakni 64,16 persen, sedangkan laki-laki 35,84 persen,” ungkapnya.

Menurutnya, baik gula maupun rokok sama-sama memberikan dampak besar terhadap kesehatan masyarakat, terutama dalam meningkatkan risiko penyakit tidak menular.

Konsumsi gula berlebihan disebut menjadi salah satu faktor utama terjadinya diabetes melitus. Sedangkan rokok mempunyai risiko terhadap kesehatan.

Berbagai penyakit berat, seperti kanker paru-paru, kanker mulut dan tenggorokan, penyakit jantung, stroke, serta gangguan pernapasan kronis adalah penyakit kronis yang dapat timbul karena rokok. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#diabetes melitus #trenggalek #Dinkesdalduk KB