TRENGGALEK - Kasus orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kabupaten Trenggalek hingga kini masih menjadi perhatian serius.
Data dari Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkesdalduk KB) Trenggalek mencatat bahwa di lapangan, mayoritas penderita gangguan jiwa adalah kelompok laki-laki.
“Laki-laki ini cenderung introver, tidak sering bercerita. Masalahnya dipendam sendiri sehingga stresnya terus menumpuk,” kata Kepala Dinkesdalduk KB Kabupaten Trenggalek, dr Sunarto.
Dominasi kasus ODGJ pada laki-laki tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis dan sosial.
Salah satunya adalah kecenderungan laki-laki yang jarang mengungkapkan permasalahan pribadi kepada orang lain.
Selain faktor psikologis, beban ekonomi dan sosial juga berperan besar terhadap kondisi mental laki-laki.
Sunarto mengungkapkan, tanggung jawab sebagai pencari nafkah utama kerap menimbulkan tekanan yang bertingkat.
Mulai tekanan di rumah, kantor, bahkan lingkungan sosial.
“Di rumah dituntut mencukupi kebutuhan, di kantor ditekan atasan, di lingkungan sosial juga dituntut macam-macam. Ini sangat memengaruhi kehidupan emosional seseorang,” jelasnya.
Tekanan yang terus-menerus tersebut tidak hanya berdampak pada kondisi mental, tetapi juga memicu gangguan fisik.
Gejala psikosomatis kerap muncul sebagai tanda awal yang sering diabaikan.
“Kalau stres ini tidak tersalurkan dengan baik, tidak sharing, tidak mencari bantuan ahli, bisa berlanjut hingga gangguan jiwa berat,” ujarnya.
Dia menjelaskan, gangguan mental ringan apabila bisa dideteksi dari dini dapat menjadi langkah konkret untuk mencegah kondisi mental seseorang semakin parah.
Upaya pencegahan tersebut dinilai efektif menekan risiko munculnya kasus gangguan jiwa yang lebih serius di masyarakat.
“Kalau gangguan mental ringan bisa terdeteksi lebih awal, bisa dicegah agar tidak berkembang menjadi ODGJ,” katanya.
Dia juga menyampaikan bahwa karakteristik ODGJ bersifat kronis sehingga jumlah kasus cenderung stabil dari tahun ke tahun.
Kondisi tersebut membuat tidak terjadi lonjakan signifikan pada kasus baru. dr Sunarto menyebut jumlah ODGJ relatif stabil dari tahun ke tahun, berkisar antara 1.000 hingga 1.500 orang.
“ODGJ ini sifatnya kronis, jadi jumlahnya relatif sama setiap tahun. Tidak ada lonjakan signifikan kasus baru,” pungkasnya. (tra/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah