Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Bedanya GERD dan Asam Lambung Biasa, Dokter Ungkap Gejala, Penyebab, hingga Obat yang Tepat Jangan Sampai Salah Minum

Muhamad Ahsanul Wildan • Kamis, 12 Februari 2026 | 15:00 WIB
Bedanya GERD dan asam lambung biasa penting dipahami. Ini gejala, penyebab, dan obat yang tepat menurut dokter.
Bedanya GERD dan asam lambung biasa penting dipahami. Ini gejala, penyebab, dan obat yang tepat menurut dokter.

RADAR TULUNGAGUNG - Banyak masyarakat masih bingung membedakan GERD dan asam lambung biasa.

Padahal, keduanya memiliki perbedaan mendasar, baik dari sisi penyebab maupun gejalanya. Kesalahan memahami kondisi ini bisa berujung pada penanganan yang tidak tepat.

Dalam penjelasan seorang dokter melalui kanal kesehatan, dijelaskan bahwa bedanya GERD dan asam lambung biasa terletak pada lokasi masalahnya.

Jika asam lambung biasa atau yang sering disebut sakit maag, gangguan masih berada di lambung.

Sementara pada GERD (Gastroesophageal Reflux Disease), asam lambung sudah naik ke kerongkongan dan menimbulkan keluhan yang lebih luas.

Pemahaman mengenai bedanya GERD dan asam lambung biasa penting agar masyarakat tidak sembarangan mengonsumsi obat, terutama obat warung yang hanya bersifat meredakan sementara.

Perbedaan Gejala Maag dan GERD

Sakit maag umumnya ditandai dengan nyeri atau rasa panas di ulu hati, mual, muntah, serta perut terasa kembung.

Keluhan ini masih berpusat di area lambung. Rasa tidak nyaman biasanya muncul setelah makan atau saat lambung kosong terlalu lama.

Sedangkan GERD memiliki gejala yang lebih khas. Pasien sering merasakan panas di dada seperti terbakar (heartburn), mulut terasa pahit, hingga sensasi asam yang naik ke tenggorokan.

Kondisi ini terjadi karena asam lambung dan isi lambung bergerak naik ke atas, mengenai dinding kerongkongan yang tidak memiliki perlindungan sekuat lambung.

“Inilah yang membedakan. Kalau sakit maag, problemnya masih di lambung. Tapi kalau GERD, asam lambung sudah naik ke kerongkongan,” jelas dokter tersebut.

Jika dibiarkan, GERD dapat menyebabkan iritasi kronis pada kerongkongan dan memicu komplikasi lebih serius.

Obat Warung Hanya Redakan Sementara

Di masyarakat, obat maag yang banyak beredar umumnya termasuk golongan antasida.

Obat ini bekerja dengan cara menetralkan asam lambung. Efeknya memang cepat meredakan keluhan, tetapi hanya bersifat sementara.

Beberapa produk juga ditambah obat anti-kembung. Ada pula sukralfat yang dikenal dalam bentuk cair berwarna pink.

Fungsinya hanya sebagai pelapis dinding lambung, bukan menekan produksi asam lambung.

Artinya, jika keluhan disebabkan oleh produksi asam lambung berlebihan atau sudah masuk kategori GERD, penggunaan antasida saja tidak cukup.

Obat Penekan Produksi Asam Lambung

Untuk mengatasi asam lambung berlebih, dokter biasanya meresepkan obat yang menekan produksi asam lambung. Ada beberapa kelompok obat yang umum digunakan.

Pertama, golongan antagonis reseptor H2 seperti ranitidin, simetidin, dan nizatidin. Obat ini bekerja mengurangi produksi asam, meski kini penggunaannya semakin terbatas.

Kedua, kelompok penghambat pompa proton (Proton Pump Inhibitor/PPI) seperti omeprazol, lansoprazol, rabeprazol, dan esomeprazol. Obat ini lebih efektif dalam menekan produksi asam lambung dibanding antasida.

Terbaru, ada kelompok Potassium Competitive Acid Blocker (PCAB) seperti vonoprazan dan tegoprazan.

Obat generasi terbaru ini bekerja langsung pada sel parietal di lambung untuk menekan produksi asam lambung secara lebih cepat dan bertahan lebih lama.

Keunggulan PCAB adalah efeknya yang bisa bekerja hingga 24 jam dan tidak tergantung waktu makan. Artinya, obat bisa diminum sebelum atau sesudah makan tanpa mengurangi efektivitasnya.

Jangan Sembarangan Minum Obat

Dokter menekankan pentingnya diagnosis yang tepat sebelum menentukan jenis obat.

Tidak semua nyeri ulu hati berarti GERD, dan tidak semua keluhan asam lambung cukup diatasi dengan antasida.

Jika gejala seperti panas di dada, mulut pahit, atau rasa asam di tenggorokan muncul berulang, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter. Penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi jangka panjang.

Memahami bedanya GERD dan asam lambung biasa menjadi langkah awal agar masyarakat tidak salah.

Jangan hanya mengandalkan obat warung jika keluhan terus berulang, karena bisa jadi kondisi yang dialami sudah masuk kategori GERD yang membutuhkan terapi lebih spesifik.

 

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#asam lambung #gerd #sakit maag #Omeprazol #obat asam lambung