Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

GERD Sering Disangka Serangan Jantung, Ini Penjelasan Prof Ari Syam soal Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasi Asam Lambung Naik

Muhamad Ahsanul Wildan • Kamis, 12 Februari 2026 | 15:10 WIB

 

GERD sering disangka serangan jantung. Ini penjelasan gejala, penyebab, dan cara mengatasi asam lambung naik.
GERD sering disangka serangan jantung. Ini penjelasan gejala, penyebab, dan cara mengatasi asam lambung naik.

RADAR TRENGGALEK - GERD sering kali disalahartikan sebagai serangan jantung karena sama-sama menimbulkan nyeri atau rasa panas di dada.

Padahal, GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease merupakan penyakit akibat asam lambung yang naik ke kerongkongan.

Menurut Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterohepatologi, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, GERD termasuk kelompok acid related disease, yakni penyakit yang berkaitan dengan produksi asam lambung berlebih dan refluks.

“Pasien biasanya merasakan panas di dada seperti terbakar dan mulut terasa pahit. Ini terjadi karena isi lambung naik kembali ke kerongkongan,” jelasnya.

Kondisi ini tidak boleh dianggap remeh. Jika dibiarkan berulang, refluks asam lambung dapat merusak dinding kerongkongan.

Mengapa Asam Lambung Bisa Naik ?

Secara medis, GERD terjadi ketika katup antara lambung dan kerongkongan melemah sehingga tidak menutup sempurna.

Akibatnya, asam lambung yang memiliki tingkat keasaman tinggi (pH 1–2) naik ke kerongkongan yang seharusnya hanya mentoleransi pH 4–6.

Selain faktor katup lambung, gaya hidup menjadi pemicu utama. Konsumsi makanan berkafein, cokelat, dan keju dapat meningkatkan produksi asam lambung atau memperlambat pengosongan lambung. Kebiasaan langsung tidur setelah makan juga memperbesar risiko refluks.

“Anjurannya, tidur minimal dua sampai tiga jam setelah makan. Karena makanan di lambung bisa bertahan sekitar enam jam,” tegas Prof Ari.

Faktor kegemukan, merokok, konsumsi alkohol, dan kurang olahraga juga memperparah risiko GERD.

Stres Bisa Picu GERD

Tak hanya pola makan, kondisi psikologis turut berperan. Stres dan kecemasan dapat meningkatkan produksi asam lambung. Pada sebagian pasien, serangan GERD muncul saat kondisi emosional tidak stabil.

“Kecemasan membuat produksi asam lambung meningkat. Karena itu, pengendalian diri penting dalam terapi,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi tenang dapat membantu mengontrol gejala. Bahkan pada momen tertentu seperti saat berpuasa, sebagian pasien mengaku keluhan lambungnya berkurang karena lebih mampu mengelola stres dan pola makan.

Cara Mengatasi GERD

Penanganan GERD dilakukan melalui dua pendekatan utama: perubahan gaya hidup dan terapi obat.

Perubahan gaya hidup meliputi menghindari makanan pemicu seperti kopi, teh berkafein, cokelat, makanan berlemak, serta minuman bersoda.

Pasien juga dianjurkan menurunkan berat badan, berhenti merokok, dan mengurangi konsumsi alkohol.

Selain itu, hindari langsung berbaring setelah makan. Posisi tidur yang terlalu cepat setelah makan memudahkan asam lambung naik.

Obat GERD, Mana yang Efektif ?

Di pasaran, tersedia berbagai obat asam lambung. Antasida dalam bentuk tablet atau sirup hanya berfungsi menetralkan asam lambung sementara. Begitu pula sukralfat yang bekerja sebagai pelapis dinding lambung.

Terapi utama GERD adalah obat yang menekan produksi asam lambung. Kelompok penghambat pompa proton (PPI) seperti omeprazole, lansoprazole, pantoprazole, esomeprazole, dan rabeprazole terbukti efektif menurunkan produksi asam.

Kini juga tersedia obat generasi terbaru seperti vonoprazan yang bekerja lebih spesifik dan kuat dalam menekan produksi asam lambung.

Namun, Prof Ari mengingatkan bahwa pengobatan GERD tidak instan. Dibutuhkan waktu sekitar 6–8 minggu untuk benar-benar menekan produksi asam lambung dan menyembuhkan peradangan.

“Banyak pasien merasa sudah membaik dalam dua minggu lalu berhenti kontrol. Padahal terapi harus dijalankan sampai tuntas,” tegasnya.

Benarkah Permen Karet Membantu ?

Di masyarakat berkembang anggapan bahwa mengunyah permen karet bisa mencegah asam lambung naik.

Namun menurut Prof Ari, kebiasaan ini justru bisa meningkatkan udara yang masuk ke lambung dan memperparah rasa kembung.

Karena itu, penderita GERD sebaiknya tidak bergantung pada mitos, melainkan fokus pada pola hidup sehat dan pengobatan yang tepat.

GERD memang kerap dianggap sepele. Namun jika nyeri dada, sensasi terbakar, dan mulut pahit terjadi berulang, segera konsultasikan ke dokter.

Diagnosis yang tepat penting agar tidak salah mengira sebagai penyakit jantung atau gangguan lain.

Dengan pengelolaan yang benar, GERD dapat dikendalikan dan kualitas hidup tetap terjaga.

 

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#asam lambung #gerd #Prof Ari Syam #Refluks Asam #obat gerd