Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Kisah Inspiratif Tanaman Obat Sari Alam Ciwidey, Berawal dari Lawan Kanker, Kini Miliki 900 Koleksi dan Raih Kalpataru

Muhamad Ahsanul Wildan • Kamis, 12 Februari 2026 | 17:27 WIB
Tanaman obat Sari Alam Ciwidey bermula dari perjuangan lawan kanker hingga miliki 900 koleksi dan raih Kalpataru.
Tanaman obat Sari Alam Ciwidey bermula dari perjuangan lawan kanker hingga miliki 900 koleksi dan raih Kalpataru.

RADAR TRENGGALEK - Perjalanan panjang pengembangan tanaman obat di Indonesia tak lepas dari peran individu yang tekun dan konsisten.

Salah satunya adalah Odai, perempuan asal Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang membangun kawasan konservasi dan edukasi tanaman obat bernama Sari Alam.

Kisah kecintaan Odai terhadap tanaman obat bermula pada 1991, saat ia menjalani pengobatan kanker.

Dalam kondisi tubuh yang tak lagi mampu menerima berbagai zat kimia, ia mencari alternatif lain melalui pengobatan tradisional berbasis herbal.

Dari situlah perjalanan panjangnya dimulai. Selama enam tahun, Odai bersama sang suami mempelajari berbagai jenis tanaman herbal yang diyakini memiliki khasiat untuk pemulihan kesehatan.

Perlahan, ia merasakan manfaatnya dan mulai menanam sendiri tanaman-tanaman tersebut di pekarangan rumah.

Berawal dari Pekarangan Rumah

Perempuan yang kini berusia 69 tahun itu awalnya hanya ingin sembuh. Ia tak pernah bercita-cita menjadi penggerak konservasi tanaman obat. Namun, eksperimen kecil di halaman rumahnya berkembang pesat.

Di kawasan Ciwidey, Odai mulai membibitkan dan memperbanyak tanaman herbal. Tanaman yang dianggap cocok kemudian dikembangkan lagi. Prosesnya mengalir alami, tanpa ambisi besar di awal.

“Awalnya saya hanya ingin sehat. Tidak pernah bermimpi jadi seperti sekarang,” ungkapnya dalam sebuah wawancara.

Pada 2001, Odai dan suaminya mulai memperdalam ilmu tentang tanaman obat. Ia belajar dari berbagai ahli, mulai dari farmakologi, kimia tanaman, hingga ilmu tanah.

Pendekatannya bukan sekadar menanam, tetapi memahami habitat asli setiap tanaman.

Baca Juga: Obat Gatal Alami dari Bawang Putih Disebut Ampuh, Ramuan Sederhana Ini Diklaim Bisa Bunuh Bakteri dan Jamur Penyebab Gatal

Konservasi Sesuai Habitat Asli

Kini, kawasan Sari Alam berdiri di atas lahan lebih dari 21 hektare. Sekitar 900 jenis tanaman obat tumbuh di sana. Sebagian besar dibiarkan tumbuh liar menyesuaikan ekosistem aslinya.

Odai meyakini bahwa setiap tanaman memiliki kebutuhan habitat berbeda. Misalnya, ada tanaman yang tidak bisa terpapar matahari penuh, sementara lainnya membutuhkan kelembapan tertentu.

“Kalau kita paksa sesuai keinginan kita, belum tentu dia tumbuh optimal. Jadi kebun ini saya biarkan seperti hutan agar tanaman nyaman hidup,” jelasnya.

Konsep tersebut sejalan dengan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menyebut Indonesia memiliki sekitar 50 ribu jenis tanaman di dunia, sebagian besar tumbuh di wilayah tropis seperti Indonesia.

Kementerian Kesehatan juga mencatat sekitar 19 ribu tanaman telah digunakan sebagai ramuan tradisional.

Dari jumlah tersebut, lebih dari 16 ribu sudah teridentifikasi, dan sekitar 200 jenis digunakan secara luas sebagai bahan baku pengobatan tradisional.

Khasiat dan Potensi Tanaman Obat

Tanaman obat mengandung berbagai senyawa aktif seperti antiinflamasi, antioksidan, hingga imunomodulator.

Dalam praktiknya, satu jenis tanaman bisa memiliki banyak manfaat, tidak hanya untuk satu penyakit tertentu.

Meski demikian, Odai tetap menekankan pentingnya penelitian ilmiah untuk memastikan keamanan dan efektivitas penggunaan herbal.

Ia tidak mengklaim tanaman obat sebagai pengganti total pengobatan medis, melainkan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan secara alami.

Kawasan Sari Alam kini berfungsi sebagai laboratorium hidup. Masyarakat dari berbagai kalangan datang untuk belajar mengenal potensi tanaman herbal Nusantara.

Raih Penghargaan Kalpataru

Dedikasi Odai dalam melestarikan tanaman obat berbuah penghargaan Kalpataru pada 2018.

Ia menjadi satu-satunya perempuan dari sembilan penerima penghargaan yang diberikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia saat itu.

Penghargaan tersebut menjadi refleksi perjalanan hidupnya. “Saya tidak pernah mengejar penghargaan. Saya hanya bekerja dan menjaga tanaman,” tuturnya.

Kini, semangatnya tak surut. Ia berharap semakin banyak masyarakat sadar pentingnya menjaga kesehatan melalui pola hidup alami dan memanfaatkan kekayaan hayati Indonesia.

“Yang sakit jangan hanya mengejar obat. Kejar sehatnya,” pesannya.

Kisah Odai menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkontribusi. Dari perjuangan pribadi melawan penyakit, lahir kawasan konservasi tanaman obat yang memberi manfaat luas bagi masyarakat.

 

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#Konservasi Tanaman #Odai Kalpataru #herbal Nusantara #Sari Alam Ciwidey #tanaman obat