JAKARTA – Fenomena melihat penampakan hantu sering kali dianggap sebagai pengalaman mistis. Namun menurut penjelasan ilmiah, apa yang terlihat manusia belum tentu benar-benar ada.
Guru Besar dari University of Indonesia, Agustino Zulys, menjelaskan bahwa penampakan hantu menurut sains bisa terjadi karena proses kimia dan interpretasi otak manusia.
Dalam penjelasan ilmiahnya, Prof Agustino menyebut bahwa penglihatan manusia bukan sekadar aktivitas melihat dengan mata. Di balik proses tersebut terdapat reaksi kimia yang sangat kompleks yang melibatkan molekul di dalam retina.
Baca Juga: Rekomendasi HP Rp1 Jutaan Terbaik 2026, Spek Ngebut Mulai Rp1,3 Juta Sudah 120Hz dan RAM Besar!
“Ketika kita melihat sesuatu, sebenarnya yang terjadi bukan hanya cahaya masuk ke mata. Ada proses kimia yang memicu sinyal listrik ke otak,” jelasnya dalam penjelasan sains yang membahas fenomena persepsi visual manusia.
Reaksi Kimia di Mata Jadi Awal Penglihatan
Di dalam mata manusia terdapat molekul bernama rhodopsin. Molekul ini mengandung turunan vitamin A yang dikenal sebagai 11-cis retinal. Ketika cahaya masuk ke mata, bahkan hanya satu foton cahaya saja sudah cukup untuk memicu perubahan struktur molekul tersebut.
Perubahan ini mengubah 11-cis retinal menjadi all-trans retinal. Proses tersebut kemudian memicu rangkaian sinyal listrik yang dikirimkan melalui saraf menuju otak.
Baca Juga: Rekomendasi HP Sejutaan Layar AMOLED 2026, Spek Gahar dari Model Lama Ini Justru Lebih Worth It!
Sinyal listrik itulah yang kemudian diterjemahkan oleh otak menjadi gambar yang kita lihat. Dengan kata lain, apa yang dilihat manusia bukan sepenuhnya realitas langsung, melainkan hasil interpretasi dari reaksi kimia dan aktivitas saraf.
“Inilah dasar dari semua yang kita lihat. Mata menangkap cahaya, tetapi otaklah yang memutuskan apa arti dari sinyal tersebut,” terang Prof Agustino.
Peran Sel Batang dan Sel Kerucut
Penglihatan manusia juga dipengaruhi oleh dua jenis sel utama di retina, yakni sel batang dan sel kerucut.
Sel batang berfungsi mendeteksi cahaya redup dan lebih sensitif terhadap bayangan atau kontras hitam-putih. Sementara itu, sel kerucut bertugas menangkap warna dan bekerja optimal ketika kondisi cahaya cukup terang.
Dalam kondisi gelap atau cahaya minim, sel batang bekerja lebih dominan. Hal inilah yang membuat otak sering “menebak” bentuk dari objek yang dilihat.
Akibatnya, bayangan samar atau cahaya redup bisa terlihat seperti sosok tertentu. Fenomena ini sering memunculkan persepsi yang keliru sehingga seseorang merasa melihat penampakan.
Baca Juga: 5 HP 1 Jutaan Terbaik 2025 Paling Laris, Ada Kamera Sony hingga Update OS 6 Tahun!
“Dalam kondisi minim cahaya, otak cenderung mengisi informasi yang kurang dengan interpretasi sendiri. Dari sinilah ilusi visual bisa muncul,” jelasnya.
Mengapa Orang Bisa Melihat Hal Berbeda?
Menariknya, dua orang yang berada di tempat yang sama belum tentu melihat hal yang sama. Menurut penjelasan ilmiah, persepsi manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Pertama adalah kondisi biologis. Sensitivitas retina, kesehatan saraf, hingga kondisi seperti buta warna atau rabun senja dapat memengaruhi bagaimana seseorang menangkap cahaya.
Baca Juga: Terungkap! Biaya Perawatan Motor Listrik Polytron Fox R Selama 1 Tahun, Cuma Segini untuk 17.000 Km
Faktor kedua adalah kondisi psikologis. Rasa takut, trauma, atau sugesti dapat memicu otak untuk menafsirkan bayangan sebagai sesuatu yang menakutkan.
Ketiga adalah faktor lingkungan dan budaya. Setiap budaya memiliki gambaran berbeda tentang sosok hantu. Hal ini dapat memengaruhi cara otak menafsirkan sesuatu yang tidak jelas terlihat.
Misalnya, bayangan di tempat gelap bisa ditafsirkan sebagai sosok tertentu karena otak sudah memiliki gambaran sebelumnya dari cerita atau pengalaman.
“Otak manusia tidak hanya melihat, tetapi juga menafsirkan berdasarkan pengalaman, emosi, dan budaya,” kata Prof Agustino.
Tidak Semua yang Terlihat Itu Nyata
Berdasarkan penjelasan tersebut, fenomena penampakan hantu menurut sains bisa jadi bukan makhluk gaib, melainkan hasil interaksi antara cahaya, reaksi kimia di mata, dan interpretasi otak manusia.
Dalam kondisi cahaya redup, bayangan yang tidak jelas dapat dengan mudah diartikan sebagai sosok tertentu oleh otak yang sedang dalam keadaan tegang atau takut.
Hal ini menjelaskan mengapa seseorang bisa mengaku melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain yang berada di tempat yang sama.
“Bisa jadi yang dilihat bukan penampakan, melainkan efek cahaya redup yang ditafsirkan oleh imajinasi kita,” ujarnya.
Karena itu, ia mengingatkan bahwa tidak semua yang terlihat oleh mata merupakan kenyataan objektif. Sebaliknya, tidak semua yang nyata juga dapat langsung terlihat oleh manusia.
Baca Juga: Tips Menghemat Baterai Motor Listrik agar Lebih Awet dan Tahan Lama, Hindari Kebiasaan Ini!
Fenomena ini menunjukkan bahwa persepsi visual manusia sangat dipengaruhi oleh mekanisme biologis dan psikologis yang kompleks.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.