LOMBOK TIMUR - Petik Sayuran Liar di Sawah Bareng Tim, Dari Rebung Hingga Jamur Liar Jadi Santapan Alam
LOMBOK TIMUR - Sebuah aktivitas petik sayuran liar di sawah kembali viral di media sosial setelah dibagikan melalui sebuah video yang memperlihatkan kebersamaan sekelompok orang menikmati hasil alam langsung dari persawahan. Dalam kegiatan tersebut, mereka mengumpulkan berbagai bahan pangan alami seperti rebung, jamur liar, hingga kangkung sawah untuk dimasak dan disantap bersama di saung tengah sawah.
Fenomena petik sayuran liar di sawah ini berlangsung di Desa Labuan Pandan, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, yang dikenal memiliki area persawahan subur dan kaya akan tumbuhan liar yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Aktivitas ini tidak hanya menunjukkan kedekatan masyarakat dengan alam, tetapi juga menggambarkan pola konsumsi pangan tradisional yang masih bertahan hingga kini.
Dalam video tersebut, kegiatan petik sayuran liar di sawah dimulai dengan pengambilan rebung atau tunas bambu muda yang tumbuh di sekitar area kebun dan sawah. Rebung dipilih yang masih kecil karena teksturnya lebih lembut dan tidak terlalu keras saat dimasak.
Rebung dan Jamur Liar Jadi Bahan Utama
Rebung menjadi salah satu hasil utama dari aktivitas petik sayuran liar di sawah tersebut. Proses pengambilannya cukup memakan tenaga karena harus menggali bagian bawah bambu sebelum dipotong. Setelah itu, rebung dikupas untuk menghilangkan serat halus yang dapat menyebabkan gatal.
Selain rebung, peserta kegiatan juga membeli jamur liar yang banyak dijual di pinggir jalan desa. Jamur tersebut kemudian diolah menjadi pepes jamur menggunakan daun pisang dan bumbu sederhana. Menu ini menjadi salah satu hidangan favorit karena cita rasanya yang gurih meski hanya menggunakan bumbu minimal.
Menyusuri Sawah: Kangkung, Pare Liar, hingga Pakis
Aktivitas petik sayuran liar di sawah berlanjut ke area persawahan yang masih hijau dan asri. Di lokasi ini ditemukan kangkung sawah yang tumbuh liar di sekitar saluran air. Kangkung ini memiliki tekstur lebih kuat dan tidak mudah lembek saat dimasak, sehingga cocok untuk tumisan maupun sayur bening.
Selain itu, ditemukan pula pare liar dengan ukuran kecil yang tumbuh di area kebun dan sawah. Meski memiliki rasa pahit, pare liar tetap dimanfaatkan, terutama pucuknya yang diolah menjadi berbagai masakan tradisional.
Tidak ketinggalan, tanaman pakis juga dipanen dengan mengambil bagian pucuk muda yang masih menggulung. Pakis dikenal sebagai sayuran hutan yang lezat dan sering diolah menjadi tumisan atau sayur santan di berbagai daerah.
Daun Kelor dan Kekayaan Nutrisi Alam
Dalam rangkaian petik sayuran liar di sawah, daun kelor muda juga ikut dipanen untuk dijadikan sayur bening. Daun kelor dikenal sebagai sumber vitamin A, zat besi, dan nutrisi penting lainnya yang baik untuk kesehatan tubuh.
Selain kelor, tanaman liar lain seperti kangkung sawah dan bayam hijau juga turut diambil sebagai bahan tambahan masakan. Semua sayuran ini menunjukkan betapa kayanya sumber pangan alami yang tersedia di lingkungan sekitar sawah tanpa perlu ditanam secara khusus.
Olahan Sederhana: Sup, Pepes, dan Sambal Khas Lombok
Hasil dari kegiatan petik sayuran liar di sawah kemudian diolah menjadi berbagai hidangan sederhana namun menggugah selera. Rebung dimasak menjadi sup hangat, sementara jamur liar dibuat pepes dengan bumbu tradisional.
Tak ketinggalan, sambal beberuk khas Lombok turut disiapkan sebagai pelengkap hidangan. Menu lainnya seperti ayam panggang dan sayuran rebus melengkapi suasana makan bersama di saung tengah sawah.
Kebersamaan di Tengah Alam
Momen petik sayuran liar di sawah ini ditutup dengan kebersamaan menikmati makanan di saung yang berada di tengah persawahan. Suasana alam yang hijau, udara segar, serta hasil masakan dari bahan liar menjadikan pengalaman tersebut terasa sederhana namun berkesan.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa di tengah modernisasi, tradisi memanfaatkan hasil alam masih tetap hidup dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat pedesaan. Alam tidak hanya menyediakan pemandangan indah, tetapi juga sumber pangan yang melimpah jika dimanfaatkan dengan bijak.
Editor : Divka Vance Yandriana