TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Konsumsi gula berlebihan disebut dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, mulai dari obesitas hingga diabetes. Meski demikian, gula tidak bisa disamakan dengan rokok karena tubuh manusia tetap membutuhkan gula sebagai sumber energi, sedangkan zat adiktif dalam rokok tidak dibutuhkan tubuh.
Gula menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Makanan dan minuman manis mudah ditemukan, harganya relatif terjangkau, serta memberikan rasa yang menyenangkan sehingga banyak orang sulit membatasi konsumsinya.
Namun, di balik rasa manis tersebut, konsumsi gula dalam jumlah berlebihan dalam jangka panjang disebut dapat memicu berbagai gangguan kesehatan yang serius. Kondisi ini juga menjadi perhatian karena jumlah penderita diabetes, termasuk pada anak-anak, terus meningkat.
Baca Juga: Modifikasi Toyota Agya Tipe G CVT Merah Gaya JDM Harian: Sentuhan OEM dan Fitment Rata Fender
Gula Memberikan Energi Instan, tetapi Efeknya Tidak Bertahan Lama
Makanan dan minuman tinggi gula memang mampu memberikan tambahan energi dalam waktu singkat.
Namun, efek tersebut hanya bersifat sementara. Setelah energi yang dihasilkan menurun, tubuh dapat kembali merasa lemas, cemas, atau gelisah sehingga muncul keinginan untuk kembali mengonsumsi makanan manis.
Kondisi ini membuat sebagian orang sulit mengurangi konsumsi gula, terutama jika kebiasaan tersebut berlangsung dalam waktu lama.
Selain memberikan energi cepat, konsumsi gula berlebihan disebut berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit yang membutuhkan penanganan medis dalam jangka panjang.
Konsumsi Gula Berlebihan Dikaitkan dengan Berbagai Gangguan Kesehatan
Dalam penjelasan yang disampaikan pada video tersebut, gula berlebihan dikaitkan dengan sejumlah masalah kesehatan.
Selain meningkatkan risiko obesitas dan diabetes, konsumsi gula yang terlalu tinggi juga disebut berpotensi memengaruhi kesehatan mata.
Tidak hanya itu, kemampuan berpikir juga disebut dapat terdampak apabila konsumsi gula dilakukan secara berlebihan dalam jangka panjang.
Video tersebut juga menyebutkan adanya kemungkinan hubungan antara konsumsi gula berlebihan dengan depresi.
Berbagai risiko tersebut menjadi alasan mengapa konsumsi gula perlu dikendalikan meskipun tubuh tetap membutuhkan gula sebagai sumber energi.
Mengapa Banyak Orang Sulit Lepas dari Gula?
Salah satu alasan utama seseorang sulit mengurangi konsumsi gula adalah efek yang ditimbulkannya terhadap otak.
Makanan manis disebut mampu memicu munculnya hormon-hormon yang berkaitan dengan rasa senang atau bahagia.
Semakin sering dikonsumsi, otak menjadi semakin menyukai rasa manis sehingga keinginan untuk mengonsumsinya kembali semakin besar.
Akibatnya, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya dapat menjalani aktivitas sehari-hari tanpa harus mengonsumsi makanan atau minuman manis secara berlebihan.
Meski demikian, penjelasan tersebut juga menegaskan bahwa tubuh manusia tetap memerlukan gula sebagai sumber energi.
Karena itu, yang perlu dihindari bukanlah gula sepenuhnya, melainkan konsumsi yang berlebihan.
Baca Juga: Daftar Harga Suzuki Karimun Bekas Juli 2026 Termurah: Cek Pilihan Unit Mulai Rp40 Jutaan
Gula Tidak Bisa Disamakan dengan Rokok
Perbandingan antara gula dan rokok kerap menjadi perdebatan.
Dalam video dijelaskan bahwa keduanya memang sama-sama dikaitkan dengan berbagai penyakit serius, tetapi tidak dapat disamakan.
Alasannya, tubuh manusia memang membutuhkan gula untuk menghasilkan energi.
Sebaliknya, tubuh sama sekali tidak membutuhkan zat adiktif yang terdapat di dalam rokok.
Dengan demikian, persoalan utama bukan terletak pada keberadaan gula, melainkan jumlah konsumsi yang melebihi kebutuhan tubuh.
Gula Mudah Ditemukan dan Harganya Terjangkau
Faktor lain yang membuat masyarakat sulit mengurangi konsumsi gula adalah kemudahan mendapatkannya.
Berbagai makanan dan minuman dengan kandungan gula tinggi tersedia hampir di semua tempat dengan harga yang relatif murah.
Selain itu, disebutkan pula belum adanya aturan yang mengatur batas kandungan gula pada berbagai makanan dan minuman yang dijual kepada masyarakat.
Kondisi tersebut membuat konsumen lebih sulit mengendalikan asupan gula apabila tidak memperhatikan kandungan nutrisi pada produk yang dikonsumsi.
Kasus Diabetes pada Anak di Indonesia Meningkat
Meningkatnya konsumsi gula juga dikaitkan dengan bertambahnya jumlah kasus diabetes.
Dalam video disebutkan bahwa selama belasan tahun terakhir jumlah penderita diabetes pada anak-anak di Indonesia meningkat hingga 70 kali lipat.
Peningkatan tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya edukasi mengenai konsumsi gula yang lebih bijak.
Baca Juga: Spesifikasi dan Harga Karimun Kotak 2002 Bekas: Unit Kelangenan Irit BBM Dibanderol Rp45 Juta
Berbagai Negara Mulai Mengendalikan Konsumsi Gula
Sejumlah negara telah menerapkan berbagai kebijakan untuk mengurangi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memberikan sistem penilaian atau label pada makanan dan minuman sehingga masyarakat lebih mudah mengetahui tingkat kandungan gulanya tanpa harus membaca informasi nutrisi secara rinci di bagian belakang kemasan.
Ada pula negara yang membatasi iklan minuman dengan kandungan gula sangat tinggi agar masyarakat tidak terus terdorong mengonsumsinya.
Selain itu, beberapa negara menerapkan pajak terhadap makanan dan minuman bergula sebagai upaya mengurangi konsumsi masyarakat.
Dalam video disebutkan Indonesia juga disebut akan segera menerapkan kebijakan serupa.
Pembatasan Penjualan di Sekolah Jadi Salah Satu Upaya
Negara lain juga menerapkan kebijakan yang lebih ketat terhadap makanan dan minuman manis.
Langkah tersebut dilakukan melalui pemberian label peringatan, pembatasan iklan, hingga larangan penjualan makanan dan minuman manis kemasan di lingkungan sekolah.
Kebijakan tersebut disebut berhasil membantu menurunkan angka penyakit yang berkaitan dengan konsumsi gula.
Batas Konsumsi Gula Harian untuk Orang Dewasa
Selain kebijakan pemerintah, pengendalian konsumsi gula juga dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari.
Masyarakat dianjurkan mulai memperhatikan jumlah gula dalam setiap makanan maupun minuman yang dikonsumsi.
Dalam video dijelaskan bahwa dokter menganjurkan orang dewasa membatasi konsumsi gula hingga maksimal empat sendok makan dalam sehari.
Dengan membatasi konsumsi gula sesuai anjuran tersebut, diharapkan risiko berbagai penyakit akibat gula dapat dikurangi tanpa menghilangkan kebutuhan tubuh terhadap sumber energi.
Mengendalikan konsumsi gula bukan berarti harus menghindari seluruh makanan manis. Yang lebih penting adalah menjaga keseimbangan asupan agar tubuh tetap memperoleh energi yang dibutuhkan tanpa meningkatkan risiko gangguan kesehatan di kemudian hari.
Baca Juga: lelang Suzuki Karimun Blind Van Bekas Mulai Rp40 Jutaan: Solusi Hemat Mobil Operasional Usaha
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest