TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Rajin bekerja, berolahraga, dan terus produktif selama ini identik dengan kesuksesan. Namun, berbagai penjelasan medis menunjukkan bahwa kebiasaan terlalu sibuk tanpa memberi waktu tubuh untuk beristirahat justru dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan fisik maupun mental.
Budaya produktivitas yang terus berkembang membuat banyak orang menganggap jadwal padat, tidur hanya empat hingga lima jam, hingga berolahraga tanpa jeda sebagai sesuatu yang membanggakan. Padahal, menurut sejumlah penelitian, tubuh memiliki batas kemampuan yang tidak boleh diabaikan.
Berbagai penelitian dari organisasi kesehatan dan institusi akademik disebut menunjukkan bahwa kurangnya waktu pemulihan dapat memicu peningkatan hormon stres, gangguan tidur, burnout, hingga masalah pencernaan.
WHO Sebut Jam Kerja Berlebihan Tingkatkan Risiko Penyakit
Salah satu temuan yang disampaikan berasal dari World Health Organization (WHO) pada 2021.
Dalam penjelasan tersebut disebutkan bahwa bekerja lebih dari 55 jam per minggu meningkatkan risiko kematian akibat stroke sebesar 35 persen serta meningkatkan risiko penyakit jantung sebesar 17 persen.
Temuan itu menunjukkan bahwa bukan hanya durasi bekerja yang menjadi perhatian, tetapi juga kurangnya waktu pemulihan akibat aktivitas yang berlangsung terus-menerus.
1. Kortisol Tinggi Membuat Tubuh Terus Berada dalam Mode Stres
Penjelasan pertama berkaitan dengan hormon kortisol yang dikenal sebagai hormon stres.
Secara normal, kortisol membantu tubuh tetap waspada ketika menghadapi bahaya atau tantangan. Namun, ketika seseorang terus bekerja keras, mengejar tenggat waktu, atau berolahraga tanpa istirahat yang cukup, tubuh akan terus memproduksi hormon tersebut.
Akibatnya, kadar kortisol yang tinggi dalam jangka panjang disebut dapat meningkatkan tekanan darah, melemahkan sistem imun, mengganggu pencernaan, mengacaukan pola tidur, hingga meningkatkan risiko penyakit jantung.
Selain itu, kadar kortisol kronis juga disebut dapat memengaruhi hippocampus, bagian otak yang berperan dalam daya ingat dan kemampuan belajar.
Dalam video dijelaskan, penelitian Stanford University tahun 2022 yang dipublikasikan dalam jurnal Psychoneuroendocrinology menemukan individu dengan jadwal kerja padat tanpa waktu pemulihan memiliki kadar kortisol kronis sekitar 40 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata, disertai penurunan fungsi kognitif dan sistem kekebalan tubuh.
2. Overtraining Syndrome Akibat Olahraga Berlebihan
Olahraga memang memberikan banyak manfaat bagi kesehatan. Namun, manfaat tersebut diperoleh ketika tubuh juga memiliki waktu untuk melakukan pemulihan.
Saat berolahraga, serat otot mengalami kerusakan mikro yang kemudian diperbaiki saat tubuh beristirahat.
Jika seseorang terus berlatih tanpa memberi waktu pemulihan, proses tersebut tidak berlangsung optimal dan dapat memicu kondisi yang dikenal sebagai Overtraining Syndrome (OTS).
Gejala yang disebutkan meliputi penurunan performa olahraga, kelelahan berkepanjangan, penurunan daya tahan tubuh, gangguan tidur, perubahan suasana hati, hingga depresi.
Menurut American College of Sports Medicine tahun 2023, Overtraining Syndrome tidak hanya dialami atlet profesional, tetapi juga masyarakat umum yang berolahraga setiap hari tanpa hari pemulihan.
Dalam penjelasan tersebut disebutkan bahwa satu hingga dua hari istirahat aktif setiap pekan merupakan bagian penting dari program latihan yang sehat.
Baca Juga: lelang Suzuki Karimun Blind Van Bekas Mulai Rp40 Jutaan: Solusi Hemat Mobil Operasional Usaha
3. Kurang Tidur Menimbulkan Hutang Tidur
Kebiasaan tidur kurang dari tujuh jam setiap malam juga menjadi perhatian.
Dalam video dijelaskan bahwa kondisi tersebut menyebabkan sleep debt atau hutang tidur yang tidak dapat diganti hanya dengan tidur lebih lama pada akhir pekan.
Saat tidur, tubuh melakukan berbagai proses penting, termasuk membersihkan racun pada sistem saraf melalui sistem glymphatic, memperbaiki sel, memproduksi hormon pertumbuhan, dan mengonsolidasikan memori.
Kurang tidur kronis disebut meningkatkan risiko diabetes tipe 2, obesitas, penyakit jantung, depresi, hingga demensia.
Selain itu, kemampuan berkonsentrasi dan mengambil keputusan juga dapat menurun secara signifikan.
Video tersebut mengutip penelitian University of California yang diterbitkan dalam Nature Reviews Neuroscience tahun 2023. Penelitian itu menyimpulkan bahwa tidur kurang dari enam jam setiap malam selama dua minggu berturut-turut menghasilkan gangguan fisik dan kognitif yang setara dengan begadang selama 48 jam.
4. Burnout Diakui sebagai Kondisi Medis
Burnout disebut bukan sekadar rasa lelah biasa.
Sejak 2019, World Health Organization telah mengakui burnout sebagai fenomena pekerjaan yang memiliki klasifikasi tersendiri dalam International Classification of Diseases (ICD).
Burnout dijelaskan sebagai kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat paparan stres berkepanjangan tanpa waktu pemulihan yang cukup.
Gejalanya meliputi rasa lelah yang tidak hilang meski telah beristirahat, kehilangan motivasi, mudah marah, sulit berkonsentrasi, sakit kepala, gangguan pencernaan, hingga nyeri otot.
Dalam jangka panjang, burnout disebut dapat berkembang menjadi depresi klinis maupun gangguan kecemasan yang memerlukan penanganan profesional.
Survei global Gallup tahun 2023 terhadap lebih dari 122 ribu pekerja di 142 negara menunjukkan sekitar 44 persen responden mengalami gejala burnout yang signifikan.
Dalam video juga disebutkan bahwa Indonesia termasuk negara dengan tingkat burnout yang tinggi di kawasan Asia Tenggara.
5. Gangguan Gut-Brain Axis Memengaruhi Pencernaan
Penjelasan terakhir membahas hubungan antara otak dan sistem pencernaan melalui gut-brain axis.
Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan dan terus memaksakan diri bekerja tanpa istirahat, sinyal stres dari otak disebut dapat memengaruhi fungsi saluran cerna.
Kondisi tersebut sering diperburuk oleh kebiasaan makan terburu-buru, melewatkan waktu makan, atau memilih makanan praktis yang kurang bergizi.
Akibatnya, produksi enzim pencernaan dapat terganggu sehingga meningkatkan risiko gangguan seperti irritable bowel syndrome (IBS), maag kronis, sembelit, diare bergantian, perut kembung, hingga perubahan mikrobioma usus.
Dalam video disebutkan bahwa penelitian Harvard Medical School tahun 2023 yang diterbitkan dalam jurnal Gastroenterology menyebut stres kerja kronis dan pola makan yang tidak teratur menjadi salah satu kontributor utama meningkatnya gangguan pencernaan fungsional pada usia produktif.
Baca Juga: Daftar Harga Suzuki Karimun Bekas Juli 2026 Termurah: Cek Pilihan Unit Mulai Rp40 Jutaan
Langkah yang Dianjurkan untuk Mencegah Dampaknya
Selain menjelaskan berbagai risiko tersebut, video juga memaparkan beberapa langkah yang dapat diterapkan untuk menjaga kesehatan.
Beberapa di antaranya adalah membatasi jam kerja hingga tidak melebihi 55 jam per minggu sesuai rekomendasi WHO, tidur selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam, serta memberikan waktu istirahat aktif satu hingga dua hari setiap pekan setelah berolahraga.
Masyarakat juga dianjurkan mengenali tanda-tanda burnout sejak dini, menjaga jadwal makan dengan makanan bergizi seimbang, serta meluangkan waktu untuk beristirahat melalui aktivitas sederhana seperti berjalan santai, meditasi, melakukan hobi, atau menikmati waktu tanpa pekerjaan.
Menurut penjelasan dalam video tersebut, tubuh bukanlah mesin yang dapat bekerja tanpa henti. Istirahat dipandang sebagai bagian penting dari produktivitas karena memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk memulihkan diri sebelum kembali beraktivitas.
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest