Prodi D-3 Keperawatan Trenggalek Dorong Cerdas PTM di Desa Salamrejo Melalui Pengembangan Posyandu ILP

Amalia Rizky Indah Permadani • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 11:49 WIB
AKSI NYATA: Program Pengabdian Masyarakat Wilayah Binaan Berkelanjutan oleh tim dosen dan mahasiswa Program Studi D-3 Keperawatan Kampus Kabupaten Trenggalek Poltekkes Malang, meresmikan  pengembangan Posyandu Integritasi Primer (ILP) di Desa Salamrejo, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, Selasa (11/8).(AMALIA RIZKI IP/ RADAR TRENGGALEK)
AKSI NYATA: Program Pengabdian Masyarakat Wilayah Binaan Berkelanjutan oleh tim dosen dan mahasiswa Program Studi D-3 Keperawatan Kampus Kabupaten Trenggalek Poltekkes Malang, meresmikan pengembangan Posyandu Integritasi Primer (ILP) di Desa Salamrejo, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, Selasa (11/8).

KARANGAN, Radar Trenggalek — Program Studi D-3 Keperawatan Kampus Kabupaten Trenggalek Poltekkes Kemenkes Malang kembali menunjukkan komitmennya dalam peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Melalui program Pengabdian Masyarakat Wilayah Binaan Berkelanjutan, tim dosen dan mahasiswa meresmikan pengembangan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) yang difokuskan sebagai pusat informasi dan edukasi penyakit tidak menular (PTM), khususnya diabetes melitus (DM), di Desa Salamrejo, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, Selasa (11/8/2026).

Langkah inovatif ini diambil sebagai respons atas meningkatnya angka kejadian diabetes melitus di tingkat tapak yang sering kali terlambat terdeteksi. Melalui transformasi Posyandu ILP, layanan kesehatan berbasis masyarakat kini tidak hanya berfokus pada ibu dan anak, tetapi mencakup seluruh siklus hidup—termasuk kelompok usia produktif dan lansia yang rentan terhadap risiko PTM.

Baca Juga: Manfaat Rebusan Daun Salam Mampu Atasi Asam Urat dan Mencegah Batu Ginjal

Dalam kegiatan yang berlangsung interaktif ini, tim D-3 Keperawatan Trenggalek menjalankan serangkaian program intervensi utama:

·       Penguatan Kapasitas Kader Posyandu: Pelatihan skrining dasar kesehatan, pemantauan kadar gula darah mandiri, serta keterampilan komunikasi edukatif mengenai pola hidup sehat pencegahan diabetes.

·       Penyediaan Pojok Edukasi PTM: Pembentukan sarana pusat informasi visual dan literasi kesehatan di posyandu guna memudahkan warga mengakses panduan nutrisi, aktivitas fisik, dan pencegahan komplikasi diabetes.

·       Pemeriksaan Kesehatan dan Skrining Masal: Deteksi dini faktor risiko PTM bagi warga Desa Salamrejo, meliputi pengukuran tekanan darah, gula darah sewaktu, serta indeks massa tubuh (IMT).

Ketua Pengabdian Masyarakat Wilayah Binaan Poltekkes Kemenkes Malang, Ixora SkepNs Mkep, menegaskan bahwa keberlanjutan program menjadi fokus utama. Dengan menjadikan Posyandu ILP sebagai garda terdepan pusat informasi dan edukasi diabetes melitus, diharapkan kemandirian warga Desa Salamrejo dalam mengenali, mencegah, dan mengontrol gula darah dapat meningkat secara signifikan sekaligus meminimalkan risiko komplikasi sejak dini. Kegiatan yang dilakukan  adalah:

BAGI ILMU: Tim D-3 Keperawatan Trenggalek memberikan penjelasan terkait praktek cara memeriksa tekanan darah.
BAGI ILMU: Tim D-3 Keperawatan Trenggalek memberikan penjelasan terkait praktek cara memeriksa tekanan darah.

Materi 1. Disampaikan oleh Edi Yuswantoro SkepNs MKep dengan materi konsep dan deteksi faktor risiko diabetes melitus (DM) adalah penyakit gangguan metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula (glukosa) dalam darah atau hiperglikemia. Kondisi ini terjadi akibat gangguan produksi insulin oleh pankreas, penurunan sensitivitas jaringan tubuh terhadap insulin (resistensi insulin), atau kombinasi keduanya.

DM Tipe 1: Disebabkan oleh kerusakan sel beta pankreas akibat proses autoimun sehingga tubuh tidak dapat memproduksi insulin sama sekali.

DM Tipe 2: Jenis yang paling dominan (sekitar 90–95% kasus). Terjadi akibat resistensi insulin dan sekresi insulin yang tidak adekuat. Sangat berkaitan dengan gaya hidup, obesitas, dan faktor usia.

DM Gestasional: Diabetes yang pertama kali terdiagnosis pada masa kehamilan.

Gejala Klasik (Tiga "P") & Gejala Tambahan Polidipsia: Rasa haus yang berlebihan.

Polifagia: Rasa cepat lapar dan ingin selalu makan.

Poliuria: Frekuensi buang air kecil yang meningkat, terutama pada malam hari.

PENTING DIPERHATIKAN:  Pemateri, Juin Hadisuyitno SST Mkes, memberikan materi terkait diet diabetes melitus.
PENTING DIPERHATIKAN: Pemateri, Juin Hadisuyitno SST Mkes, memberikan materi terkait diet diabetes melitus.(AMALIA RIZKI IP/ RADAR TRENGGALEK)

Gejala Lain: Penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas, cepat lelah, pandangan kabur, luka yang lambat sembuh, serta rasa kesemutan atau kebas pada tangan dan kaki.

Faktor Risiko Diabetes Melitus: Faktor Risiko yang Tidak Dapat Dimodifikasi Usia: Risiko meningkat pada usia  >45 tahun, meskipun tren saat ini mulai bergeser ke usia yang lebih muda akibat gaya hidup.

Riwayat Keluarga: Memiliki orang tua atau saudara kandung dengan riwayat DM.

Riwayat Diabetes Gestasional: Wanita yang pernah menderita diabetes saat hamil.

Berat Badan Lahir Rendah (BBLR): Bayi yang lahir dengan berat badan <2,5 kg.

Faktor Risiko yang Dapat Dimodifikasi Berat Badan Lebih & Obesitas: Terutama obesitas sentral (lingkar perut >90 cm pada pria dan >80 cm pada wanita).

Aktivitas Fisik yang Kurang: Kurangnya olahraga dan gaya hidup sedentary (banyak duduk/berbaring).

Pola Makan Tidak Seimbang: Konsumsi tinggi gula sederhana, lemak jenuh, serat yang rendah, serta makanan olahan.

Hipertensi: Tekanan darah >140/90 mmHg.

Dislipidemia: Kadar HDL <35 mg/dL dan/atau kadar Trigliserida >250 mg/dL.

Merokok & Konsumsi Alkohol: Mengganggu sensitivitas insulin dan kesehatan pembuluh darah.

CEGAH DINI: Pemateri, Edi Yuswantoro SkepNs Mkep, memberikan materi konsep dan deteksi faktor risiko diabetes melitus (DM).
CEGAH DINI: Pemateri, Edi Yuswantoro SkepNs Mkep, memberikan materi konsep dan deteksi faktor risiko diabetes melitus (DM).

Langkah Pencegahan & Edukasi Masyarakat Pencegahan Primer: Menerapkan pola hidup sehat melalui gizi seimbang (batasi gula, garam, lemak), rutin berolahraga minimal 150 menit per minggu, dan menjaga berat badan ideal.

Pencegahan Sekunder: Melakukan deteksi dini secara berkala di posyandu/faskes serta kontrol gula darah bagi penderita untuk mencegah timbulnya komplikasi kronis (seperti retinopati, nefropati, neuropathy, dan penyakit jantung.

Baca Juga: Cara Menghilangkan Jerawat Menurut Dokter dan Pakai Skincare yang Benar, Tentukan Dulu Tingkat Keparahannya!

Materi 2. Disampaikan oleh Juin Hadisuyitno SST MKes. Diet diabetes melitus merupakan salah satu pilar utama dalam pengelolaan diabetes melitus (DM). Tujuan utama diet DM adalah mengontrol kadar gula darah agar mendekati nilai normal, mencapai dan mempertahankan berat badan ideal, menjaga profil lipid dan tekanan darah, serta mencegah komplikasi akut maupun kronis.

Keberhasilan diet diabetes sangat bergantung pada kedisiplinan menerapkan prinsip jumlah kalori. Kebutuhan kalori disesuaikan secara individual berdasarkan jenis kelamin, usia, berat badan, tinggi badan, serta tingkat aktivitas fisik. Pemerintah Desa Salamrejo beserta tokoh masyarakat menyambut positif pendampingan berkelanjutan dari Poltekkes Kemenkes Malang Kampus Trenggalek ini, dan berkomitmen mendukung penuh keberlangsungan operasional Posyandu ILP di wilayah mereka. (*)

 

 

Editor : Juwita Ratnasari
Sumber : RADAR TRENGGALEK
PoltekkesMalang PosyanduILP DiabetesMelitus