TRENGGALEK — Upaya meningkatkan kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam mengendalikan penyakit tidak menular (PTM) terus dilakukan melalui pendekatan pemberdayaan berbasis komunitas. Program Studi D3 Keperawatan Kampus Kabupaten Trenggalek Poltekkes Kemenkes Malang melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk
“Pemberdayaan Kesehatan Berbasis Kelompok Tani: Pengendalian Hipertensi dan Diabetes Mellitus melalui Edukasi, Gizi Seimbang, dan Pemanfaatan Pangan Lokal bagi Kader Kesehatan dan Kelompok Tani Keluarga Pangreksa Adat Katobilan (KUPAT KATON) Desa Wonoanti”.
Kegiatan diarahkan untuk memperkuat peran kader kesehatan dan kelompok tani sebagai penggerak perilaku hidup sehat di tingkat keluarga dan masyarakat. Rangkaian kegiatan meliputi penyuluhan dan edukasi kesehatan, pemeriksaan kesehatan, serta pelatihan pengolahan pangan sehat berbasis hasil pertanian lokal.
Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, memiliki karakter masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani. Kelompok KUPAT KATON tidak hanya aktif dalam kegiatan pertanian, tetapi juga memiliki semangat guyub dan gotong royong serta perhatian terhadap pelestarian nilai adat dan budaya lokal. Potensi sosial tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan program kesehatan berbasis masyarakat.
Program PKM ini berangkat dari kondisi kesehatan masyarakat yang masih menghadapi persoalan hipertensi dan diabetes mellitus. Data dalam dokumen program menunjukkan prevalensi hipertensi di Desa Wonoanti mencapai 47,7 persen dan diabetes mellitus 6,65 persen. Dokumen tersebut juga mencatat sekitar 43 persen penderita hipertensi dan 45 persen penderita diabetes mellitus belum menjalani pengobatan secara rutin.
Melalui kegiatan penyuluhan, Edi Yuswantoro, S.Kep., Ns., M.Kep. menyampaikan materi mengenai diabetes mellitus. Edukasi diarahkan pada pemahaman masyarakat tentang penyakit, faktor risiko, pentingnya pengobatan dan pemantauan kesehatan, pola makan sehat, aktivitas fisik, serta pencegahan komplikasi. Pendekatan edukasi dibuat agar pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan diteruskan kepada keluarga maupun anggota komunitas.
Sementara itu, Rahayu Niningasih, S.Kep., Ns., M.Kes. memberikan penyuluhan mengenai hipertensi. Materi menekankan pentingnya mengenali faktor risiko, melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala, menerapkan pola makan sehat, meningkatkan aktivitas fisik, dan mengikuti pengobatan secara teratur bagi masyarakat yang telah mendapatkan terapi.
Selain edukasi, kegiatan juga mencakup pemeriksaan kesehatan berupa pengukuran tekanan darah dan kadar gula darah. Kader kesehatan mendapatkan penguatan keterampilan untuk membantu pemantauan kesehatan masyarakat dengan pendampingan tenaga kesehatan. Pemeriksaan berkala diharapkan dapat meningkatkan kesadaran warga terhadap kondisi kesehatannya sekaligus mendukung pencatatan dan pemantauan kesehatan secara berkelanjutan.
Aspek gizi menjadi bagian penting dalam program melalui pelatihan pengolahan pangan sehat yang diberikan oleh Mimik Christiani, SST., M.Kes. Pelatihan memanfaatkan potensi hasil pertanian lokal, antara lain beras merah, jagung, rempah-rempah, dan sayuran, untuk diolah menjadi pangan yang mendukung pola konsumsi sehat dengan memperhatikan pembatasan garam dan gula.
Pemanfaatan pangan lokal memberikan nilai tambah karena intervensi kesehatan dapat dilakukan dengan sumber daya yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Kelompok tani diharapkan tidak hanya menjadi penghasil pangan, tetapi juga mampu memanfaatkan hasil pertanian untuk mendukung kebutuhan pangan sehat keluarga serta mengembangkan potensi produk olahan komunitas.
Pendekatan program juga mengintegrasikan media edukasi cetak dan digital serta forum diskusi berkala. Dengan keterlibatan kader, kelompok tani, Puskesmas, pemerintah desa, dan unsur masyarakat, kegiatan diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan satu kali kegiatan, tetapi berkembang menjadi upaya pemberdayaan yang berkelanjutan.
Evaluasi program dilakukan melalui kuesioner pre-test dan post-test, observasi, wawancara, pemantauan hasil pemeriksaan kesehatan, serta pengamatan terhadap perubahan perilaku konsumsi pangan. Keberlanjutan program diarahkan melalui kaderisasi, kolaborasi lintas sektor, dan penguatan forum komunitas.
Melalui sinergi antara ilmu keperawatan, edukasi kesehatan, pemeriksaan kesehatan, gizi, serta potensi pertanian lokal, PKM Poltekkes Kemenkes Malang di Desa Wonoanti diharapkan dapat memperkuat kemampuan masyarakat dalam mencegah dan mengendalikan hipertensi dan diabetes mellitus. KUPAT KATON diharapkan menjadi salah satu motor penggerak masyarakat untuk membangun budaya hidup sehat yang bertumpu pada kekuatan komunitas dan sumber daya lokal.
MATERI PENYULUHAN 1 — DIABETES MELLITUS
Pemateri: Edi Yuswantoro, S.Kep., Ns., M.Kep.
Tujuan Penyuluhan
· Peserta memahami pengertian dan gambaran umum diabetes mellitus.
· Peserta mengenali faktor risiko dan tanda/gejala yang perlu diperhatikan.
· Peserta memahami pentingnya pengelolaan diabetes melalui pola makan sehat, aktivitas fisik, pemantauan kesehatan, dan kepatuhan terhadap pengobatan.
· Peserta mampu menyampaikan kembali pesan kesehatan utama kepada keluarga dan komunitas.
Pokok Materi
· Diabetes mellitus adalah penyakit kronis yang berkaitan dengan kadar gula darah yang tinggi dan memerlukan pengelolaan berkelanjutan.
· Faktor yang perlu diperhatikan meliputi pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, kelebihan berat badan, riwayat keluarga, serta faktor risiko lain yang dapat dinilai oleh tenaga kesehatan.
· Keluhan yang perlu diwaspadai antara lain sering haus, sering buang air kecil, mudah lapar, mudah lelah, dan penurunan berat badan yang tidak direncanakan. Sebagian orang dapat mengalami diabetes tanpa keluhan yang jelas sehingga pemeriksaan tetap penting.
· Pengelolaan diabetes mencakup pola makan yang sesuai, aktivitas fisik teratur, pemantauan kadar gula darah sesuai anjuran, kepatuhan terhadap obat bila diresepkan, serta pemeriksaan kesehatan berkala.
· Pemanfaatan pangan lokal diarahkan pada pilihan makanan yang lebih sehat, memperhatikan porsi dan kualitas makanan, serta membatasi konsumsi gula dan makanan yang kurang sesuai dengan kebutuhan individu.
· Keluarga dan kader dapat membantu mengingatkan jadwal kontrol, mendukung perubahan pola makan, mendorong aktivitas fisik yang aman, dan membantu pemantauan kesehatan.
Pesan Kunci untuk Masyarakat
· Diabetes perlu dikelola secara rutin, bukan hanya ketika muncul keluhan.
· Jaga pola makan, perhatikan porsi, dan batasi konsumsi gula berlebihan.
· Lakukan aktivitas fisik secara teratur sesuai kemampuan dan kondisi kesehatan.
· Ikuti pengobatan dan kontrol sesuai anjuran tenaga kesehatan.
· Segera berkonsultasi kepada tenaga kesehatan bila muncul keluhan atau hasil pemeriksaan tidak sesuai target.
MATERI PENYULUHAN 2 — HIPERTENSI
Pemateri: Rahayu Niningasih, S.Kep., Ns., M.Kes.
Tujuan Penyuluhan
· Peserta memahami pengertian hipertensi dan pentingnya pemeriksaan tekanan darah.
· Peserta mengenali faktor risiko serta pentingnya perubahan gaya hidup.
· Peserta memahami peran diet sehat, aktivitas fisik, pemeriksaan berkala, dan kepatuhan terhadap pengobatan.
· Peserta mampu menjadi pengingat dan pendukung perilaku sehat bagi keluarga dan komunitas.
Pokok Materi
· Hipertensi merupakan kondisi ketika tekanan darah berada di atas batas yang dianjurkan dan perlu dipantau serta dikelola secara berkelanjutan.
· Hipertensi sering tidak menimbulkan gejala yang khas, sehingga seseorang tetap perlu memeriksakan tekanan darah meskipun merasa sehat.
· Faktor risiko yang dapat diperhatikan antara lain pola makan tinggi garam, kurang aktivitas fisik, kelebihan berat badan, kebiasaan merokok, serta faktor risiko lain.
· Upaya pengendalian meliputi pola makan seimbang, pembatasan garam sesuai anjuran, aktivitas fisik teratur, berhenti merokok, menjaga berat badan, pemeriksaan tekanan darah, dan kepatuhan terhadap obat yang diresepkan.
· Pangan lokal dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari menu sehat dengan memperhatikan cara pengolahan dan membatasi penggunaan garam, gula, serta lemak secara berlebihan.
· Kader dan keluarga berperan membantu mengingatkan pemeriksaan, mendukung perubahan kebiasaan, dan mendorong penderita mengikuti rencana pengobatan.
Pesan Kunci untuk Masyarakat
· Hipertensi dapat terjadi tanpa keluhan, sehingga pemeriksaan tekanan darah penting dilakukan secara berkala.
· Kurangi penggunaan garam dan pilih makanan yang lebih sehat.
· Perbanyak aktivitas fisik sesuai kemampuan.
· Hindari rokok dan dukung lingkungan keluarga yang sehat.
· Bagi penderita yang mendapat obat, minum obat sesuai anjuran tenaga kesehatan dan jangan menghentikannya sendiri.
INTEGRASI KEGIATAN PEMERIKSAAN KESEHATAN
· Pemeriksaan tekanan darah dan kadar gula darah dilakukan sebagai bagian dari pemantauan kesehatan masyarakat.
· Hasil pemeriksaan dicatat dan digunakan untuk mendukung pemantauan serta tindak lanjut bersama kader dan tenaga kesehatan.
· Hasil pemeriksaan bukan pengganti diagnosis tenaga kesehatan. Peserta dengan hasil yang memerlukan perhatian diarahkan untuk berkonsultasi dan mendapatkan tindak lanjut sesuai pelayanan kesehatan.
PELATIHAN PENGOLAHAN PANGAN SEHAT
· Pemanfaatan hasil pertanian lokal sebagai bahan pangan sehat dan mudah diterapkan oleh keluarga petani.
· Pengolahan pangan diarahkan untuk mendukung pola makan dengan penggunaan garam dan gula yang lebih terkendali.
· Bahan lokal seperti beras merah, jagung, sayuran, dan rempah-rempah dapat menjadi bagian dari diversifikasi pangan keluarga.
· Peserta didorong memperhatikan kebersihan bahan, proses pengolahan, ukuran porsi, dan cara penyajian.
· Hasil pelatihan dapat dikembangkan menjadi resep sehat komunitas dan, bila memenuhi kelayakan, menjadi potensi produk kelompok.
Editor : Adinda Okta FitrianaSumber : RADAR TRENGGALEK