Trenggalek Jenggelek - Hari Lebaran selalu membawa suasana yang khas—dari suara takbir yang menggema, baju baru yang dikenakan, hingga aroma opor ayam yang menyeruak dari dapur.
Di banyak rumah, opor ayam bukan hanya sekadar makanan. Ia adalah penanda momen, pengikat kenangan, dan lambang kehangatan keluarga yang berkumpul setelah satu bulan penuh berpuasa.
Asal Usul dan Sejarah Opor Ayam
Opor ayam dikenal luas sebagai hidangan khas Jawa, yang dulunya sering disajikan dalam acara besar seperti selamatan atau syukuran.
Namun seiring waktu, opor ayam menemukan tempat istimewa di hari raya Idul Fitri.
Kombinasi rempah seperti serai, lengkuas, ketumbar, dan kunyit yang direbus dengan santan menciptakan rasa gurih yang lembut.
Hidangan ini juga menunjukkan akulturasi budaya, di mana pengaruh Timur Tengah dalam penggunaan rempah-rempah berpadu harmonis dengan kearifan lokal Indonesia.
Makna Filosofis di Balik Opor Ayam
Lebih dari sekadar makanan, opor ayam menyimpan makna filosofis yang dalam.
Kuah santan yang berwarna putih kerap dimaknai sebagai simbol kesucian—kembali ke fitrah setelah sebulan beribadah.
Opor pun sering disajikan bersama ketupat, yang dalam budaya Jawa berarti ngaku lepat atau mengakui kesalahan.
Menyantap opor ayam di pagi lebaran, biasanya setelah salat Ied dan tradisi sungkeman, menjadi ritual tidak tertulis yang menguatkan tali silaturahmi antar anggota keluarga.
Opor ayam bukan hanya tentang rasa gurih dan santan yang kental, tapi tentang memori, tradisi, dan rasa cinta yang hadir dalam setiap sendoknya.
Maka saat kamu duduk bersama keluarga di meja makan Lebaran, nikmati opor ayam bukan hanya dengan lidah, tapi juga dengan hati.
Editor : Amalia Rizky Indah Permadani