Trenggaleknjenggelek - Lebaran Ketupat merupakan tradisi khas masyarakat muslim di Pulau Jawa yang digelar setelah menunaikan puasa sunah di bulan Syawal.
Perayaan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, namun juga sarat dengan simbol dan nilai-nilai spiritual yang diwariskan turun-temurun.
Sebagai penanda, masyarakat muslim Jawa biasanya membuat dan menyajikan ketupat.
Makanan ini terbuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman janur atau daun kelapa muda berbentuk persegi empat, lalu dimasak hingga padat. Ketupat menjadi ikon utama dalam tradisi ini, namun bukan satu-satunya.
Selain ketupat, masyarakat juga menyuguhkan lepet, makanan tradisional yang bentuknya mirip ketupat.
Meski terlihat serupa, lepet memiliki cita rasa lebih gurih karena dibuat dengan campuran beras ketan, kacang tanah, dan santan, lalu dibungkus daun kelapa dan dikukus hingga matang.
Dalam pandangan budaya Jawa, setiap nama atau istilah selalu memiliki makna mendalam, termasuk kata “Ketupat” atau “Kupat” yang merupakan singkatan dari dua konsep penting: Ngaku Lepat dan Laku Papat.
Ngaku Lepat dimaknai sebagai pengakuan atas kesalahan. Tradisi ini diimplementasikan melalui prosesi sungkeman, di mana seorang anak bersimpuh di hadapan orang tua untuk memohon maaf.
Sungkeman menjadi simbol penghormatan dan permohonan restu dari generasi muda kepada yang lebih tua.
Sebaliknya, orang tua akan memberikan kasih sayang dan bimbingan sebagai wujud cinta kepada anak-anaknya.
Simbol dari prosesi sungkeman ini adalah ketupat itu sendiri. Saat seseorang berkunjung ke rumah kerabat dan disuguhi ketupat, lalu memakannya, itu menandakan bahwa pintu maaf telah dibuka.
Dengan demikian, kesalahan dan kekhilafan yang pernah terjadi antar keluarga dan kerabat dianggap telah terhapus.
Sementara itu, Laku Papat merujuk pada empat prinsip yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga, yakni Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan.
Lebaran berarti berakhirnya bulan Ramadan dan menjadi tanda tibanya hari kemenangan, Idul Fitri, saat seorang muslim kembali suci.
Luberan bermakna melimpah seperti air yang tumpah. Nilai moral dari istilah ini adalah ajakan untuk berbagi, terutama kepada kaum dhuafa, melalui sedekah dan zakat agar harta menjadi berkah dan suci.
Leburan berarti lebur atau menyatu. Ini menjadi simbol pelepasan segala dosa dan kesalahan antara sesama manusia dengan cara saling meminta dan memberi maaf.
Tujuannya agar hubungan antarsesama kembali bersih, tanpa dendam dan prasangka.
Sedangkan Laburan berasal dari kata "labur" atau kapur—zat putih yang digunakan untuk menjernihkan air.
Simbol kapur mengajarkan agar umat Islam mampu menjaga kejernihan dan kesucian lahir serta batin setelah Ramadan berlalu.
Tak hanya makna filosofis dari ketupat, bahan pembuatannya juga memiliki simbol spiritual tersendiri. Penggunaan janur atau daun kelapa muda, misalnya, diambil dari istilah Arab “Ja’a Nur” yang berarti “telah datang cahaya”.
Ini mengandung pesan bahwa setelah melalui bulan penuh ampunan, cahaya kebaikan dan kesucian datang menyinari hati umat muslim.
Bentuk fisik ketupat yang berbentuk segi empat menyerupai hati manusia. Ketika seseorang mengakui kesalahannya, ibarat membelah ketupat—isinya akan tampak putih bersih.
Itu melambangkan hati yang telah bersih dari iri, dengki, dan kebencian karena telah dibungkus oleh cahaya keimanan.
Sementara itu, lepet berasal dari ungkapan Jawa silep kang rapet, yang bermakna “mari kita kubur rapat-rapat”.
Filosofi ini menekankan pentingnya untuk tidak mengungkit lagi kesalahan yang telah dimaafkan, agar persaudaraan tetap erat, seperti lengketnya ketan dalam lepet.
Tradisi ini mencerminkan bagaimana para wali, khususnya Walisongo, menyebarkan nilai-nilai Islam dengan pendekatan budaya yang santun dan penuh makna.
Oleh sebab itu, penting bagi umat Islam di Nusantara, khususnya di Jawa, untuk terus memuliakan ajaran para wali yang telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat.
Dari tradisi inilah lahir ungkapan yang begitu lekat dalam budaya Indonesia saat Idul Fitri: “Mohon maaf lahir dan batin”, sebagai bentuk kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dan keinginan untuk kembali suci dalam hubungan antar sesama. (kho)