Trenggaleknjenggelek - Suasana penuh kehangatan dan tradisi terasa kental di kediaman KH Abdul Fattah Mu'in di Kecamatan Durenan pada Senin (7/4) kemarin.
Cucu dari tokoh ulama yang pertama kali mengenalkan tradisi Kupatan di wilayah ini tersebut kembali menggelar acara Kupatan yang telah menjadi ciri khas budaya Kecamatan Durenan hingga kini.
Tradisi Kupatan di Durenan memiliki sejarah panjang dan diperkirakan telah berlangsung lebih dari 200 tahun lalu. Mbah Mesir, yang dikenal sebagai tokoh agama yang dihormati, memulai tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur setelah menjalankan ibadah puasa sunah Syawal selama enam hari setelah Hari Raya Idul Fitri.
"Dulunya pihak pondok biasanya menjamu tamu dengan ketupat dan lauk yang banyak, kemudian diikuti oleh keluarga dan masyarakat sekitar, hingga akhirnya menjadi tradisi yang melekat kuat di Durenan," ujar Pengasuh Pondok Pesantren Babul Ulum, KH Abdul Fattah Mu'in.
Pantauan Jawa Pos Radar Trenggalek menunjukkan kediaman KH Abdul Fattah Mu'in hari ini dipenuhi oleh sanak saudara, tetangga, santri, serta masyarakat umum yang datang untuk bersilaturahmi dan menikmati hidangan Kupatan.
Tampak hadir pula beberapa tokoh masyarakat dan perwakilan pemerintah daerah yang turut memeriahkan acara ini. "Tradisi Kupatan ini bukan hanya sekedar makan ketupat bersama, melainkan juga mengandung nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, gotong royong, dan saling memaafkan," terangnya.
Tradisi Kupatan di Durenan memang memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan perayaan Kupatan di daerah lain yang terkadang diwarnai dengan hiburan. Di wilayah Durenan, masyarakat datang dengan tulus untuk bersilaturahmi dengan para kiai dan sesama warga, menjalin keakraban tanpa adanya yang berlebihan.
"Dengan terus digelarnya acara Kupatan, diharapkan tradisi yang berakar kuat di Durenan ini akan terus lestari dan menjadi pengingat akan nilai-nilai kebersamaan bagi generasi mendatang," tandasnya. (was/c1/jaz)