Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Self-Reward Bikin Bahagia? Eits, Nggak Selalu! Ini Bahayanya Kalau Kebablasan

Wanda Asmah Khoiriyah • Selasa, 15 April 2025 | 22:50 WIB

apakah boleh memberikan penghargaan untuk diri sendiri setiap kali menyelesaikan hal kecil. Apakah bentuk apreasi diri atau pelarian hidup?
apakah boleh memberikan penghargaan untuk diri sendiri setiap kali menyelesaikan hal kecil. Apakah bentuk apreasi diri atau pelarian hidup?

Trenggaleknjenggelek - Dalam beberapa tahun terakhir, istilah self-reward menjadi tren yang melekat erat dalam kehidupan anak muda, khususnya generasi milenial dan Gen Z. Istilah ini kerap muncul dalam percakapan sehari-hari maupun di media sosial, seringkali disandingkan dengan kalimat, “Udah capek kerja, saatnya self-reward,” atau “Nggak apa-apa jajan, kan buat self-reward.”

Tapi pertanyaannya, apakah boleh memberikan penghargaan untuk diri sendiri setiap kali menyelesaikan hal kecil? Apakah itu bentuk apresiasi diri atau justru pelarian dari tekanan hidup yang belum terselesaikan?

Baca Juga: Tupperware Tutup Bisnis di Indonesia Setelah Tiga Dekade Geluti Pasar Tanah Air

Apa itu self reward?

Self-reward adalah bentuk penghargaan yang kita berikan kepada diri sendiri setelah melakukan sesuatu yang dianggap “layak” diapresiasi. Bentuknya bisa beragam—mulai dari membeli makanan favorit, tidur lebih lama, menonton film kesukaan, hingga belanja barang yang diinginkan.

Dalam psikologi, self-reward termasuk ke dalam teknik reinforcement atau penguatan perilaku. Artinya, ketika kita memberikan hadiah pada diri sendiri setelah menyelesaikan suatu tugas, otak akan mengasosiasikan kerja keras dengan rasa senang, sehingga di masa depan kita terdorong untuk melakukan hal itu lagi.

Baca Juga: Kepribadian Seorang Cat Lover: Sosok Penyayang yang Tenang dan Peka

Ada beberapa alasan kenapa tren self-reward begitu populer, seperti 

1. Bentuk Apresiasi diri

Banyak orang, terutama yang jarang mendapatkan validasi dari luar, merasa perlu untuk memberi semangat kepada dirinya sendiri. Di tengah hidup yang penuh tekanan dan tuntutan, self-reward bisa menjadi bentuk self-love dan pengakuan atas usaha pribadi.

2. Respons Terhadap Stress

Kadang kita memberi hadiah kepada diri sendiri bukan karena berhasil menyelesaikan sesuatu, tapi karena merasa stres dan butuh pelarian. Inilah yang perlu diwaspadai—karena reward yang diberikan bukan karena keberhasilan, tapi karena kelelahan emosional.

3. Budaya Konsumtif dan Media Sosial 

Tak bisa dipungkiri, media sosial ikut mempengaruhi persepsi kita terhadap self-reward. Banyak konten berisi “haul belanja sebagai self-reward”, yang secara tidak langsung menormalisasi konsumsi sebagai bentuk penghargaan diri. Ini bisa menimbulkan tekanan tersendiri, terutama jika seseorang merasa perlu “mengimbangi” gaya hidup orang lain.

Baca Juga: Rekomendasi Playlist untuk Temani Olahraga Agar Semangat Terjaga

Jadi dikit-dikit self rewad : Apresiasi atau Pelampiasan?

Di sinilah letak garis tipisnya. Self-reward menjadi tidak sehat ketika kita melakukannya terlalu sering dan bahkan untuk hal atau capaian yang tidak menantang, menjadi alasan untuk boros serta kerap digunakan sebagai pelarian dari permasalahan. 

Misalnya: baru buka laptop kerja 5 menit lalu merasa pantas beli kopi mahal sebagai self-reward, atau baru selesai satu bab belajar lalu langsung checkout baju online.

Seharusnya, self rewad dilakukan ketika kita bisa mengetahui tubuh dan pikiran untuk jeda yang positif dalam kegiatan yang memerlukan energi, serta bisa menyadarkan kita bahwa usaha patut dihargai, membantu menjaga semangat, bukan sekadar memuaskan dorongan sesaat.

Bagaimana kita melakukan self rewad secara bijak?

Agar self-reward tetap sehat dan bermanfaat, ada beberapa cara yang bisa dilakukan:

A. Tentukan tujuan yang jelas 

Beri reward hanya ketika kamu sudah menyelesaikan sesuatu yang benar-benar penting. Misalnya: menyelesaikan tugas kuliah, mengerjakan proyek kerja, atau berhasil melewati minggu yang berat.

Reward tidak selalu harus mahal. Bisa dengan istirahat, nonton film, jalan-jalan sebentar, journaling, atau sekadar makan makanan favorit di rumah. Tentukan frekuensi dan anggaran untuk self-reward. Misalnya, satu kali seminggu untuk treat kecil, atau satu bulan sekali untuk treat besar. Ini penting agar kamu tidak jatuh pada gaya hidup boros.

C. Kenali emosi sendiri

Sebelum self-reward, tanya diri sendiri: “Aku butuh reward karena berusaha, atau ini cuma pelampiasan karena lagi sedih atau stres?” Jawaban jujur akan membantumu memilih tindakan yang tepat.

Baca Juga: Sejarah dan Lirik Hymne Kopassus Karya Titiek Puspa

Jadi, tidak semua usaha harus diberi hadiah berupa barang atau kegiatan tertentu. Terkadang cukup dengan berkata pada diri sendiri, “Aku bangga sama diriku hari ini,” atau memberi pelukan hangat pada diri sendiri, itu sudah menjadi bentuk self-reward yang paling bermakna. Selama dilakukan dengan kesadaran dan pengendalian diri. Ini bisa menjadi sumber energi baru, motivasi, bahkan bentuk penyembuhan bagi banyak orang. Tapi, jika dilakukan terus-menerus tanpa alasan yang kuat, ia bisa berubah jadi jebakan gaya hidup boros dan pelarian emosional.

Jadi, salah nggak sih, dikit-dikit self-reward?

Jawabannya tergantung niat, frekuensi, dan cara kamu melakukannya. Kalau dilakukan dengan bijak, itu bukan salah, itu bentuk cinta pada diri sendiri. Tapi kalau cuma jadi alasan untuk menghindari realita, mungkin sudah saatnya refleksi ulang.

Baca Juga: Jumbo, Titik Balik Animasi Lokal: Visual yang Bikin Melongo, Karakter yang Bikin Sayang

Motif Gunungan dan Geblek Renteng.
Motif Gunungan dan Geblek Renteng.
Editor : Wanda Asmah Khoiriyah
#self reward #makna self reward #boros berkedok self reward