Trenggaleknjenggelek - Istilah "karma" memang tidak berasal dari Islam, melainkan dari ajaran Hindu dan Buddha. Namun, jika dilihat dari esensinya—yakni prinsip sebab-akibat atas setiap perbuatan—Islam juga mengenal konsep serupa. Dalam Islam, prinsip ini disebut sebagai “balasan amal” atau “hisab dan qadha-qadar”. Jadi, meskipun kata “karma” tidak digunakan secara langsung, nilai yang terkandung di dalamnya sangat dekat dengan ajaran Islam.
Baca Juga: Hololive ID Punya Tiga Bocah Sakti: Zeta, Kaela, dan Kobo dalam Dunia yang Tak Pernah Normal
Dalam Al-Qur'an, Allah menegaskan bahwa setiap manusia akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diperbuatnya. Firman Allah dalam Surah Az-Zalzalah ayat 7-8 menyatakan:
"Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya)."
Ayat ini secara jelas menyampaikan bahwa tidak ada perbuatan sekecil apa pun yang luput dari pengawasan Allah. Setiap tindakan memiliki konsekuensi, baik di dunia maupun di akhirat.
Namun, berbeda dengan konsep karma dalam agama Timur yang cenderung bersifat otomatis atau mekanis, Islam menekankan adanya kehendak dan rahmat Allah dalam segala hal. Allah bisa mengampuni dosa hamba-Nya yang bertaubat, dan bisa menunda atau meringankan balasan atas suatu perbuatan. Inilah mengapa dalam Islam, harapan dan taubat selalu terbuka, tak peduli seburuk apa masa lalu seseorang.
Selain itu, Islam juga memandang niat sebagai unsur penting dalam setiap perbuatan. Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, dua orang bisa melakukan tindakan yang sama, tetapi balasannya berbeda tergantung pada niat masing-masing.
Baca Juga: When Life Gives You Tangerines : Potret Kehidupan dan Ketahanan Perempuan Jeju
Jadi, jika berbicara tentang “karma” dalam konteks Islam, maka itu dapat dimaknai sebagai hukum sebab-akibat yang berada dalam pengawasan dan kebijaksanaan Allah. Tidak hanya sekadar “apa yang kamu beri akan kembali padamu”, tetapi juga mencakup rahmat, pengampunan, dan keadilan Ilahi.
Kesimpulannya, meski berbeda dalam istilah dan pendekatan, konsep karma memiliki padanan dalam Islam. Ia menjadi pengingat bahwa hidup ini bukan tanpa arah—segala yang kita lakukan akan kembali kepada kita, cepat atau lambat, dalam bentuk yang paling adil menurut Allah.