Trenggaleknjenggelek - Tanggal 21 April besok merupakan hari kartini. Dan bayangkan jika Kartini lahir di abad ke-21, kemungkinan besar dia bukan cuma menulis surat ke sahabat di Belanda.
Bisa jadi dia buka YouTube channel berjudul “Ruangan Kartini” atau punya akun TikTok dengan tagline “Self-worth is your worth”.
Alih-alih menulis di balik lampu minyak, ia mungkin bikin konten edukasi di balik ringlight dengan laptop di depannya.
Kartini adalah simbol perjuangan hak perempuan dan pentingnya pendidikan. Tapi coba bayangkan dia hidup di zaman algoritma dan hastag.
Bukan tidak mungkin dia jadi content creator dengan fokus pada isu-isu literasi perempuan, kesehatan mental, kesetaraan gender, hingga self development.
Baca Juga: Hololive ID Punya Tiga Bocah Sakti: Zeta, Kaela, dan Kobo dalam Dunia yang Tak Pernah Normal
Kontennya? Bisa macam-macam. Mungkin ada segmen “Surat Kartini Hari Ini”, di mana ia membacakan DM dari followers yang sedang galau karena dilarang kuliah oleh orang tua.
Atau Q&A interaktif seperti “Kartini Answers: How to Say No Without Guilt”. Dan siapa tahu, ia juga bikin podcast bareng tokoh perempuan muda dari berbagai bidang.
Satu hal yang pasti, Kartini zaman sekarang akan tetap bersuara, dengan medium yang berbeda. Bukan lagi lewat pena, tapi lewat konten.
Ia akan menarasikan ulang perjuangan perempuan dengan gaya yang relate, lugas, dan mungkin kadang dibumbui humor tipis-tipis.
Sebab bagi Kartini, suara perempuan harus tetap hidup, tak peduli medianya apa. Dan kalau itu berarti harus jadi TikToker atau YouTuber. (sun)