Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Kisah Hakim Perempuan Dian Nur Pratiwi, Sempat Digoda Uang dan Dapat Ancaman

Akhmad Nur Khoiri • Senin, 21 April 2025 | 14:14 WIB
Ketua PN Trenggalek, Dian Nur Pratiwi saat memimpin persidangan.
Ketua PN Trenggalek, Dian Nur Pratiwi saat memimpin persidangan.

Trenggaleknjenggelek - Menjadi hakim bukan sekadar profesi, tapi tanggung jawab yang sarat konsekuensi.

Ketua Pengadilan Negeri Trenggalek, Dian Nur Pratiwi, berbagi pengalamannya menjaga integritas di tengah tekanan, godaan, hingga ancaman terhadap keluarganya.

Keteguhan hati dalam memegang prinsip keadilan menjadi fondasi yang membuatnya tetap berdiri tegak di dunia yang kerap memancing kompromi.

"Godaan itu ada, apalagi kalau menangani perkara besar. Saya pernah dipanggil seseorang yang bilang ada 'titipan',” kisahnya.

Sikap tegasnya menolak tawaran suap bahkan membuatnya sempat menerima ancaman, tak hanya terhadap dirinya tapi juga terhadap keluarganya.

"Waktu saya tolak, ada yang bilang, ‘Hati-hati, Bu. Anak-anak ibu sekolah di mana?’ Saya tahu itu ancaman. Tapi saya yakin, ketika kita benar dan tidak menyimpang, Tuhan akan jaga,” ungkapnya.

Tekanan demi tekanan tak membuatnya goyah. Dian memilih jalan sunyi integritas, dengan keyakinan bahwa keadilan tidak bisa dinegosiasikan.

“Saya selalu ingat, keputusan saya bukan hanya dipertanggungjawabkan kepada atasan, tapi juga kepada Allah,” tegasnya.

Sebagai hakim perempuan, ia juga pernah mengalami perlakuan diskriminatif.

Salah satunya ketika diundang ke acara resmi dan diposisikan duduk bersama istri pejabat, bukan di kursi pimpinan yang seharusnya ia tempati.

“Saya bilang, tolong hormati jabatan, bukan jenis kelamin,” katanya.

Kepemimpinannya di lingkungan pengadilan dijalankan dengan pendekatan inklusif dan berbasis hati.

“Saya tidak ingin menciptakan jarak. Kalau bawahan merasa nyaman, mereka akan semangat bekerja. Saya lebih suka memberi contoh daripada hanya memberi perintah,” ujar hakim perempuan itu.

Di balik ketegasan dan prinsip yang kuat, Dian juga menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga.

Sejak menjadi calon hakim, ia dan suaminya sudah sepakat akan menjalani konsekuensi profesi yang menuntut mobilitas tinggi.

"Sejak awal saya sampaikan, nanti kita akan tinggal terpisah. Tidak bisa satu kota terus karena penempatan saya bisa berpindah-pindah,” tuturnya.

Sang suami, yang dulu notaris, sempat ikut pindah ke daerah penempatan pertama di Takalar, Sulawesi Selatan.

Namun saat ia dipindahkan ke Magelang dan kemudian Wonosobo, keputusan penting pun diambil.

Suaminya memilih menjadi dosen dan tetap tinggal di kota asal agar anak-anak bisa tumbuh di lingkungan yang stabil.

Sementara itu, Dian menjalankan tugas di kota berbeda sebagai hakim, bahkan ketika mendapat promosi menjadi Wakil Ketua PN Pulang Pisau.

“Di rumah, saya adalah istri dan ibu. Kami punya kesepakatan tidak membawa pekerjaan kantor ke rumah,” katanya.

Anak-anak pun dibiasakan mandiri sejak dini. Bahkan sejak si bungsu masuk TK, keluarga mereka tidak lagi menggunakan jasa asisten rumah tangga.

Dian melatih keempat anaknya bertanggung jawab atas urusan pribadi mereka—dari membereskan kamar hingga mengatur jadwal belajar.

Kedekatan emosional tetap ia jaga meski tinggal berjauhan. Ia memiliki momen khusus untuk berbicara dengan anak-anak satu per satu, menyesuaikan gaya komunikasi dengan karakter mereka masing-masing.

“Anak saya yang introvert biasanya pelan bicara. Jadi saya dekati lewat pelukan, lewat kehadiran,” ujarnya.

Meski waktu kebersamaan terbatas, ikatan keluarga tetap kuat. Mereka terbiasa makan bersama sebulan sekali saat ia pulang.

Anak-anak pun lebih nyaman bercerita pada sang ibu ketimbang ayah mereka.

"Saya bukan hanya ibu, tapi juga teman bagi mereka,” ucapnya dengan hangat.

Di akhir wawancara, ia berpesan kepada perempuan-perempuan muda agar tidak takut berkarier dan tetap menjaga pendidikan.

“Perempuan wajib berpendidikan tinggi. Bukan semata untuk karier, tapi karena perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Kalau diberi karier, itu bonus,” ujarnya. (kho)

Editor : Akhmad Nur Khoiri
#hakim perempuan #Dian Nur Pratiwi #Ketua PN Trenggalek