Trenggaleknjenggelek - Kuaci bukan sekadar camilan. Di banyak tempat, terutama di Asia, kuaci sudah menjadi bagian dari budaya. Di Indonesia sendiri, kuaci sering kali dikaitkan dengan momen santai bersama keluarga, obrolan ringan di sore hari, atau camilan saat menonton televisi. Bahkan, bagi generasi 90-an, kuaci punya tempat tersendiri di hati sebagai camilan penuh kenangan.
Bayangkan suasana kumpul keluarga saat Lebaran atau malam Minggu. Di tengah obrolan hangat, sekantong kuaci sering hadir menemani. Proses mengupas kuaci satu per satu memberi ruang untuk melambat dan menikmati momen. Tak ada yang terburu-buru saat makan kuaci. Ini menjadikannya camilan yang cocok untuk momen kebersamaan, di mana obrolan jadi lebih panjang dan suasana makin akrab.
Selain itu, banyak orang mengaitkan kuaci dengan nostalgia masa kecil. Di warung-warung dekat sekolah, kuaci kerap jadi pilihan anak-anak dengan uang saku terbatas. Kuaci dengan berbagai rasa — asin, manis, bahkan rasa susu — menjadi bagian dari kenangan masa SD yang tak tergantikan.
Menariknya, kuaci juga populer di negara-negara lain. Di Tiongkok, misalnya, makan kuaci adalah bagian dari tradisi menonton acara Tahun Baru Imlek di TV. Di Amerika Serikat, kuaci sering dijadikan camilan bagi pemain dan penonton baseball. Bahkan ada kebiasaan unik di mana pemain mengunyah dan membuang kulit kuaci saat berada di lapangan — menjadikannya bagian dari gaya khas olahraga tersebut.
Kini, kuaci semakin mudah ditemukan dalam berbagai varian. Ada kuaci bunga matahari, kuaci semangka, hingga kuaci labu. Rasanya pun makin beragam, mengikuti selera pasar yang terus berkembang.
Namun satu hal tetap sama: makan kuaci bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal pengalaman. Dari membuka kulitnya, merasakan bijinya, hingga mengobrol di sela-sela, semua menciptakan kenangan yang khas.
Kuaci mengajarkan kita untuk sabar, menikmati proses, dan menghargai hal-hal kecil. Itulah mengapa camilan ini tetap bertahan dari zaman ke zaman — sederhana tapi bermakna.
Baca Juga: Respon Damkar Jika ada Laporan Ular Berbisa Masuk ke Rumah
Editor : Wanda Asmah Khoiriyah