Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Makna Arca di Bali: Simbol Spiritualitas dan Warisan Budaya Hindu

Wanda Asmah Khoiriyah • Kamis, 24 April 2025 | 05:30 WIB
Para umat hindu sedang melakukan sembahyang
Para umat hindu sedang melakukan sembahyang

Trenggaleknjenggelek - Bali dikenal sebagai pulau yang kaya akan budaya dan spiritualitas, di mana hampir setiap aspek kehidupan masyarakatnya terjalin erat dengan nilai-nilai keagamaan. Salah satu wujud paling nyata dari kekayaan budaya tersebut adalah arca patung atau figur suci yang tersebar di pura, halaman rumah, hingga sudut-sudut desa. Arca di Bali bukan sekadar karya seni, melainkan simbol kehidupan, penjaga spiritual, dan penghubung manusia dengan alam semesta serta dunia roh.

Dalam tradisi Hindu Bali, arca memiliki fungsi yang sangat penting sebagai media pemujaan. Setiap arca biasanya mewakili dewa, dewi, leluhur, atau makhluk spiritual tertentu. Masyarakat Bali percaya bahwa arca bukan hanya simbol, tetapi juga dapat menjadi wadah kehadiran kekuatan suci (pratima) setelah melalui ritual pemanggilan roh atau "ngelinggihang."

Salah satu arca paling umum ditemukan adalah arca Dewa Siwa, yang sering digambarkan dalam berbagai wujud seperti Mahadewa atau Rudra. Siwa dikenal sebagai dewa pelebur dan pelindung kesucian. Di banyak pura, arca Siwa diletakkan di tempat utama (jeroan) dan menjadi fokus utama dalam upacara keagamaan. Selain itu, Dewi Durga, perwujudan kekuatan feminin dari Siwa, juga kerap digambarkan sebagai arca dengan wajah tegas dan postur gagah, melambangkan perlindungan dan kekuatan spiritual.

Arca Dewa Wisnu, sebagai pemelihara alam semesta, juga memiliki tempat khusus dalam kehidupan masyarakat Bali. Ia digambarkan dengan empat tangan membawa cakra (roda), sangkha (kerang), gada (pemukul), dan teratai. Wisnu sering dipuja untuk menjaga keseimbangan dan harmoni di desa maupun rumah tangga.

Di luar dewa-dewi utama, arca Barong dan Rangda juga sangat khas di Bali. Barong melambangkan kekuatan baik, sementara Rangda mewakili kekuatan jahat. Keduanya bukan sekadar simbol, tetapi juga digunakan dalam pertunjukan sakral yang disebut Calonarang, yang mencerminkan pertarungan abadi antara dharma (kebaikan) dan adharma (kejahatan). Arca Barong kerap diletakkan di balai desa atau pura untuk menjaga masyarakat dari pengaruh buruk.

Selain itu, banyak rumah tangga di Bali juga memiliki arca kecil sebagai bagian dari sanggah atau tempat ibadah keluarga. Arca-arca ini menjadi penghubung antara manusia dengan leluhur serta penjaga keseimbangan antara alam sekala (nyata) dan niskala (tak kasat mata).

Secara artistik, arca-arca di Bali menonjolkan kehalusan ukiran, proporsi yang harmonis, serta ekspresi yang penuh makna. Pembuatan arca dilakukan dengan penuh perhitungan dan doa, bahkan sering kali melibatkan proses ritual sebelum dan sesudah ukiran selesai. Seniman pemahat arca di Bali dianggap sebagai pelaku seni sekaligus pelayan spiritual.

Pada akhirnya, arca di Bali adalah cerminan dari filosofi hidup masyarakat yang mengedepankan keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Hyang Widhi (Tuhan). Di balik keindahan bentuknya, arca menyimpan nilai-nilai kehidupan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi saksi abadi dari spiritualitas yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.

Liam Delap bisa jadi alternatif bagi lini depan Liverpool.
Liam Delap bisa jadi alternatif bagi lini depan Liverpool.
Editor : Wanda Asmah Khoiriyah
#Arca Siwa #barong #rangda #dewa wisnu