Trenggaleknjenggelek - Pesantren, sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional, memiliki peran penting dalam pembentukan moral dan intelektual generasi muda Muslim di Indonesia. Namun, ironisnya, citra luhur ini tercoreng oleh berbagai laporan dan bahkan penggambaran dalam media seperti film "Bidaah" yang menyoroti kasus kekerasan seksual di lingkungan pesantren. Mengapa tempat yang seharusnya menjadi fase kedamaian dan pembelajaran agama ini justru menyimpan potensi terjadinya kejahatan serius semacam itu?
Salah satu faktor utama adalah struktur kekuasaan yang hierarkis dan patriarkal. Figur kiai atau ustadz memiliki otoritas yang sangat besar, seringkali dianggap memiliki karisma dan kedudukan spiritual yang sulit digugat. Santri, sebagai pihak yang lebih muda dan dalam posisi menuntut ilmu, cenderung patuh dan sungkan untuk mempertanyakan atau melawan perintah. Kesenjangan kekuasaan ini menciptakan celah bagi oknum untuk memanfaatkan posisi mereka.
Baca Juga: Generasi Sandwich: Tak Punya Pilihan Selain Survival Mode On
Selain itu, lingkungan pesantren yang seringkali tertutup dapat menjadi faktor risiko. Kehidupan yang terisolasi dari pengawasan eksternal dan kurangnya mekanisme pelaporan yang efektif dapat membuat tindakan kekerasan sulit terdeteksi dan ditindaklanjuti. Budaya "aib keluarga" atau "menjaga nama baik pesantren" juga dapat menghambat korban untuk beraniSpeak up.
Kurangnya edukasi dan kesadaran mengenai batasan dan persetujuan (consent) juga menjadi masalah krusial. Baik pengelola pesantren, pengajar, maupun santri mungkin tidak memiliki pemahaman yang memadai tentang apa yang termasuk dalam perilaku kekerasan seksual dan pentingnya persetujuan dalam interaksi.
Baca Juga: Kekuatan Para Penjaga Laut: 10 Marinir Terkuat dari East Blue dalam One Piece
Terakhir, impunitas bagi pelaku menjadi lingkaran setan yang melanggengkan kekerasan. Ketika kasus kekerasan tidak ditangani secara transparan dan tegas, atau bahkan ditutup-tutupi demi menjaga reputasi, pelaku merasa aman untuk terus melakukan aksinya, dan korban merasa tidak memiliki harapan untuk mendapatkan keadilan.
Film "Bidaah", meskipun fiktif, memberikan gambaran yang kuat tentang bagaimana penyalahgunaan kekuasaan berkedok agama dapat terjadi di lingkungan yang seharusnya aman. Untuk mencegah terulangnya tragedi serupa, diperlukan upaya kolektif untuk mereformasi sistem di pesantren, termasuk penguatan pengawasan, mekanisme pelaporan yang aman dan responsif, pendidikan tentang kesetaraan gender dan persetujuan, serta penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku.
Baca Juga: Neuro-sama sang VTuber dengan Kecerdasan Buatan: Apakah AI Akan Menggantikan Peran VTuber?