Trenggaleknjenggelek - Indah Nabila Hasna menunjukkan bahwa laut bukan hanya tempat wisata, melainkan ruang sunyi yang menyembuhkan. Lewat olahraga ekstrem free diving, gadis asal Desa /Kecamatan Durenan tersebut menemukan bukan hanya kedalaman laut, melainkan juga kedalaman dirinya sendiri.
Sebab, sejak kecil, air sudah menjadi dunia yang memikat bagi gadis yang akrab disapa Hasna ini. Ketertarikan itu membawanya mencoba snorkeling. Namun, pengalaman pertamanya jauh dari kata mudah. Tubuhnya terus mengapung dan ia baru menyadari bahwa berenang dan menyelam adalah dua kemampuan yang berbeda. “Aku merasa sulit untuk tetap di dalam air. Dari situ aku sadar, ternyata orang yang bisa berenang belum tentu bisa menyelam,” katanya.
Tantangan itu justru memantik tekadnya. Dari situ, dia memutuskan untuk belajar free diving secara serius melalui kursus resmi. Meski penuh risiko dan membutuhkan biaya serta waktu yang tak sedikit, Hasna menjalani prosesnya dengan semangat. “Aku senang banget bisa sampai di titik ini. Semua effort-ku terbayar,” ungkapnya.
Menyelam hingga kedalaman lebih dari 15 meter tanpa alat bantu napas adalah pengalaman yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Namun, proses belajar itu tak mulus. Equalize, teknik menyeimbangkan tekanan di telinga, menjadi salah satu tantangan terberat. “Kalau gagal, telingaku sakit banget,” ujarnya.
Bagi Hasna, free diving lebih dari sekadar latihan fisik, tetapi juga sebagai terapi untuk kesehatan mental. Karena di bawah air, dia bisa membayangkan hal-hal yang membut bahagia, yang bisa membuatnya tahan napas lebih lama. Bahkan, Hasna menyarankan, kalau ada yang merasa darat terlalu berisik, coba diving yang benar-benar memberi ketenangan.
Didampingi pelatih yang sabar dan suportif, Hasna merasa setiap sesi seperti meditasi. Dokumentasi dari pelatih pun kerap digunakan untuk membuat konten pribadi. Dalam latihannya, tak jarang muncul momen lucu, seperti saat ia hampir tertidur saat berlatih static apnea. “Awalnya cuma tahan napas 1 menit 30 detik. Setelah dikasih tips, bisa 2 menit 30 detik. Tapi saking relaksnya, aku malah hampir ketiduran,” ujarnya sambil tertawa.
Hasna memiliki daftar impian yang ingin ia capai lewat free diving. Salah satunya di Gili Trawangan, Lombok, tempat patung bawah laut ikonik berada. Sebab, dia pengin banget foto di lokasi tersebut. Selain itu, dia juga ingin menguasai teknik free fall, metode menyelam dengan jatuh bebas yang efisien dalam menghemat oksigen.
Baginya, free diving adalah bagian dari mimpinya menjelajahi seluruh keindahan laut Indonesia. Melalui tekad, latihan, dan semangat cinta terhadap laut, Hasna bukan hanya menyelami air, melainkan juga menyelami dirinya sendiri. Dia menunjukkan bahwa laut bukan hanya tempat berwisata, melainkan juga tempat pulang bagi jiwa-jiwa yang mencari kedamaian. “Laut kita begitu indah. Aku ingin melihatnya lebih dekat lagi,” jelas Hasna.(mal/c1/jaz)