Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Podcast Horor Banyak Peminat, Ini Alasan Gen Z Menyukainya

Akhmad Nur Khoiri • Minggu, 18 Mei 2025 | 02:00 WIB
Alasan Gen Z suka nonton Podcast Horor
Alasan Gen Z suka nonton Podcast Horor

Trenggaleknjenggelek - Di tengah bisingnya dunia digital dan gemerlap konten instan, Gen Z justru menemukan kenyamanan dalam suara-suara sunyi yang menggetarkan.

Podcast horor seperti Morbid menjelma menjadi sahabat setia di malam hari—menawarkan kisah pembunuhan, mitos urban, hingga misteri yang membekas di benak.

Bagi jutaan pendengar muda, cerita-cerita ini bukan semata hiburan, tetapi ruang aman untuk menghadapi ketakutan, rasa penasaran, bahkan luka batin yang tak selalu mudah diucapkan.

Mengapa cerita yang menyentuh sisi gelap begitu memikat Gen Z? Apakah semata soal ledakan adrenalin, atau justru bentuk dialog batin yang lebih dalam?

Dan bagaimana podcast seperti Morbid mempengaruhi cara mereka mengonsumsi media di era modern? Seperti cahaya redup dalam lorong sunyi, podcast horor menjadi peta emosional bagi generasi yang tumbuh dalam bayang-bayang ketidakpastian.

Salah satu alasan kuat di balik daya pikat podcast horor adalah kekuatan audio dalam menciptakan pengalaman emosional yang intens.

Dalam studi berjudul More than a Feeling, Poerio, dkk (2018) mengungkap bahwa stimulus audio dapat memicu perubahan psikologis dan fisik—dari detak jantung yang berdebar, suasana hati yang berubah, hingga sensasi menggigil.

Meskipun penelitian ini fokus pada ASMR, efek serupa dirasakan dalam podcast horor, yang memadukan narasi dramatik, suara ambient, dan efek sonik mencekam untuk menyusun dunia imajinatif yang hidup.

Gen Z, yang akrab dengan konten interaktif, menemukan bahwa audio memberi ruang lebih luas untuk membayangkan dan meresapi cerita secara personal.

Koneksi emosional juga menjadi kunci. Pembawa acara Morbid, Alaina Urquhart dan Ashleigh Kelley, menyampaikan cerita menyeramkan dengan gaya bertutur yang akrab, seolah mengobrol santai bersama sahabat.

Mereka mampu menyeimbangkan antara fakta tragis dan humor gelap, menghadirkan atmosfer yang intim di balik kisah mengerikan.

Di Indonesia, popularitas podcast seperti Lentera Malam atau Lonceng Mystery menunjukkan betapa kuatnya akar budaya mistis dalam daya tarik genre ini.

Gen Z Indonesia, yang tumbuh di tengah tantangan global, justru menemukan kenyamanan dalam ketakutan yang terkendali—sebuah cara untuk merasa hidup, namun tetap aman.

Podcast horor menawarkan pelarian emosional yang bisa dinikmati kapan saja. Saat belajar, menyetir, atau sekadar beristirahat, Gen Z dapat menyelami cerita-cerita kelam tanpa harus terpaku pada layar.

Judul-judul menggoda seperti “Siapa yang Barusan Lewat?” menggelitik rasa ingin tahu mereka, menjadikan tiap episode sebagai petualangan psikis yang sulit dilewatkan. Namun lebih dari sekadar hiburan, mendengarkan cerita horor adalah cara mereka menertawakan rasa takut, menjinakkan kegelapan, dan merasa terkoneksi dengan sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.

Namun, kekuatan podcast horor tak berhenti di situ. Ia membuka ruang untuk refleksi eksistensial.

Ketika Gen Z menyimak cerita tentang kejahatan, kematian, atau dunia gaib, mereka sedang menyentuh tema-tema universal yang kadang terlalu menakutkan untuk dihadapi langsung.

Seperti cermin retak, podcast ini memantulkan kecemasan mereka akan dunia yang tak pasti—dari krisis iklim hingga tekanan sosial.

Efek emosional dari audio, sebagaimana diteliti Poerio dkk., membantu mereka mengolah ketakutan itu secara tidak langsung, dengan narasi sebagai pelindung.

Dampaknya terhadap kebiasaan konsumsi media pun tak bisa diremehkan. Format audio yang fleksibel dan personal menjadikan podcast sebagai media favorit baru.

Data dari Spotify menunjukkan peningkatan tajam dalam konsumsi podcast di Indonesia sejak 2019, dengan horor sebagai genre paling digemari.

Ini menunjukkan adanya pergeseran dari media visual ke konten yang lebih dapat dikendalikan dan dipersonalisasi.

Namun, eksposur berlebihan terhadap narasi kelam juga menyimpan risiko, terutama bagi mereka yang rentan terhadap kecemasan.

Ditambah lagi, algoritma platform kerap menyuguhkan konten serupa, yang bisa mempersempit perspektif dan membatasi eksplorasi genre lain.

Akhirnya, podcast horor seperti Morbid ibarat obor kecil dalam malam yang pekat—menemani Gen Z menelusuri sisi tergelap manusia bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk memahami.

Mereka tak sekadar mendengar cerita menyeramkan, tetapi juga mencari makna, rasa koneksi, dan bahkan pelipur lara.

Dalam lorong gelap itu, mereka menemukan cahaya: bahwa meskipun dunia menakutkan, mereka tidak sendiri.

Dan mungkin, setelah menari bersama bayangan, mereka akan melangkah ke dunia nyata dengan keberanian yang baru. (kho)

Editor : Akhmad Nur Khoiri
#podcast horor #Morbid #Gen Z