Trenggaleknjenggelek – Film-film Indonesia terus menunjukkan dominasinya di kancah perfilman nasional.
Berdasarkan data terbaru hingga Jumat, 6 Juni, lima dari sepuluh film terlaris sepanjang masa di Indonesia merupakan produksi dalam negeri.
Hal ini menandakan geliat industri film lokal yang kian kuat dan digemari publik.
Posisi puncak masih dipegang oleh film Hollywood “Avengers: Endgame” (2019) dengan perolehan tiket sebanyak 10.976.338, disusul ketat oleh film animasi lokal “Jumbo” (2025) yang berhasil mengumpulkan 10.109.561 penonton.
Tak kalah populer, film horor fenomenal “KKN di Desa Penari” (2022) menempati posisi ketiga dengan torehan 10.061.033 penonton.
Sementara itu, film komedi absurd “Agak Laen” (2024) juga mencetak rekor besar dengan 9.127.602 penonton, membuktikan bahwa genre komedi masih memiliki tempat spesial di hati masyarakat.
Di posisi selanjutnya, film superhero “Avengers: Infinity War” (2018) dan “Spider-Man: No Way Home” (2021) mencatatkan masing-masing 8.220.812 dan 8.215.014 tiket terjual.
Tak hanya film baru, beberapa film yang rilis lebih dulu pun tetap masuk dalam daftar.
“Avatar: The Way of Water” (2022) mencatatkan 7.096.798 penonton, sementara “Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1” (2016) mengamankan tempat dengan 6.858.616 penonton.
Dua film lainnya yang melengkapi daftar adalah “Pengabdi Setan 2: Communion” (2022) dengan 6.391.982 penonton dan film romantis legendaris “Dilan 1990” (2018) yang ditonton oleh 6.315.664 orang.
Pencapaian ini membuktikan bahwa selera penonton Indonesia kian beragam, namun tetap memberi tempat istimewa bagi karya anak bangsa.
Keberhasilan film-film lokal tersebut membuka peluang lebih besar untuk produksi film nasional ke depannya, sekaligus mempertegas pentingnya mendukung industri kreatif tanah air. (kho)