Trenggaleknjenggelek - Buat para desainer, content creator, atau orang yang merasa dirinya estetik, mengoleksi font dan palet warna bisa terasa seperti hobi suci.
Tapi anehnya, setelah mengunduh 247 font dari DaFont dan menyimpan 48 template resume dari Canva, yang dipakai cuma… satu. Sisanya?
Manggung di folder bernama “Penting" tapi gak dipakai. Kenapa Sih Suka Koleksi Font dan Palet Warna?
Efek Dopamin Digital
Menurut riset dari University of Pennsylvania (2020), manusia bisa merasakan dopamine rush hanya dengan mengoleksi sesuatu yang tampak rapi dan artistik.
Font dan palet warna termasuk di dalamnya. Bahkan sebelum dipakai, tampilannya aja udah bikin bahagia.
Rasa Siap Tempur Padahal Nggak Niat Perang
Mengunduh ratusan jenis font serif dan sans-serif menciptakan ilusi bahwa kamu siap bikin logo brand mewah atau feed Instagram yang “clean but classy”. Padahal, realitanya: kamu tetap pakai Arial buat presentasi.
Sindrom Template FOMO
Ketika ada template baru gratisan: “Siapa cepat dia dapat!”. Meski tidak ada proyek desain, rasanya rugi banget kalau gak disimpan. Just in case, katanya. Tapi kasusnya gak pernah muncul.
Beberapa nama folder yang sering ditemukan di laptop para kolektor pasif ini antara lain:
- “Template Keren FINAL FIX BGT”
- “Font Buat Project Future”
- “Palet Warna Instagramable”
- “Jangan Dihapus Penting”
Anehnya, isi folder ini jarang dibuka. Tapi kalau mau dihapus, rasanya seperti menghapus kenangan. Padahal belum pernah dipakai juga.
Sebenernya, mengoleksi aset desain itu tidak salah. Bahkan menurut survei Adobe (2022), 68% desainer grafis menyimpan lebih dari 100 font yang mereka belum pernah pakai. Kenapa? Karena punya banyak pilihan itu bikin tenang. Meski akhirnya tetap pakai Roboto.
Daripada menuh-menuhin hard disk, kamu bisa:
- Bikin folder "Sudah Pernah Dipakai"
- Hapus font yang tak kompatibel
- Gunakan aplikasi manajemen font seperti FontBase atau RightFont
Dan mulai pakai palet warna yang kamu simpan buat desain story Instagram ulang tahun temen. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom