TRENGGALEKNJENGGELEK - Jalur ekstrem rawan jatuh masih menjadi ancaman serius bagi para pendaki gunung.
Dalam beberapa kasus terakhir, justru fase turun gunung yang memicu banyak peristiwa kecelakaan.
Padahal, banyak pendaki fokus menyiapkan tenaga untuk mendaki. Namun, mereka kurang memperhatikan teknik turun gunung yang benar.
Turun gunung bukan hanya soal berjalan menurun. Justru saat inilah tubuh menanggung beban lebih besar, terutama pada lutut dan pergelangan kaki.
Jika salah langkah atau abai pada teknik, risiko jatuh dan cedera sangat besar. Terlebih di jalur yang licin, sempit, berbatu, atau bersudut kemiringan curam.
Beberapa kasus pendaki tergelincir hingga jatuh ke jurang juga terjadi saat proses turun, bukan saat naik.
Faktor kelelahan, medan terjal, serta minimnya pemahaman teknik dasar menjadi penyebab utamanya.
Oleh karena itu, setiap pendaki wajib membekali diri dengan pengetahuan dasar tentang cara turun gunung yang aman.
Berikut cara- cara yang perlu diperhatikan para pendaki saat turun gunung.
Jangan Asal Melangkah Saat Turun
Kesalahan umum yang sering dilakukan pendaki adalah menuruni jalur seperti saat berjalan biasa.
Padahal, medan gunung membutuhkan postur dan teknik khusus.
Turun dengan tergesa atau terlalu cepat akan meningkatkan risiko kehilangan keseimbangan. Apalagi jika tas carrier terlalu berat dan tidak disetel dengan benar.
Salah satu teknik yang direkomendasikan adalah menuruni jalur secara zigzag atau menyamping, bukan lurus ke bawah.
Posisi badan sedikit membungkuk ke depan dengan lutut agak ditekuk dapat membantu menjaga pusat gravitasi dan mengurangi tekanan pada sendi.
Saat bertemu jalur curam atau licin, jangan ragu menggunakan bantuan tangan untuk meraih batu, akar pohon, atau tongkat trekking.
Gunakan juga alas kaki yang memiliki grip kuat dan anti-selip. Banyak insiden tergelincir disebabkan oleh sepatu tidak sesuai medan atau sudah aus.
Kenali Tipe Medan yang Dilewati
Jalur ekstrem rawan jatuh umumnya memiliki karakteristik yang mirip, seperti tanah basah, kerikil longgar, batu miring, atau akar pohon menonjol.
Pendaki harus peka membaca tanda-tanda ini dan segera mengubah cara melangkah. Jangan ragu untuk beristirahat jika merasa tidak stabil atau terlalu lelah.
Di beberapa gunung seperti Rinjani, Semeru, dan Lawu, kontur turun memiliki jalur sempit dengan sisi jurang yang dekat.
Dalam kondisi seperti ini, disarankan turun satu per satu dan tetap menjaga jarak antar pendaki.
Jika salah satu terpeleset, dampaknya bisa fatal bagi seluruh rombongan.
Pendaki Pemula Perlu Latihan Dasar
Tidak sedikit pendaki pemula yang menganggap turun gunung sebagai fase santai setelah mencapai puncak.
Padahal, secara medis, tekanan pada tubuh saat menurun bisa dua kali lebih besar.
Lutut, pergelangan kaki, dan jari-jari kaki menanggung beban dari berat badan dan gravitasi.
Pendaki pemula perlu membiasakan diri latihan teknik turun di medan miring seperti bukit atau jalur latihan ringan.
Latihan ini bisa meningkatkan kestabilan, kontrol pernapasan, serta kemampuan membaca jalur.
Jika memungkinkan, ikut pelatihan dasar mendaki atau gabung dalam komunitas agar lebih siap secara mental dan teknis.
Jangan Abaikan Waktu Turun
Kesalahan lain yang kerap terjadi adalah salah perhitungan waktu turun. Banyak pendaki yang turun terlalu sore dan terjebak di jalur saat hari mulai gelap.
Turun dalam kondisi minim cahaya tanpa penerangan yang memadai sangat berisiko.
Oleh karena itu, pastikan estimasi waktu turun sudah diperhitungkan sejak awal pendakian.
Selalu sediakan senter atau headlamp meskipun jadwal turun masih siang. Kondisi cuaca bisa berubah, dan kabut tebal sering membuat jarak pandang menurun drastis.
Selain itu, pastikan tubuh tetap terhidrasi dan asupan energi cukup selama proses turun.
Jalur ekstrem rawan jatuh bisa dicegah jika pendaki memahami teknik dasar turun yang benar, mengenali medan, dan tidak meremehkan kondisi tubuh.
Dengan persiapan matang dan sikap waspada, risiko kecelakaan bisa diminimalisir.
Editor : Amalia Rizky Indah Permadani