Trenggaleknjenggelek - Di banyak kota besar Indonesia, jalan kaki bisa jadi petualangan menegangkan. Apa penyebab utamanya?
Meski terdengar sederhana dan sehat, jalan kaki di Indonesia nyatanya bukan aktivitas yang bisa dianggap remeh.
Pada kota-kota yang mengaku menuju “smart city” atau “kota hijau”, infrastruktur pejalan kaki justru seringkali absen dari perhatian. Ironis? Tentu saja. Mengkhawatirkan? Lebih dari itu.
Di negara lain, kota ramah pejalan identik dengan jalur pedestrian yang lebar, pohon rindang, udara bersih, dan lampu lintas yang bersahabat.
Di Indonesia? Jalan kaki lebih terasa seperti olahraga ekstrem versi gratis. Berjalan di trotoar bisa menguji refleks menghindari lubang, parkiran liar, atau pedagang kaki lima dadakan.
Kalau sedang apes, bisa-bisa “disalip” motor yang nyasar ke trotoar, seolah aspal sudah terlalu mainstream.
Polusi udara menambah drama. Bukannya segar karena berjalan kaki, pejalan justru dapat bonus karbon monoksida dari knalpot angkot tua.
Kadang pejalan pun harus bersaing dengan kendaraan bermotor yang tak sabaran, bahkan di zebra cross sekalipun, yang fungsinya makin mirip dekorasi jalan ketimbang pelindung nyawa.
Mirisnya, infrastruktur pejalan kaki sering dianggap opsional. Di beberapa kota, proyek pembangunan malah mengorbankan ruang jalan kaki demi pelebaran jalur mobil.
Akhirnya, masyarakat dipaksa "berdamai" dengan risiko, sebuah kompromi yang terlalu mahal untuk sebuah hak dasar bernama keamanan.
Padahal, kota ramah pejalan bukan hanya simbol kota maju, melainkan kebutuhan dasar agar warga bisa beraktivitas dengan aman, sehat, dan manusiawi.
Jalan kaki seharusnya tak perlu jadi taruhan hidup. Dan sampai pemerintah benar-benar menata ulang prioritas pembangunan kotanya, saran terbaik bagi para pejalan di Indonesia hanya satu: berdoa sebelum melangkah. (sun)