Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Fenomena Marriage is Scary, Gen Z Indonesia Kian Takut Menikah: Ada Apa?

Eka Putri Wahyuni • Kamis, 25 September 2025 | 01:45 WIB
Istilah Marriage is Scary jadi cerminan rasa takut Gen Z menghadapi pernikahan.
Istilah Marriage is Scary jadi cerminan rasa takut Gen Z menghadapi pernikahan.

TRENGGALEK– Belakangan, media sosial Indonesia diramaikan dengan ungkapan Marriage is Scary yang berarti.

Istilah Marriage is Scary bukan sekadar kata-kata tren, melainkan cerminan nyata rasa khawatir generasi muda, khususnya Gen Z, terhadap institusi pernikahan.

Istilah Marriage is Scary semakin banyak dipertanyakan anak muda, apakah pernikahan masih relevan di tengah maraknya berita tentang kekerasan, ketidaksetiaan, dan ketimpangan peran dalam rumah tangga.

Maraknya Isu Perselingkuhan dan KDRT

Ketakutan terbesar lahir dari meningkatnya kasus perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang marak diperbincangkan di media dan dunia nyata.

Hampir setiap minggu, publik disuguhi berita pasangan yang berselingkuh, bahkan tak jarang terjadi di rumah tangga publik figur yang sebelumnya terlihat harmonis.

Di sisi lain, kasus KDRT juga semakin banyak terungkap, baik melalui laporan resmi maupun pengakuan korban di media sosial.

Fenomena ini menimbulkan persepsi bahwa pernikahan bukan lagi ruang aman untuk saling melindungi, melainkan dapat berubah menjadi sumber trauma fisik dan emosional.

Ketika cerita kekerasan domestik tersebar luas, kepercayaan pada pernikahan pun terkikis.

Bagi Gen Z yang hidup di era keterbukaan informasi, satu kasus viral dapat memengaruhi pandangan banyak orang, mempertebal anggapan bahwa risiko membina rumah tangga terlalu besar dibanding manfaatnya.

Ketakutan ini membuat banyak anak muda lebih memilih hidup mandiri daripada menghadapi kemungkinan menjadi korban kekerasan atau pengkhianatan.

Budaya Patriarki yang Masih Mengakar

Selain itu, budaya patriarki masih menjadi persoalan yang membuat banyak perempuan ragu untuk menikah.

Ketimpangan gender yang sudah lama mengakar menjadikan perempuan sering memikul beban ganda.

Mengurus rumah tangga sekaligus bekerja, sementara sebagian laki-laki masih enggan berbagi peran secara adil.

Tidak sedikit pula laki-laki yang menolak tanggung jawab penuh, baik dalam hal finansial maupun emosional.

Kesadaran akan pentingnya hubungan yang setara juga membuat Gen Z lebih kritis.

Mereka menilai hubungan pernikahan ideal seharusnya dibangun atas dasar kemitraan, bukan dominasi satu pihak.

Ketika realitas yang terlihat di masyarakat tidak sesuai dengan harapan itu, wajar bila muncul rasa enggan untuk melangkah ke pelaminan.

Tekanan Ekonomi dan Ketidakpastian Hidup

Di luar kekerasan, perselingkuhan, dan patriarki, faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan besar.

Biaya hidup yang terus meningkat, harga rumah yang melambung, dan ketidakpastian karier membuat banyak anak muda merasa belum siap menanggung beban finansial yang menyertai pernikahan.

Ketakutan akan kesulitan ekonomi ini kian terasa di kota besar, di mana biaya kebutuhan dasar jauh lebih tinggi.

Trauma Keluarga dan Pengalaman Masa Lalu

Tak sedikit pula Gen Z yang membawa trauma dari keluarga. Menyaksikan perceraian, pertengkaran berkepanjangan, atau kekerasan antara orang tua meninggalkan jejak mendalam.

Banyak yang menulis di media sosial bagaimana pengalaman masa kecil membentuk rasa takut terhadap pernikahan.

Bagi mereka, langkah menikah bukan sekadar formalitas, tetapi keputusan yang memerlukan keyakinan besar untuk tidak mengulangi pola menyakitkan yang pernah mereka lihat.

Gaya Hidup dan Prioritas yang Bergeser

Perubahan gaya hidup juga memperkuat fenomena Marriage is Scary. Generasi muda semakin menekankan kebebasan pribadi, pendidikan, karier, dan pengembangan diri.

Banyak yang merasa bahagia dengan pilihan hidup sendiri, mengejar passion, atau menekuni hobi tanpa harus terikat komitmen pernikahan.

Pandangan bahwa kebahagiaan bisa diraih tanpa menikah menjadi bagian dari cara hidup baru yang kian diterima. Bahkan, beberapa warganet menunjukkan preferensi terhadap bentuk hubungan alternatif.

Konsep seperti living apart together atau memilih relasi nonformal muncul sebagai opsi yang dianggap lebih fleksibel dibanding ikatan pernikahan tradisional.

Kebebasan mengatur hidup tanpa aturan rumah tangga yang kaku semakin menarik bagi sebagian anak muda.

Tren menunda pernikahan kini bukan hanya pilihan individual, tetapi menjadi pola yang terlihat luas.

Di media sosial, banyak cerita tentang pasangan yang memilih hubungan jangka panjang tanpa label pernikahan, menandai cara pandang baru terhadap komitmen.

Lebih penting lagi, masyarakat perlu menumbuhkan kesadaran kesetaraan gender dan memberantas kekerasan dalam rumah tangga.

Perlindungan hukum yang tegas bagi korban KDRT, edukasi tentang persetujuan dan batasan dalam hubungan, serta pembagian peran yang adil di rumah tangga dapat memulihkan kepercayaan pada institusi pernikahan.

Hanya dengan perubahan budaya yang mendasar, keputusan menikah dapat lahir dari rasa siap dan kesadaran, bukan dari tekanan sosial atau ketakutan. (*)

 

 

 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#pernikahan #Marriage is Scary