TRENGGALEK - Fenomena fast fashion kini menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup modern, terutama di kalangan anak muda yang ingin selalu tampil trendi tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Setiap minggu, bahkan setiap hari, media sosial dan toko online dipenuhi dengan koleksi baru yang memancing keinginan untuk membeli.
Harga yang murah, model yang kekinian, dan kemudahan berbelanja membuat banyak orang tergoda untuk terus menambah isi lemari mereka.
Namun di balik tampilan yang menarik dan praktis, fast fashion menyimpan bahaya besar bagi lingkungan yang jarang disadari masyarakat.
Secara sederhana, fast fashion adalah sistem produksi pakaian dalam jumlah besar yang dibuat dengan cepat mengikuti tren yang sedang populer.
Model yang viral hari ini bisa langsung diproduksi massal dan dijual dalam hitungan minggu.
Kecepatan inilah yang membuat pakaian menjadi barang konsumsi sekali pakai.
Banyak orang membeli pakaian hanya untuk mengikuti tren sesaat, kemudian membuangnya ketika gaya baru muncul.
Siklus cepat ini menciptakan budaya konsumtif yang sangat merugikan bumi.
Dampak fast fashion terhadap lingkungan sangat serius.
Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB melalui United Nations Environment Programme, industri mode menyumbang sekitar 8 hingga 10 persen emisi karbon dunia.
Llebih tinggi dari gabungan industri penerbangan dan pelayaran.
Selain itu, produksi tekstil menyerap sekitar 93 miliar meter kubik air setiap tahunnya, setara dengan kebutuhan air lebih dari lima juta orang.
Proses pewarnaan kain juga melepaskan limbah beracun yang mencemari sungai dan laut di berbagai negara penghasil tekstil.
Di Bangladesh dan India, misalnya, banyak sungai berubah warna karena limbah pewarna pakaian dari pabrik, menyebabkan ikan mati dan air tak lagi layak digunakan masyarakat sekitar.
Bahan yang digunakan dalam fast fashion pun memperparah keadaan.
Sebagian besar pakaian murah terbuat dari serat sintetis seperti poliester, nilon, atau akrilik yang berbahan dasar plastik.
Setiap kali dicuci, bahan ini melepaskan mikroplastik ke air, yang kemudian mengalir ke laut dan termakan oleh biota laut.
Mikroplastik tersebut akhirnya bisa masuk ke rantai makanan manusia.
Bayangkan, pakaian yang kita kenakan hari ini bisa menjadi penyebab kerusakan ekosistem laut di masa depan.
Sayangnya, budaya konsumsi cepat ini semakin dikuatkan oleh media sosial.
Influencer dan platform digital sering kali mempromosikan tren berpakaian baru setiap minggu, mendorong generasi muda untuk terus membeli pakaian agar tetap dianggap up to date.
Tak sedikit pula yang membeli hanya untuk kebutuhan foto atau konten, lalu membiarkannya menumpuk di lemari.
Padahal, setiap pakaian yang dibeli memiliki jejak karbon yang tidak kecil, mulai dari proses pembuatan hingga distribusinya.
Meski demikian, bukan berarti perubahan tidak mungkin dilakukan.
Langkah kecil dari setiap individu dapat membawa dampak signifikan.
Salah satunya adalah beralih ke gaya hidup berpakaian berkelanjutan atau sustainable fashion.
Artinya, pembelian pakaian dilakukan secara selektif, memilih produk yang tahan lama, serta mendukung merek lokal yang memproduksi pakaian secara etis dan ramah lingkungan.
Usia pakaian juga dapat diperpanjang dengan perawatan yang baik, memperbaiki yang rusak, atau mendaur ulang menjadi barang baru.
Alih-alih menumpuk pakaian baru, pakaian layak pakai dapat disalurkan melalui donasi sosial sehingga tetap memberikan manfaat.
Pada akhirnya, fast fashion memang memberikan kemudahan dan kesenangan sesaat, tetapi dampaknya terhadap bumi jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Setiap kali kita membeli baju baru tanpa kebutuhan mendesak, kita sebenarnya turut menyumbang pada peningkatan limbah tekstil dan pencemaran global.
Dengan memilih untuk membeli secara bijak, merawat pakaian lebih lama, dan mengurangi perilaku konsumtif, kita bisa menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.
Editor : Didin Cahya Firmansyah
Sumber : DIOLAH