TRENGGALEK - Pada 15 Oktober 2025, dunia maya dikejutkan dengan kabar kematian Timothy Anugrah Saputra (TAS), mahasiswa Universitas Udayana (Unud) berusia 22 tahun, yang ditemukan tewas setelah terjatuh dari lantai dua Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Denpasar, Bali.
Peristiwa ini memunculkan dugaan bahwa TAS menjadi korban perundungan atau ullying oleh sesama mahasiswa, yang kemudian menjadi bahan ejekan di media sosial.
Kasus ini menyoroti betapa pentingnya empati dalam berinteraksi di dunia maya.
Mengapa Empati Digital Itu Penting?
Empati digital adalah kemampuan untuk merasakan, memahami, dan menghormati orang lain dalam interaksi daring.
Dalam dunia maya, kita sering kali berkomunikasi tanpa melihat ekspresi wajah atau bahasa tubuh lawan bicara, sehingga mudah untuk salah paham atau bahkan menyakiti perasaan orang lain tanpa sengaja.
Oleh karena itu, empati digital sangat penting untuk menciptakan komunikasi yang sehat dan mencegah terjadinya perundungan.
Cara Menerapkan Empati di Dunia Maya
Empati digital adalah kemampuan untuk memahami, menghargai, dan merespons perasaan orang lain dalam interaksi online. Berikut langkah praktis untuk menerapkannya:
1. Hargai Perasaan Orang Lain
Sebelum mengirim komentar, pesan, atau membagikan sesuatu di media sosial, pertimbangkan dampaknya.
Tanyakan pada diri sendiri apakah kata-kata yang ditulis bisa menyakiti perasaan orang lain.
Gunakan bahasa yang sopan, ramah, dan penuh pengertian.
Hindari ejekan, sarkasme, atau komentar yang bisa disalahpahami tanpa konteks.
Ingat bahwa setiap orang memiliki pengalaman dan kondisi emosional yang berbeda, sehingga hal yang tampak ringan bagi kita bisa terasa berat bagi orang lain.
2. Dengarkan dengan Seksama
Dengarkan dengan sungguh pesan atau curhatan orang lain di dunia maya.
Jangan cepat menilai atau memberikan solusi karena terkadang mereka hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.
Balas dengan kata-kata yang menunjukkan perhatian, misalnya dengan mengatakan bahwa kita mengerti perasaan mereka atau siap menjadi teman bicara.
Membaca antara baris juga penting, karena nada dan ekspresi sulit ditangkap secara online.
3. Berikan Dukungan Positif
Komentar atau respon yang membangun dapat berdampak besar pada mental seseorang.
Alih-alih ikut menyebarkan ejekan atau gosip, berikan motivasi dan dukungan.
Gunakan reaksi positif seperti emoji, like, atau kata penyemangat untuk mengekspresikan dukungan.
Ingat bahwa satu komentar positif bisa meningkatkan semangat orang yang sedang mengalami tekanan psikologis.
4. Laporkan Konten Negatif
Melindungi diri sendiri dan orang lain dari bullying digital sangat penting.
Jika menemukan konten yang mengandung perundungan, pelecehan, atau ujaran kebencian, segera laporkan ke platform terkait.
Jangan ikut menyebarkan atau membagikan konten negatif tersebut karena hal ini bisa memperburuk dampaknya.
Melaporkan konten negatif merupakan bentuk nyata empati terhadap korban.
5. Kendalikan Emosi Saat Online
Dunia maya sering memicu reaksi emosional yang cepat.
Jangan membalas komentar negatif dengan kemarahan.
Ambil jeda sejenak sebelum menulis balasan.
Gunakan bahasa netral dan hindari menyudutkan lawan bicara agar komunikasi tetap sehat dan tidak memicu konflik.
6. Edukasi Diri dan Orang Lain
Empati digital juga berarti sadar akan literasi digital dan menyebarkan kesadaran pada orang lain.
Ikuti pelatihan literasi digital dan kampanye anti bullying online.
Ajak teman dan keluarga untuk memahami pentingnya komunikasi yang sehat dan bagikan artikel, video, atau informasi yang menekankan pentingnya empati di dunia maya.
Baca Juga: Gen Z Lebih Pilih Konten Media Sosial daripada Artikel Panjang? Ini Alasannya!
7. Jadilah Teladan di Dunia Maya
Perilaku positif bisa menular. Selalu praktikkan empati dalam setiap interaksi online.
Berikan contoh perilaku baik dengan menanggapi komentar secara sopan, tidak ikut menyebarkan rumor, dan mendukung mereka yang sedang kesulitan.
Dengan menjadi teladan, kita ikut membentuk budaya digital yang sehat, aman, dan ramah bagi semua pengguna.
8. Pahami Batasan dan Privasi
Empati digital juga berarti menghargai privasi orang lain.
Jangan menyebarkan informasi pribadi atau foto tanpa izin.
Hormati batasan orang lain dalam berbagi cerita atau pengalaman di dunia maya dan hargai keputusan mereka untuk tidak merespons atau membatasi interaksi.
Editor : Didin Cahya Firmansyah